Perusahaan Agrikultur Raksasa Rusia Incar Investor dari Asia

Saat ini Kuban Agricultural Holding tengah bernegosiasi dengan investor dari Tiongkok dan Arab. Foto: Mikhail Klimentiev/RIA Novosti

Saat ini Kuban Agricultural Holding tengah bernegosiasi dengan investor dari Tiongkok dan Arab. Foto: Mikhail Klimentiev/RIA Novosti

Perang sanksi dengan Barat membuat para petani Rusia terpaksa mencari investor baru di Asia. Kuban Agricultural Holding, anak perusahaan Basic Element milik miliarder Rusia Oleg Deripaska, sedang mempertimbangkan untuk menjual sejumlah sahamnya pada investor Asia, termasuk perusahaan investasi CIC milik Tiongkok yang tertarik pada divisi peternakan Basic Element.

Direktur Pelaksana Divisi Agrikultur Basic Element Andrei Oleinik menjelaskan, saat ini Kuban Agricultural Holding tengah bernegosiasi dengan investor dari Tiongkok dan Arab terkait penawaran saham perusahaan, salah satunya dengan perusahaan investasi Tiongkok CIC (China Investment Corporation), demikian diberitakan Kommersant.

Oleinik menolak menyebutkan saham mana yang akan diperdagangkan. Ia hanya memastikan bahwa saham yang dijual tidak lebih besar dari saham mayoritas. Kommersant belum berhasil mendapatkan keterangan dari CIC.

Menurut Oleinik, para investor diperkirakan akan menyuntikkan dana lebih dari 200 juta dolar AS untuk Kuban. Angka tersebut terdiri dari biaya pembelian paket saham dan dana tambahan untuk pengembangan perusahaan. "Ini bertujuan meningkatkan volume produksi kami di berbagai lini, di antaranya proyek pengolahan kedelai, riset dan pengembangan produksi benih, pengembangan proyek transfer embrio ternak, dan lain-lain," terang Oleinik. Namun, Kuban tidak berencana melakukan ekpansi wilayah bisnis. Mereka hanya akan beroperasi di wilayah Krasnodar.

Kuban mewadahi seluruh aset agrikultur Basic Element, termasuk kompleks produksi daging, 11 peternakan susu, dua kompleks peternakan babi, gudang gandum, pabrik produksi benih, pabrik gula Svoboda, serta peternakan kuda Voskhod. Pada 2014, laba bersih Kuban meningkat 49 persen menjadi 1,1 miliar rubel, sementara pendapatan kotornya meningkat sembilan persen menjadi 7,3 miliar rubel.

Oleinik menerangkan, sama seperti perusahaan-perusahaan Rusia lainnya, perusahaan kini intensif bernegosiasi dengan para investor dari Asia karena tertutupnya akses ke pasar modal Barat dan perusahaan tak bisa meminjam uang dari dalam negeri. Tahun ini, Kuban bahkan telah menurunkan target volume investasi dari rencana awal sebesar 3,2 miliar menjadi 1,7 miliar rubel akibat kenaikan suku bunga dan tak tersedianya layanan pendanaan. Akibatnya, sejumlah proyek terbengkalai dan perusahaan hanya bisa fokus menjalankan proyek-proyek utama, yakni proyek modernisasi pabrik gula dan peningkatan kapasitas produksi benih. Perusahaan hendak meningkatkan volume investasi pabrik gula dari 563 juta rubel pada tahun ini menjadi 925 juta rubel pada 2018. Sementara pabrik benih Ladoga hendak meningkatkan kapasitas investasinya dari 91 juta rubel pada tahun ini menjadi 157 juta rubel pada 2017.

Kepala Perusahaan Soyuzmoloko Andrei Danilenko juga mengakui bahwa investor dari Tiongkok, Jepang, dan Singapura tertarik pada pasar agrikultur Rusia, namun sejauh ini belum ada kesepakatan akhir yang telah dicapai. Menurut Danilenko, investor yang tertarik bukan hanya berasal dari Tiongkok, tapi juga Singapura. "Kemitraan semacam ini sangat menguntungkan dan menarik perhatian pabrik-pabrik Rusia, terutama mereka yang belum melakukan IPO (penawaran saham publik perdana)," kata Danilenko.

Salah satu pendiri perusahaan Molvest yang menjabat sebagai Wakil Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma), Arkady Ponomaryov, menyebutkan bahwa CIC pun sedang melakukan negosiasi dengan perusahannya, namun belum mencapai kesepakatan akhir.

"Mereka biasanya ingin membeli aset yang hampir bangkrut dan menguasainya. Namun di Voronezh, mereka tidak melihat pabrik diambang kehancuran, karena pabrik masih berjalan denga baik. Sejauh yang saya tahu, belum ada kontak serius dengan mereka lagi sejak saat itu," kata Ponomaryov.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.

Baca selanjutnya: Cabut Larangan Impor, Produk Hasil Laut Indonesia Bisa Kembali Masuk Pasar Rusia >>>

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.