Hadapi Sanksi Barat, Peluang Kerja Sama Rusia-Indonesia Terbuka Lebar

Dengan adanya sanksi dan larangan ekspor Rusia, peluang kerja sama perdagangan dan investasi Rusia, khususnya dengan wilayah timur Asia Pasifik termasuk Indonesia, terbuka lebih lebar. Foto: Shintya Felicitas/RBTH Indonesia

Dengan adanya sanksi dan larangan ekspor Rusia, peluang kerja sama perdagangan dan investasi Rusia, khususnya dengan wilayah timur Asia Pasifik termasuk Indonesia, terbuka lebih lebar. Foto: Shintya Felicitas/RBTH Indonesia

Sebagai reaksi atas sanksi yang dijatuhkan Barat bagi Rusia awal Agustus lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan dekrit yang melarang atau membatasi impor produk peternakan, pertanian, bahan mentah, dan makanan dari negara pemberi sanksi ke Rusia. Embargo tersebut berlaku untuk jangka waktu satu tahun.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin menilai Rusia tidak punya pilihan lain selain membalas sanksi dengan larangan impor produk agriklutur dan makanan dari AS, Uni Eropa, Norwegia, dan Australia. Jumlah produk agrikultur yang diekspor Eropa ke Rusia mencapai 12 miliar dolar per tahun.

“Tidak ada pihak yang diuntungkan dengan aksi berbalas sanksi ini. Kini, mereka kehilangan pasar Rusia. Saya mendapat informasi dari media Jerman bahwa akhir-akhir ini pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman menurun karena sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia. Industri  Jerman sadar, tidak ada permintaan pasar yang konsisten selain dari Rusia," kata Galuzin.

Galuzin berpendapat dampak larangan ekspor tersebut bagi Rusia tidak semenyakitkan apa yang dirasakan Eropa, karena Rusia bisa mengganti produk-produk yang biasa diimpor dari Barat dengan produk domestik Rusia, atau mengimpor dari negara lain seperti Amerika Latin, Tiongkok, India, dan negara Eropa yang tidak ikut menjatuhkan sanksi pada Rusia. "Indonesia juga bisa menjadi sumber tambahan produk makanan impor bagi Rusia," kata Galuzin.

Rusia berharap embargo produk agrikultur membuat Barat mengambil langkah lebih bijaksana dalam masalah ini. “Jika demikian, tentu kami bisa menghentikan larangan impor dan hubungan ekonomi bisa kembali berjalan lancar," jelas Galuzin. Namun, Galuzin mengingatkan bahwa kini kepercayaan Rusia terhadap Barat tidak lagi sama. "Kepercayaan Rusia terhadap Barat tidak akan pernah sama lagi, karena Barat telah memilih untuk menjatuhkan sanksi pada kami,” kata Galuzin.

Di sisi lain, Rusia dan Indonesia tidak memiliki krisis kepercayaan semacam itu, “Kami percaya pada Indonesia yang tidak pernah memberikan sanksi pada Rusia, malah Indonesia pernah menjadi korban sanksi Barat. Kami harap Indonesia juga bisa percaya pada Rusia, karena Rusia tidak pernah menjatuhkan sanksi pada Indonesia,” tutur Galuzin.

Peluang Kerja Sama Terbuka Lebar

Galuzin menilai dengan adanya sanksi dan larangan ekspor Rusia, peluang kerja sama perdagangan dan investasi Rusia, khususnya dengan wilayah timur Asia Pasifik termasuk Indonesia, terbuka lebih lebar. "Saya pikir para pebisnis dari kedua negara cukup cerdas dalam memanfaatkan peluang ini," kata Galuzin.

Galuzin bercerita, pada Kamis (21/8) telah berlangsung rapat-rapat kelompok kerja Rusia-Indonesia di bidang industri perdagangan dan investasi untuk pertama kalinya di Moskow. Rapat ini membahas prospek kerja sama perdagangan, industri, dan investasi antarnegara di masa mendatang. "Ini merupakan langkah yang sangat penting. Kini kami juga akan meluncurkan kelompok kerja lain, seperti kelompok kerja bidang transportasi, energi, dan lain-lain," tutur Galuzin.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.