Sanksi Barat Tingkatkan Perindustrian Domestik Rusia

Industri yang menunjukan perkembangan paling positif di Rusia saat ini adalah perusahaan metalurgi dan produksi mesin. Foto: Shutterstock

Industri yang menunjukan perkembangan paling positif di Rusia saat ini adalah perusahaan metalurgi dan produksi mesin. Foto: Shutterstock

Meski PDB Rusia mengalami stagnasi, aktivitas perindustrian Rusia justru meningkat secara signifikan.

Para pengamat ahli berpendapat hal tersebut berhubungan dengan hal-hal yang terjadi tahun ini, yakni devaluasi rubel dan dukungan yang diberikan oleh pemerintah untuk menggiatkan industri domestik, dalam rangka menjalankan program subtitusi impor. Program tersebut didorong oleh sanksi-sanksi dari Uni Eropa dan Amerika untuk Rusia.

Menurut penelitian Bank HSBC dan Institut Politik Ekonomi Egor Gaydar, bulan ini merupakan bulan ketiga perindustrian di Rusia mencatatkan pergerakan positif. “Industri Rusia saat ini sudah berhasil memenuhi permintaan pasar yang ada. Terlepas dari situasi ekonomi umum dan perkiraan para pengamat ahli, industri Rusia justru menunjukkan pergerakan yang positif,” demikian tertulis dalam hasil penelitian Gaydar.

Mesin dan Metalurgi, Industri Paling Berkembang

Industri yang menunjukan perkembangan paling positif di Rusia saat ini adalah perusahaan metalurgi dan produksi mesin. Kedua bidang industri tersebut berhasil mendapatkan pangsa pasar tambahan, setelah adanya larangan impor barang serupa dari Ukraina. Industri pangan Rusia juga mengalami hal serupa di pasar domestik pada Agustus lalu. Hal itu terjadi karena adanya larangan impor bahan pangan yang diterapkan baru-baru ini. Berdasarkan data dari pengamat ahli, sejak Juni lalu program subtitusi impor ini belum bisa diterapkan. Pertumbuhan industri Rusia terjadi berkat imbas peristiwa selama Februari-Maret lalu, yakni devaluasi skala kecil pada mata uang rubel pada awal tahun ini.

Kepala pengamat perusahaan investasi UFS Aleksey Kozlov mengatakan bahwa pertumbuhan dunia industri Rusia akhir bulan lalu disebabkan oleh beberapa hal. “Pertama adalah peningkatan permintaan atas produksi metalurgi, untuk menggantikan produk kiriman Ukraina. Permintaaan komoditas logam dan produk metalurgi lain berkaitan juga dengan realisasi proyek pembangunan jalur pipa gas, antara lain jalur pipa Yuzhniy Potok (South Stream) ke Eropa dan Sila Sibiri (Power of Siberia) ke Tiongkok. Kedua adalah meningkatnya kebutuhan pemerintah dalam bidang persenjataan militer. Sementara penyebab ketiga adalah pertumbuhan industri pangan dan agrikultur terkait kebutuhan impor subtitusi,” terang Kozlov.

Sementara kepala divisi analisa perusahaan investasi RUSS-INVEST Dmitry Bedenkov menyebutkan pertumbuhan industri Rusia disebabkan oleh pertumbuhan industri pengolahan barang tambang. “Dalam tujuh bulan terakhir tahun ini, pertumbuhan di sektor tersebut mencapai 2,6 persen, lebih besar dibanding industri tambang yang hanya tumbuh 0,8 persen,” kata sang pengamat.

Sedangkan analis dari Investment Holdings FINAM Anton Soroko mengatakan, penyebab utama pertumbuhan di bidang pengolahan barang tambang adalah devaluasi rubel yang terjadi awal tahun ini dan pertumbuhan permintaan dari Tiongkok. “Para pelaku industri pangan Rusia juga mendapat keuntungan berlimpah akibat penurunan tajam penawaran produk impor sejenis, yang sebelumnya berhasil mengungguli produsen domestik di semua kriteria,” papar Soroko.

Pertumbuhan Stabil

Indeks produksi industri Rusia pada Januari-Juli 2014 adalah 101,5 persen, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Kepala Pusat Penelitian Ekonomi Makro Universitas RAPERA Olga Izryadnova menyatakan pertumbuhan lebih mencolok terlihat di bidang pengolahan barang tambang Rusia. Izryadnova mengatakan produksi barang konsumsi publik dalam kurun waktu tersebut tumbuh sebesar 3,3 persen, gerbong penumpang naik sebesar 5,7 persen, dan gerbong barang sebesar 12,7 persen. Industri tekstil dan pakaian tumbuh sebesar enam persen, sedangkan industri komponen elektronik alat komunikasi tumbuh 17,6 persen.

Namun tidak semua sektor ekonomi Rusia ikut tumbuh. Ada pula sektor yang tertinggal yang menghambat pertumbuhan PDB Rusia pada semester kedua 2014 ini, yakni bidang jasa dan finansial. Kozlov menerangkan, penarikan lisensi milik bank-bank Rusia secara massal, ketidakstabilan mata uang rubel, serta pertumbuhan resiko konflik geopolitik membawa imbas negatif pada kegiatan lembaga keuangan Rusia. Izryadnova juga mengatakan bahwa penurunan volume kebutuhan hidrokarbon di Rusia pun memberi dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Rusia. “Dampak negatif terhadap indikator ekonomi secara umum disebabkan oleh jatuhnya tempo ekspor bahan bakar konvensional dan produk turunannya, serta penurunan tajam kegiatan bisnis di bidang investasi properti,” kata Izryadnova. Adapun sepanjang Januari-Juli, industri mobil ringan turun sebanyak 0,7 persen, sementara industri kendaraan angkut dan berat mengalami penurunan sebesar 21,1 persen.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.