Rusia Cari Substitusi Teknologi AS dan Uni Eropa

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev saat diwawancarai oleh saluran TV Rossiya-24 di Expo Center, Olympic Park Sochi, 20 September 2014. Foto: Alexander Astafyev/RIA Novosti

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev saat diwawancarai oleh saluran TV Rossiya-24 di Expo Center, Olympic Park Sochi, 20 September 2014. Foto: Alexander Astafyev/RIA Novosti

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev telah mengeluarkan instruksi bagi seluruh wakil perdagangan Rusia di luar negeri untuk mencari pemasok teknologi baru selain Amerika Serikat dan Uni Eropa. Rusia juga akan memberi bantuan dana pengembangan industri sebagai dukungan bagi usaha menengah yang ingin mendapatkan pembiayaan pra-bank. Rusia telah mengalokasikan sekitar 480 juta dolar AS untuk tujuan tersebut.

"Dengan keberadaan sanksi, kita harus bisa memanfaatkan situasi untuk menemukan peluang baru. Kami terpaksa melakukan langkah antisipasi dan perlindungan seperti ini akibat situasi yang diciptakan oleh pihak Barat,” ujar Medvedev di Sochi Investment Forum.

Medvedev menjelaskan, pemberian sanksi membuat Rusia harus mencari cara untuk menciptakan dan mengembangkan teknologi sendiri serta mencari pasokan alternatif di luar negeri. Menurut Medvedev, perusahaan Rusia sendiri cukup mampu mengembangkan teknologi di dalam negeri. Untuk membantu perkembangan teknologi dalam negeri, Rusia akan membentuk Badan Bantuan Dana Pengembangan Industri bagi usaha menengah di Rusia yang tertarik mendapatkan pembiayaan pra-bank. Rusia akan mengalokasikan sekitar 18 miliar rubel (470 juta dolar AS) untuk tujuan ini. “Selalu ada kesempatan yang menguntungkan dari masalah dan kesulitan yang kami hadapi, dan kami harus memanfaatkan kesempatan ini," ujar Medvedev.

Tak Ada Perusahaan yang ‘Aman’

Sanksi baru terhadap Rusia yang diumumkan oleh Amerika Serikat pada Minggu (14/9) lalu—menyusul Uni Eropa—ditujukan pada perusahaan minyak milik negara Rosneft dan Gazprom Neft serta perusahaan minyak swasta Lukoil dan Surgutneftegaz. Departemen Keuangan AS menjelaskan bahwa sanksi tersebut mencakup larangan ekspor teknologi dan layanan untuk mendukung eksplorasi atau produksi minyak pada proyek laut dalam (deepwater), lepas pantai Arktik, serta serpih (shale) Rusia, yang memiliki “potensi untuk menghasilkan minyak”. Sanksi AS dan Uni Eropa membatasi akses perusahaan tersebut untuk melakukan pengiriman serta re-ekspor barang, jasa, serta teknologi untuk memproduksi minyak lepas pantai dan serpih.

“Tujuan utama sanksi terbaru yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat ialah menunjukkan bahwa tidak ada perusahaan yang ‘aman’ dari ancaman sanksi. Sebelumnya, sanksi hanya dijatuhkan pada perusahaan dan bank yang berafiliasi erat dengan pemerintah, namun kini sanksi terbaru diterapkan pada perusahaan swasta juga,” kata analis FINAM Anton Soroko. Ini menunjukkan bahwa larangan baru ini justru bertentangan dengan posisi resmi negara-negara Barat, yang hendak menggunakan sanksi sebagai senjata untuk melawan kebijakan Rusia. “Sanksi seharusnya memengaruhi negara, bukan perusahaan swasta,” Soroko menegaskan.

Kepala analis UFS IC Ilya Balakirev menjelaskan bahwa selama ini Lukoil selalu menjadi teladan bagi bisnis swasta Rusia dengan status perusahaan bebas yang besar, rendahnya keterlibatan perusahaan dalam politik, transparansi yang tinggi, negara tidak memegang saham sama sekali, dan lain-lain. Pada saat yang sama, perusahaan ini sedang mengembangkan ladang lepas pantai di Laut Kaspia dan telah mengumumkan sejumlah proyek bersama beberapa perusahaan Eropa untuk mengumpulkan cadangan minyak. “Lukoil mungkin harus meninggalkan proyek-proyek ini. Namun, volume produksi proyek tersebut sangat kecil dibanding volume produksi minyak perusahaan tersebut, " ujar Ilya.

Besaran Dampak Sanksi

Menurut para ahli, Rosneft menjadi perusahaan yang paling terdampak oleh kebijakan larangan ekspor teknologi. Perusahaan ini menguasai 44 lot lepas pantai dengan cadangan 42 miliar ton produk setara minyak. Rosneft telah beroperasi pada 23 lot tersebut. Pada 2011, Rosneft menandatangani perjanjian dengan ExxonMobil mengenai produksi minyak di Laut Kara dan Laut Hitam. Menurut Bloomberg, ExxonMobil mungkin akan menangguhkan eksplorasi di sumur Universitetskaya-1 di Laut Kara. Dalam hal ini, Rosneft harus mengompensasi perusahaan AS tersebut untuk dana yang sudah dihabiskan bagi eksplorasi, yang mencapai hingga 3,2 miliar dolar AS.

Sementara itu, jumlah total cadangan yang ditemukan Lukoil di Laut Kaspia ialah sekitar 630 juta ton setara minyak. Pada 2014, perusahaan ini telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan minyak Prancis Total.

Anton Soroko menerangkan bahwa sanksi baru yang diberikan ini hanya mencakup kontrak baru dan tidak berlaku jika perjanjian kerangka kerja telah ditandatangani sebelumnya. Jadi, menurut Soroko sanksi ini bukan mencabut teknologi yang digunakan oleh perusahaan Rusia, karena pembatasan tidak berlaku untuk perjanjian yang ditandatangani sebelumnya. “Perusahaan minyak dan gas Rusia berada dalam posisi sedikit lebih baik dibanding perusahaan di sektor lain. Hal ini terutama disebabkan fakta bahwa ekspor energi Rusia sangat penting bagi Barat, sehingga mereka tidak berani menerapkan sanksi yang membatasi operasi perusahaan saat ini,” Soroko menyimpulkan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.