Pemerintah Rusia Prediksi Terjadi Resesi Tahun Depan

Kementerian Keuangan Rusia menyatakan untuk sementara mereka mendukung prediksi penurunan ekonomi sebesar 0,8 persen pada 2015. Foto: Getty Images/Fotobank

Kementerian Keuangan Rusia menyatakan untuk sementara mereka mendukung prediksi penurunan ekonomi sebesar 0,8 persen pada 2015. Foto: Getty Images/Fotobank

Sejumlah tantangan ekonomi tengah menghantam perekonomian Rusia, dari jatuhnya pendapatan ekspor minyak hingga sanksi dari Barat. Pemerintah Rusia memperkirakan mereka akan memasuki resesi pada tahun 2015.

Perekonomian Rusia menerima pukulan keras dalam beberapa bulan terakhir, ketika harga minyak—yang merupakan komoditi ekspor utama Rusia dan separuh pendapatan pajak pemerintah—merosot hingga titik terendah dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, angka inflasi naik 9,1 persen pada bulan November dan nilai mata uang rubel anjlok, sehingga warga Rusia harus membayar lebih mahal untuk membeli barang impor.

Wakil Menteri Ekonomi Rusia Alexei Vedev memprediksi pertumbuhan ekonomi Rusia mungkin akan menyusut hingga sekitar 0,8 persen pada 2015. Sebelumnya, Kementerian Ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 1,2 persen.

“Sebagian besar indikator ekonomi makro untuk perekonomian negara akan semakin parah selama tiga kuartal ke depan dan akan memburuk saat kita memasuki musim panas berikutnya,” tulis Chris Weafer, seorang mitra senior di Macro Advisory yang berbasis di Moskow dalam sebuah catatan yang dipublikasikan pada situs resmi firma tersebut. “Hal yang bisa menjadi bahan perdebatan lain adalah mengenai apakah akan ada perbaikan yang berarti dimusim gugur berikutnya.”

Dalam sebuah pidato yang berapi-api pada Kamis (4/12), Presiden Rusia Vladimir Putin menanggapi tantangan yang menghadang perekonomian Rusia dan menawarkan sebuah solusi. Ia berjanji akan mengurangi inspeksi intrusif pemerintah terhadap usaha kecil, menentukan libur pajak selama dua tahun bagi usaha kecil baru, serta memberikan amnesti penuh bagi warga Rusia yang membawa masuk kembali modal dari luar negeri.

“Masa mendatang akan rumit dan sulit,” kata Putin. “Kita harus lepas dari jebakan pertumbuhan nol persen dan mencapai pertumbuhan global di atas rata-rata dalam waktu tiga hingga empat tahun ke depan,” kata sang presiden. Putin juga menegaskan bahwa pemerintah harus bekerja keras mencegah para spekulan mata uang menekan rubel.

Akan tetapi, Putin menekankan bahwa melemahnya rubel akan membuat barang-barang Rusia lebih kompetitif dan mengimbau produsen Rusia memanfaatkan kesempatan untuk merebut pangsa pasar pesaing asing selama beberapa tahun ke depan.

Minyak dan Resesi

Kementerian Keuangan Rusia menyatakan untuk sementara mereka mendukung prediksi penurunan ekonomi sebesar 0,8 persen pada 2015. Namun skenario tersebut terjadi hanya jika rata-rata harga minyak mencapai 80 dolar AS per barel. Penurunan ini bisa mengalami percepatan hingga 3,5 persen atau empat persen jika harga minyak rata-rata mencapai 60 persen per barel.

Harga minyak mentah jatuh hingga di bawah 70 dolar AS per barel pada Desember untuk pertama kalinya sejak 2010. Hal tersebut dikarenakan OPEC memutuskan untuk tidak mengurangi produksi, sementara produksi minyak serpih di AS terus mengalami peningkatan.

Rusia, yang merupakan pengeskpor energi terbesar dunia, tengah memompa minyak mentah mendekati rekornya yang melebihi 10 juta barel sehari. Menurut Departemen Informasi Energi Amerika Serikat, minyak dan gas alam memberi 68 persen dari total ekspor Rusia pada 2013.

Sementara, produsen energi Rusia masuk dalam daftar perusahaan yang sudah tidak diperbolehkan meminjam dana dari pasar Barat karena sanksi yang diberikan Amerika Serikat dan Eropa.

Kenaikan Harga

Pialang saham UralSIb yang berbasis di Moskow menilai inflasi mungkin mencapai 9,8 persen pada akhir 2014 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan mencapai puncaknya dengan “pertumbuhan dua digit” pada kuartal pertama tahun 2015. “Inflasi akan meningkat menajam seiring anjloknya nilai rubel. Harga-harga biasanya naik selama tiga hingga empat bulan setelah terjadinya goncangan nilai tukar,” tulis analis UralSib, Alexei Devyatogv dan Olga Sterina, dalam sebuah catatan untuk investor pada Jumat (5/12).

Rubel telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya terhadap dolar tahun ini dan menyusutkan daya beli warga Rusia. Namun, jatuhnya rubel juga mengurangi kerugian akibat harga minyak yang rendah, karena dengan demikian perusahaan energi Rusia dan pemerintah akan mendapatkan lebih banyak rubel dari setiap dolar penjualan minyak asing.

Ingin mendapatkan berita terkini tentang perkembangan perekonomian Rusia? Berlanggananlah dengan newsletter kami. >>>

Artikel Terkait

Nilai Rubel Merosot Drastis, Apple Hentikan Penjualan Online di Rusia

Dewan Keamanan Rusia Rancang Proposal untuk Stabilkan Nilai Rubel

Rubel Terus Melemah, Maskapai Terbesar Ketiga di Rusia Terancam Bangkrut

Nilai Rubel Terpuruk, Warga Rusia Prioritaskan Konsumsi Makanan dan Kurangi Wisata Luar Negeri

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.