Mesir Beli Senjata Rusia Senilai 3,5 Miliar Dolar AS

Hubungan kerja sama Rusia di bidang persenjataan dengan Kairo ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama. Foto: Mikhail Metzel/RIA Novosti

Hubungan kerja sama Rusia di bidang persenjataan dengan Kairo ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama. Foto: Mikhail Metzel/RIA Novosti

Moskow dapat menjadi alternatif bagi Mesir untuk memperoleh bantuan di bidang kemiliteran, menggantikan AS.

Saat ini, peraturan negara AS melarang pemberian bantuan kemiliteran bagi negara-negara yang pernah mengalami pergantian kekuasaan secara paksa. Oleh karena itu, Mesir kini membeli pasokan senjata dari Rusia, dengan nilai mencapai lebih dari tiga miliar dolar AS.

Selang beberapa waktu setelah kunjungan para menteri Rusia ke Zimbabwe, yang berencana melakukan investasi lebih dari satu miliar dolar AS di bidang pertambangan negara tersebut, penandatanganan perjanjian pengiriman senjata antara Rusia-Mesir pun mulai diketahui publik.  Hubungan kerja sama Rusia di bidang persenjataan dengan Kairo ini sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, dan sesuai dengan perjanjian yang disepakati, Mesir akan melakukan pembelian senjata senilai 3,5 miliar dolar AS kepada Rusia, demikian dilaporkan kantor berita Reuters.

Sehubungan kerja sama Rusia dengan Mesir, pada 14 Februari lalu Moskow dan Kairo telah menandatangani perjanjian pengiriman senjata ke Mesir. Senjata yang dimaksud dalam kontrak tersebut adalah pesawat tempur, sistem pertahanan udara, helikopter Mi-35, berbagai jenis amunisi dan senjata ringan. Rusia akan juga mengirimkan 24 unit jet tempur MiG-29 dan sistem peluncur rudal Buk-M2 dan Top M2 untuk Mesir.

Kerja sama Rusia-Mesir dalam bidang pasokan senjata diungkapkan oleh Kepala Layanan Federal bidang Kerja Sama Kemiliteran Rusia Aleksander Fomin dalam pidatonya pada Pameran Senjata Africa Aerospace and Defense2014 di Afrika Selatan. Namun, Fomin menolak menyebutkan detail lain mengenai kerja sama tersebut.

Saat ini, Rusia merupakan negara pengekspor senjata terbesar kedua di dunia. Kepala Rosoboroneksport (agen perantara ekspor-impor senjata milik negara Rusia) Anatoly Isaykin mengatakan, nilai portofolio yang dimiliki perusahaannya saat ini tetap menunjukkan angka yang tinggi, meski pemberian sanksi Barat kepada Rusia akibat krisis di Ukraina telah diberlakukan, tulis kantor berita Rusia Interfax. “Sekarang ini kami memiliki portofolio senilai 38,7 miliar dolar AS. Itu merupakan salah satu nilai portofolio terbesar Rosoboroneksport dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Kepala Layanan Federal tersebut dalam konferensi pers pembukaan pameran senjata di Afrika Selatan.

Isaykin juga menyebutkan bahwa selama periode 2013-2014, Rosoboroneskport telah mendapatkan kontrak senilai 1,7 miliar dolar AS dengan beberapa negara di Afrika Sub-Sahara. “Saat ini kami sedang mempertimbangkan lebih dari 60 proposal dari negara-negara tersebut. Di sini, kami memiliki perspektif yang bagus dalam meningkatkan nilai portofolio kami, terutama di wilayah Afrika Selatan. Kinerja perusahaan kami terus tumbuh dengan stabil,” kata Isyakin.

Pada musim gugur tahun lalu, AS mengumumkan pengurangan bantuan kepada Mesir sebesar 1,5 miliar dolar AS per tahun, termasuk bantuan bidang kemiliteran senilai 1,3 miliar dolar AS di dalamnya. Keputusan pemerintah AS tersebut dibuat berdasarkan aturan dalam undang-undang AS yang melarang pemberian bantuan untuk negara-negara yang pernah mengalami revolusi kepemimpinan. Namun, setelah pemilihan umum di Mesir dilakukan dan Abdul Fattah as-Sisi terpilih menjadi presiden yang baru, AS pun langsung mencairkan dana bantuan kemiliteran mereka untuk Kairo senilai lebih dari 575 juta dolar AS.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Newsru.com.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.