Ukraina Ambil Alih Kuasa Pipa Gas Transneft Rusia Sepanjang 1.400 Kilometer

Hal ini membuat perselisihan terkait pasokan batu bara Rusia ke Ukraina pun semakin panas. Foto: TASS

Hal ini membuat perselisihan terkait pasokan batu bara Rusia ke Ukraina pun semakin panas. Foto: TASS

Operator saluran pipa Rusia Transneft baru-baru ini kehilangan kuasa atas saluran pipa sepanjang 1.400 kilometer yang melalui Ukraina. Hal ini membuat perselisihan terkait pasokan batu bara Rusia ke Ukraina pun kian memanas.

Pengadilan Banding Komersial Rivne di Ukraina bagian barat baru-baru ini memutuskan untuk menasionalisasi saluran pipa sepanjang 1.400 kilometer milik operator saluran pipa Rusia Transneft yang melewati Ukraina. Hal ini membuat perselisihan terkait pasokan batu bara Rusia ke Ukraina pun semakin panas. Para ahli Rusia berpendapat meski bermanuver untuk merampas saluran pipa, Ukraina akan tetap bergantung pada Rusia dalam hal pasokan energi.

“Ini adalah perselisihan yang sudah lama hadir di antara kedua negara, yang dasarnya merupakan perbedaan pandangan terkait bisnis saluran pipa peninggalan Uni Soviet serta beberapa isu hukum yang belum selesai dalam relasi antara kedua negara,” kata Dmitry Baranov, seorang ahli terkemuka di Finam Management. Menurut Baranov hal ini merupakan perselisihan komersial dan perlu diselesaikan secara ekonomi. “Ini sama sekali bukan satu-satunya sengketa ekonomi antara Rusia dan Ukraina. Di samping konflik saluran pipa ini, percekcokan terkait pasokan batu bara Rusia ke Ukraina juga semakin panas,” tambah Baranov.  

Perebutan Minyak

Kantor Jaksa Agung Ukraina menetapkan bahwa banyak bagian dari saluran pipa produk minyak bumi telah secara ilegal didaftarkan atas nama anak perusahaan Transneft. Pada Maret 2011, Pengadilan Banding Komersial Rivne membenarkan hak Ukraina atas pipa tersebut, tetapi kemudian putusan itu berhasil dibanding di proses peradilan berikutnya. Akhirnya, Transneft berhasil kembali merebut kuasa atas saluran pipa itu. Namun demikian, perusahaan Rusia itu mulai mengurangi pasokan melalui saluran pipa tersebut setelah terjadinya krisis Ukraina. Menurut Transneft, pihaknya mengurangi pasokan solar ke Hungaria melalui Ukraina hingga setengahnya, dan memangkas pasokan ke Ukraina sendiri sebanyak 900 persen. “Sejauh yang saya tangkap, mereka belum menyelesaikan seluruh proses peradilan dan proses mungkin berlanjut. Dengan kata lain, aset tersebut mungkin masih bisa dikembalikan ke perusahaan Rusia,” kata Baranov.

Juru bicara Transneft menganggap putusan pengadilan Ukraina tidak sah. Perusahaan itu mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi bahwa pihaknya akan mengajukan banding atas putusan itu pada proses peradilan berikutnya. Menurut perusahaan investasi Finam, putusan itu tidak berpengaruh pada harga saham Transneft. Bahkan, pada Jumat (28/11) lalu saham Transneft menjadi salah satu yang tumbuh paling tinggi di Bursa Moskow, dengan harga yang naik sebesar 6,43 persen. Selain itu, Duta Besar Rusia untuk Uni Eropa Vladimir Chizhov mengatakan pada saluran televisi Rossiya bahwa Transneft memiliki peluang bagus untuk mengajukan banding atas putusan itu di peradilan internasional.

Sengketa Batu Bara

Perselisihan mengenai saluran pipa Transneft bukanlah satu-satunya konflik kepentingan antara perusahaan Rusia dan Ukraina baru-baru ini. Pada akhir November, pemerintah Ukraina mengutip informasi dari DTEK, perusahaan milik oligarki Ukraina, Rinat Akhmetov, dan perusahaan negara Centrenergo. Mereka menyatakan bahwa Ukraina tidak menerima pasokan batu bara dari Rusia sejak Sabtu (22/11). Pada Senin (1/12), Menteri Industri Energi dan Batubara Ukraina Yuriy Prodan mengatakan pada kantor berita TASS bahwa Rusia telah memulihkan sebagian pengiriman batu bara ke Ukraina. Pada pertengahan November, pemerintah Ukraina mengakui ketergantungan negara pada batu bara Rusia selama musim dingin. Mereka mengakui itu setelah pasokan batu bara Afrika Selatan dipertanyakan karena harganya yang terlalu tinggi. Kekurangan batu bara Ukraina diperkirakan mencapai satu juta ton per bulan.

“Situasi pasokan batu bara sangat membingungkan sehingga tidak mungkin membuat kesimpulan yang pasti,” kata Baranov dari Finam. Selanjutnya, menurut harian Kommersant, perusahaan energi Ukraina masih membicarakan untuk membeli batu bara dari pecahan mereka, Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk.

Terdapat dua alasan di balik kekurangan batu bara Ukraina yakni penghentian pasokan gas Rusia pada 16 Juni dan penutupan banyak tambang di Donbass karena situasi perang yang terjadi di sana. Ukraina kembali mendapat kesempatan untuk membeli gas pada akhir Oktober, ketika mereka mencapai kesepakatan dengan perusahaan gas raksasa Rusia Gazprom untuk membayar sebagian utang mereka dengan ditukar pasokan gas.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.