British Petroleum Khawatir Sanksi bagi Rusia Rugikan Perusahaan

CEO British Petroleum Bob Dudley (kanan) dan CEO Rosneft Igor Sechin. Foto: Reuters

CEO British Petroleum Bob Dudley (kanan) dan CEO Rosneft Igor Sechin. Foto: Reuters

Perusahaan minyak Inggris British Petroleum (BP) yang merupakan pemilik saham swasta terbesar perusahaan minyak Rusia Rosneft khawatir sanksi AS bagi Rusia akan berdampak terhadap bisnis mereka. Saat ini BP belum mengalami masalah apapun, namun lingkup pembatasan ekonomi bagi Rusia telah memengaruhi salah satu aset bersama BP yakni kilang minyak Ruhr Oel di Jerman, yang dimiliki BP bersama Rosneft.

Perusahaan yang memiliki 19,75 persen saham di Rosneft tersebut menilai sanksi yang diberikan pada perusahaan Rusia dapat merugikan bisnis mereka. “Jika sanksi internasional lebih lanjut diberikan kepada Rosneft atau Rusia, bisa jadi kami akan ikut menghadapi kerugian material,” tulis BP dalam laporan keuangan triwulan kedua mereka. Sanksi yang diberikan pada Rusia telah berdampak terhadap kilang minyak Ruhr Oel di Jerman, yang kepemilikannya dipegang oleh BP dan Rosneft masing-masing 50 persen. Namun, pihak BP mengklaim hal tersebut tidak berdampak signifikan.

BP dan Rosneft tidak memiliki proyek bersama selain Ruhr Oel. Namun, pada akhir Mei lalu Rosneft dan BP baru saja menandatangani kesepakatan untuk mengerjakan proyek Deposit Domanik di daerah Volga-Ural. Mereka berencana melakukan joint venture dengan perusahaan milik pemerintah Rusia yang berwenang di sana. Namun, perwakilan BP menolak untuk mengomentari kelanjutan proyek tersebut.

Perusahaan Inggris ini sudah mulai mengalami masalah pengembangan bisnis di Rusia sejak musim semi kemarin, ketika bank HSBC dan Lloyd menolak berpartisipasi dalam transaksi suplai produk minyak secara prabayar yang disepakati dengan Rosneft pada 2013. Namun, BP berhasil mendapatkan pendanaan dari bank lain. Pada akhir Juni, mereka pun menandatangani kontrak dengan Rosneft.

Batas Aman

Presiden BP Bob Dudley menyatakan bisnis perusahaannya di Rusia tidak terpengaruh oleh sanksi yang melarang Rusia meminjam dana dari AS. “Rosneft memiliki cadangan dana yang besar setelah menandatangani kerja sama pasokan minyak dengan Tiongkok,” ujar Dudley seperti dikuti ITAR-TASS. Cadangan dana tersebut berupa kredit yang diberikan oleh CNPC yang dinegosiasikan Rosneft tahun lalu.

Selama 25 tahun ke depan, Rosneft akan menyuplai 360 juta ton minyak untuk Tiongkok dan mereka berhak menerima pembayaran di muka senilai 67 miliar dolar AS. Rosneft baru menerima 10 miliar dolar AS dari jumlah tersebut. Seorang narasumber menjelaskan pada Kommersant bahwa untuk saat ini Rosneft tidak berencana menambah jumlah pinjaman.

Bob Dudley juga tidak melihat ada masalah bagi BP terkait keputusan pengadilan arbitrasi di Den Haag yang memenangkan tuntutan mantan pemegang saham Yukos terhadap Rusia. Pengadilan memutuskan bahwa perusahaan tersebut diambil alih dan mereka harus membayar kompensasi sebesar 50 miliar dolar AS. “Itu merupakan sengketa hukum antara pihak penuntut dengan Rusia,” ujar Dudley.

Group Menatep Limited yang mewakili kepentingan para mantan pemegang saham Yukos sudah bisa mulai menyita aset Rusia. Mereka tidak menampik kemungkinan akan mencoba menyita aset Rosneft, tetapi mereka menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki klaim apapun terhadap BP.

Yuri Nikolayev dari Kantor Hukum Nikolayev and Partners menilai BP tidak perlu takut atas penyitaan aset tersebut karena keputusan pengadilan arbitrasi hanya berlaku untuk aset yang secara langsung dimiliki oleh Rusia. Selain itu, Nikolayev juga menjelaskan bahwa Rusia akan mengajukan banding atas keputusan tersebut, dan penyitaan aset Rosneft akan sulit dilakukan dari sudut pandang teknis dan hukum.

Rosneft telah masuk ke dalam daftar sanksi sektoral yang dikenakan oleh Departemen Keuangan AS sejak pertengahan Juli lalu. Kommersant memberitakan, perusahaan tersebut dikenai pembatasan untuk mendapatkan kredit dari bank Amerika Serikat. Sejak bulan April, Presiden Rosneft Igor Sechin sudah dilarang masuk AS. 

Sumber-sumber Kommersant juga mengatakan bahwa ada kemungkinan Rosneft pun akan menghadapi masalah terkait peminjaman uang dari bank Eropa. Meski demikian, sanksi-sanksi ini jelas bukan yang terakhir. Uni Eropa juga telah memberikan sanksi sektoral untuk Rusia dan AS mungkin akan memperberat sanksi.

BP menjadi pemegang saham Rosneft sejak 2012. BP menukar kepemilikan 50 persen saham TNK-BP dengan 12,84 persen saham di perusahaan milik pemerintah Rusia tersebut dan 17,1 miliar dolar AS uang tunai. BP menggunakan 5,66 miliar dolar AS untuk membeli saham Rosneft dan mereka memiliki 19,75 persen saham perusahaan. Presiden BP Bob Dudley dipilih menjadi anggota Dewan Direksi Rosneft pada 2013.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.