Nilai Tukar Rubel Anjlok Hingga Seperempat, Terburuk Sepanjang Sejarah

Bank Sentral Rusia. Foto: AP

Bank Sentral Rusia. Foto: AP

Nilai rubel Rusia terhadap dolar AS dan euro turun drastis. Pada perdagangan Senin (15/12), nilai rubel turun sebesar sembilan persen terhadap mata uang asing. Esoknya, (16/12) nilai mata uang tersebut jatuh melebihi 24 persen, mencapai rekor baru dalam sejarah mata uang Rusia itu. Menanggapi hal ini, Bank Sentral Rusia meningkatkan biaya kredit secara tajam bagi perusahaan dan perseorangan.

Setelah mengalami penurunan, nilai rubel kemudian kembali naik sebesar 15 persen. Pengamat meyakini volatilitas rubel yang mendadak tersebut diakibatkan oleh aksi spekulan. "Pada jam-jam pertama perdagangan, kita melihat rubel menguat cepat dan kemudian jatuh dengan intensitas yang praktis sama," kata analis FINAM Anton Soroko. "Ada beberapa faktor yang memengaruhi dinamika penurunan mata uang Rusia itu. Sejumlah besar modal spekulatif di pasar menyebabkan pergerakan rubel labil. Hal ini bukan disebabkan oleh faktor fundamental," terang Soroko.

Secara khusus, tak ada mata uang negara penghasil minyak lain yang jatuh secepat rubel. Sekretaris Kepresidenan Rusia Dmitri Peskov menilai jatuhnya nilai rubel secara signifikan dipengaruhi oleh reaksi emosional dan spekulatif.

Faktor Utama

Wakil Direktur Jenderal Divisi Organisasi Kredit FinExpertiza Natalya Borzova berpendapat nilai tukar rubel akan ditentukan oleh pasar dan faktor-faktor politik untuk waktu yang cukup panjang. "Situasi ini merupakan respons langsung terhadap perubahan arah politik dan tindakan Bank Sentral yang menolak untuk menyokong rubel," kata Borzova. “Kini kita tak mungkin menilai masa depan rubel secara obyektif, karena kepercayaan terhadap mata uang ini sudah hancur.”

Sementara, kepala analis UFS IC Alexei Kozlov menilai penurunan tajam rubel baru-baru ini dipengaruhi oleh arus modal yang keluar dari Rusia,. Hal tersebut menciptakan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan di pasar yang menyebabkan jatuhnya nilai mata uang Rusia. Kozlov berpendapat, masa depan rubel akan bergantung pada banyak faktor, termasuk tindakan Bank Sentral dan pemerintah yang dipercaya akan melakukan segala cara untuk menstabilkan nilai rubel. Secara khusus, nilai mata uang Rusia mulai naik setelah Igor Sechin, CEO Rosneft (perusahaan minyak terbesar Rusia), mengatakan bahwa perusahaannya akan mendukung rubel dan tidak akan membeli dolar di pasar.

Para ahli mengatakan bahwa faktor fundamental lain yang menyebabkan anjloknya nilai rubel adalah jatuhnya harga minyak dan prediksi negatif terkait hal itu. Secara khusus, dalam perdagangan di London pada Selasa (16/12), harga satu barel minyak Brent Laut Utara turun lebih dari dua persen dibanding saat pembukaan pada hari yang sama. Perdagangan berlangsung dengan harga terendah 58,84 dolar AS per barel sebelum naik menjadi 59,02 dolar AS.

Sebelumnya, pada Minggu (14/12), Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazroui menyatakan bahwa OPEC tidak akan menurunkan jumlah produksi minyaknya, bahkan jika harga minyak jatuh ke 40 dolar AS per barel.

Tingkatkan Suku Bunga Bank

Menanggapi penurunan drastis nilai rubel, pada Selasa dini hari, Bank Sentral terpaksa meningkatkan suku bunga bank resmi 10,5 menjadi 17 persen. Angka ini menentukan nilai uang di dalam negeri dan menjadi titik acuan bagi bank yang memberikan kredit bagi perusahaan dan perseorangan. Biaya kredit diyakini tidak akan lebih rendah dari angka tersebut.

Peningkatan suku bunga sebesar 6,5 persen merupakan rekor dalam sejarah Rusia modern. Terakhir kali Bank Sentral menaikan suku bunga adalah pada (11/12), dari 9,5 persen menjadi  10,5 persen. Pengamat berpendapat bahwa kenaikan suku bunga resmi dapat membuat kredit menjadi lebih mahal bagi baik perusahaan maumpun individu. "Ini adalah keputusan penting dan semestinya dapat mendinginkan emosi di pasar mata uang," jelas Soroko. "Namun, suku bunga sebaiknya tidak berada pada level ini untuk jangka waktu panjang karena akan mengakibatkan penurunan tajam dalam aktivitas bisnis Rusia." Menurut Soroko, hal ini akan berdampak pada masyarakat, karena kredit konsumsi akan menjadi lebih mahal. Sementara, perusahaan akan kesulitan melakukan pembiayaan kegiatan operasi dan investasi.

Sementara, Kozlov menilai kenaikan suku bunga bank resmi akan memengaruhi berbagai segmen pasar. “Saat ini prioritas Rusia adalah menstabilkan nilai rubel. Jika kita melihat keputusan Bank Sentral dengan sudut pandang ini, maka kenaikan suku bunga resmi tentu akan mendukung rubel," kata Kozlov. Anton Soroko menambahkan, setelah situasi di pasar mata uang stabil, sekuritas murah perusahaan Rusia akan dapat menarik arus masuk investasi ke Rusia.

Ingin tahu bagaimana pandangan Rusia terhadap perkembangan ekonomi dunia? Baca lebih lanjut. >>>

Artikel Terkait

Nilai Rubel Merosot Drastis, Apple Hentikan Penjualan Online di Rusia

Hadapi Sanksi, Rusia Menanggung Kerugian Puluhan Miliar Dolar AS

Rusia Berencana Terapkan Penggunaan Rubel dan Yuan untuk Semua Transaksi, Gantikan Dolar

Strategi Rubel Mengambang Lindungi Rusia dari Inflasi

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.