Hadapi Krisis, Rusia Akan Pertahankan Prinsip-prinsip Dasar Ekonomi

Presiden Vladimir Putin menghadiri Forum Investasi Russia Calling yang diselenggarakan oleh VTB Capital  di World Trade Center di Moskow, 2 Oktober 2014. Foto: Alexei Druzhinin/RIA Novosti

Presiden Vladimir Putin menghadiri Forum Investasi Russia Calling yang diselenggarakan oleh VTB Capital di World Trade Center di Moskow, 2 Oktober 2014. Foto: Alexei Druzhinin/RIA Novosti

Vladimir Putin menyatakan Rusia akan melanjutkan usaha peningkatan kerja sama dengan negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan), tetapi tetap berupaya menjaga hubungan dengan Uni Eropa.

Rusia akan tetap melanjutkan usaha perluasan kerja sama mereka dengan negara anggota BRICS, namun bersamaan dengan itu Rusia terus berupaya menjaga hubungannya dengan Uni Eropa. Hal tersebut disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidatonya di Forum Investasi Russia Calling yang dilaksanakan di Moskow. Menanggapi hal tersebut, para menteri berpendapat tugas utama Rusia saat ini adalah menjaga stabilitas laju inflasi sehubungan larangan impor bahan pangan dari Uni Eropa dan AS ke Rusia.

Dalam Forum Investasi Russia Calling yang diselenggarakan oleh VTB Capital pada Kamis (2/10) di Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin menjabarkan arah utama pembangunan ekonomi Rusia. “Kami berbagi prinsip-prinsip WTO, yang tampaknya berbeda dengan beberapa perintis organisasi tersebut. Kami akan berusaha agar Rusia dapat tumbuh sebagai pasar ekonomi yang terbuka dan kami akan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi Rusia secara berkelanjutan. Pembatasan-pembatasan eksternal hanya memperkuat kebulatan tekad kami,” ujar Putin.

Putin menyampaikan bahwa dasar tindakan pemerintah Rusia tersebut ialah kebijakan keseimbangan anggaran negara. Peristiwa-peristiwa yang terjadi tahun ini meyakinkan petinggi Rusia bahwa mereka telah berada di jalan yang benar. Secara khusus, Rusia akan tetap mematuhi aturan anggaran yang menetapkan kelebihan keuntungan dari penjualan minyak mentah akan ditempatkan ke anggaran dana khusus, yakni anggaran dana cadangan negara (Reserve Fund of the Russian Federation) dan anggaran dana kesejahteraan nasional (Russian National Wealth Fund). Jumlah total anggaran dana tersebut sudah melebihi sembilan persen PDB Rusia.

Arah Utama Kebijakan Ekonomi Rusia

Putin mengakui bahwa inflasi di Rusia telah melewati batasan toleransi yang direncanakan, dengan mencapai angka 7,6 persen. Hal tersebut disebabkan terutama oleh peningkatan harga bahan pangan di Rusia. Peningkatan itu sendiri merupakan dampak dari larangan impor bahan pangan dari negara-negara, yang memberlakukan sanksi terhadap Rusia sehubungan situasi di Ukraina. Akan tetapi, Presiden Rusia tersebut mengingatkan bahwa inflasi moneter Rusia masih berada pada angka lima persen. “Kami tidak melakukan penambahan beban pajak dan tidak berencana membatasi pergerakan arus modal. Faktor-faktor fundamental yang menjamin stabilitas perekonomian Rusia adalah anggaran nondefisit, keseimbangan neraca pembayaran, dan peralihan Bank Sentral Rusia ke kurs rubel mengambang (floating exchange rate),” ungkap Putin.

Kepala negara Rusia tersebut juga mengatakan dalam waktu dekat Rusia berencana memperdalam hubungannya dengan negara-negara Amerika Latin dan negara anggota BRICS. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut, pada 2014 ini Rusia telah menandatangani kontrak penyediaan gas untuk Tiongkok dengan nilai yang fantastis. Putin menilai pembangunan infrastruktur pendukung proyek raksasa tersebut akan menjadi salah satu infrastruktur paling penting di dunia.

Dalam hubungan kerja dengan mitra-mitra esensial, perusahaan-perusahaan Rusia berencana akan beralih ke transaksi bisnis menggunakan valuta nasional masing-masing. Sebagai contoh, perusahaan Gazprom Neft telah melakukan transaksi pengiriman minyak mentah ke Tiongkok dengan menggunakan mata uang rubel. Seperti yang diungkapkan Putin, Rusia akan menstimulasi proses penggabungan regional, namun akan tetap mempertahankan hubungan kerjanya dalam lingkup WTO dan hubungan kerja sama dengan para mitra dagang besar mereka, yakni Uni Eropa.

Tanpa Batasan

Dalam forum Russia Calling, Kepala Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina mengungkapkan bahwa perlambatan perekonomian Rusia bersifat struktural, sedangkan ekspektasi inflasi yang tinggi menyebabkan kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, salah satu tugas utama Bank Sentral Rusia selanjutnya ialah melakukan penargetan inflasi dan menghentikan kenaikan harga. Nabiullina memperkirakan, pada 2014, inflasi Rusia akan mencapai kisaran delapan persen. Namun dalam beberapa tahun ke depan, inflasi tersebut rencananya akan ditekan hingga angka empat persen.

Herman Gref, Mantan Menteri Pengembangan Ekonomi Rusia yang kini menjadi CEO Sberbank, salah satu bank terbesar di Rusia, menyatakan ketidaksetujuannya dengan solusi-solusi yang ditawarkan oleh pemerintah. Gref mengatakan, penargetan inflasi dari Bank Sentral Rusia bukan langkah yang efektif, karena peningkatan harga riil secara signifikan lebih tinggi. Mantan menteri tersebut mengungkapkan masalah utama perekonomian Rusia adalah buruknya kualitas administrasi negara dan arus keluar modal ke luar negeri.

Herman Gref mendukung penghapusan larangan impor bahan pangan dari negara-negara pemberi sanksi kepada Rusia, serta kebijakan subtitusi impor yang dicanangkan oleh pemerintah. “Kita perlu meningkatkan kualitas administrasi negara secara radikal, serta memaksa perusahaan-perusahaan swasta untuk menjadi kompetitif. Namun sementara ini, hal tersebut tidak dapat dilakukan, karena setengah perekonomian kami sudah dimonopoli,” terang Kepala Sberbank tersebut.

Artikel Terkait

Putin: Pemberian Sanksi Anti-Rusia adalah Tindakan Omong Kosong yang Konyol

Putin: Krisis Ukraina Diciptakan Barat untuk ‘Bangkitkan’ NATO

Pemerintah Daerah di Italia Memprotes Pemberian Sanksi Uni Eropa untuk Rusia

Joe Biden: Eropa Beri Sanksi untuk Rusia atas Tekanan AS

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.