Menteri Energi Rusia: Kita Semua Berada di Perahu yang Sama

Menteri Energi Rusia Alexander Novak: "Tanpa pasokan sumber daya energi dari Rusia, Eropa tidak akan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri." Foto: Sergei Kuksin/RG

Menteri Energi Rusia Alexander Novak: "Tanpa pasokan sumber daya energi dari Rusia, Eropa tidak akan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri." Foto: Sergei Kuksin/RG

Menteri Energi Rusia Alexander Novak bercerita tentang potensi pasar yang menarik investor Rusia serta langkah-langkah yang harus diambil untuk menyelesaikan krisis energi di Ukraina. Novak mengakui memburuknya hubungan Rusia dengan Barat membuat negeri Beruang Merah tersebut harus mencari pasar ekspor energi yang baru.

Delegasi Rusia baru saja mengakhiri kunjungan ke Tiongkok. Kunjungan tersebut membuahkan kontrak kerja sama pasokan gas Rusia ke pasar China. Apakah perjanjian tersebut merupakan imbas dari memburuknya hubungan antara Rusia dengan Barat?

Hubungan Rusia dengan Tiongkok tidak ada kaitannya dengan peristiwa di Eropa. Rusia telah memiliki hubungan yang stabil dengan Tiongkok sejak lama, bahkan ada banyak komite antarpemerintah, termasuk Komisi Energi. Banyak perjanjian ditandatangani selama kunjungan kami ke Tiongkok. Saya harap perjanjian-perjanjian tersebut akan menciptakan pengembangan hubungan bilateral lebih lanjut.

Apakah Anda merasa kerja sama antara Rusia dan Barat memburuk?

Tentu saja, pengusaha Amerika Serikat dan Eropa yang saat ini bekerja sama dengan Rusia harus menghadapi banyak tekanan. Tekanan tersebut bukan tekanan ekonomi, melainkan tekanan politik. Namun, perusahaan itu mengatakan tidak berarti mereka akan langsung menerapkan sanksi.

Menurut Anda, apakah ada pasar ekspor alternatif untuk pasokan gas Rusia yang seharusnya dikirim ke Eropa? Bagaimana janji AS untuk memasok gas ke Eropa akan memengaruhi hal ini?

Itu pernyataan yang tak berdasar. Tanpa pasokan sumber daya energi dari Rusia, Eropa tidak akan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Mereka hanya bisa mengurangi pasokan dari kami secara bertahap selama bertahun-tahun. Secara historis, Rusia kaya akan sumber daya alam, sedangkan Eropa sama sekali tidak. Selain itu, pada tahun 2020, total produksi gas di Eropa akan menurun 100 miliar meter kubik, atau sekitar 20 persen. Setiap penurunan dari pasokan kami secara signifikan akan meningkatkan harga gas itu sendiri.

Saat ini, AS tidak memiliki kelebihan gas, dan mereka juga tidak meluluskan undang-undang ekspor gas. Selain itu, ada risiko meningkatnya nilai domestik gas ketika gas secara aktif dikirimkan ke luar negeri. Setahu kami, sejauh ini baru dibuat keputusan mengenai pembangunan terminal untuk produksi gas cair sebanyak sembilan juta ton dan gas ini akan disalurkan untuk negara-negara Asia. Hampir tidak ada pihak, termasuk pemasok AS, yang siap untuk mensubsidi Eropa dalam hal harga gas. Ada pihak yang ingin mengurangi pangsa ekspor Rusia, tetapi dari sudut pandang ekonomi ini tidak mungkin terwujud, dan kami siap bersaing dalam segala hal.

Bagaimana negosiasi dengan pihak Ukraina?

Saat ini, proses negosiasi sedang berlangsung dengan Komisi Eropa, sedangkan Ukraina, sejak Maret, telah gagal melakukan pembayaran gas. Situasi masih tegang dan itu membuat kami khawatir terkait pembayaran utang dan jaminan pasokan gas ke seluruh Ukraina. Pada awal Mei, kami beralih ke sistem prabayar, tetapi masalah pembayaran utang harus diselesaikan bersama-sama dengan Uni Eropa, yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Ukraina, karena mereka mendukung perubahan politik di negara itu. Jika sampai musim panas volume gas yang diperlukan tidak dipompa ke fasilitas penyimpanan bawah tanah, pihak Ukraina bisa menyedotnya, bahkan jika gas itu hanya ditujukan untuk konsumen Eropa. Secara umum, posisi kami sangat jelas: pihak Ukraina memiliki kewajiban di bawah kontrak yang ditandatangani lima tahun lalu, dan mereka harus memenuhi kewajiban ini.

Dari sudut pandang diversifikasi pasokan, bagaimana prospek proyek South Stream? Akankah ini mengulang keberhasilan Nord Stream?

Proses ini sedang berlangsung. Gas pertama seharusnya tiba di Bulgaria paling lambat Desember 2015. Proyek ini sangat penting bagi negara-negara Balkan, mereka sendiri yang mengatakannya. Mereka akan diuntungkan oleh investasi yang bernilai miliaran, pendapatan pajak, dan biaya transit gas yang akan dibayar oleh Rusia. Tentu saja, negara-negara ini tertarik dengan pelaksanaan inisiatif serupa.

Seberapa kompetitif Rusia dalam hal pengembangan teknologi baru untuk eksplorasi sumber daya energi? Seberapa besar Rusia bergantung pada Barat dalam hal ini?

Kami cukup kompetitif. Anjungan Prirazlomnaya ditugaskan di Laut Pechora. Proyek ini mirip dengan anjungan Norwegia yang tidak dapat beroperasi di Arktik, namun ini unik karena cuaca di sana tidak bermasalah. Minyak pertama pun telah dikirim ke Rotterdam. Jadi kami siap mengembangkan teknologi untuk masa depan.

Jika kita berbicara tentang ketergantungan Rusia pada Barat, saya percaya bahwa sekarang kita semua berada pada perahu yang sama karena pasar dunia saling terjalin erat. Namun, masing-masing negara, termasuk Rusia, sedang mencari pilihan terbaik untuk peluang ekonomi dan persyaratan tender. Sebagai contoh proyek teknologi terobosan Rusia, Anda dapat melihat proyek anjungan lepas pantai Lukoil di Laut Kaspia, yang sedang dibangun di Astrakhan.

Terkait pengembangan teknologi baru, apakah proyek Yamal LNG bisa mencapai enam persen yang direncanakan dari pasar LPG, sehingga menyingkirkan Qatar dan Australia?

Yamal LNG adalah salah satu proyek prioritas kami. Selain Yamal, ada rencana untuk membangun pabrik gas alam cair di Vladivostok, Sakhalin, dan Leningrad. Tahap pertama pembangunan pabrik Yamal yang berkapasitas lima juta ton akan diperkenalkan pada Desember 2015, dan Rusia telah mengalokasikan dana untuk infrastruktur. Dengan demikian, pangsa Rusia di pasar LNG akan meningkat.

Yamal LNG sendiri akan meningkatkan hasil produksinya sebesar 15 juta ton LNG. Sekarang kami memproduksi 10 juta ton, sehingga kenaikan tersebut akan membuat produksi menjadi dua kali lipat. Saat proyek lain telah terlaksana, total produksi LNG akan mencapai 60 juta ton. Produksi ini akan dilaksanakan di banyak negara, antara lain di Tiongkok, India, dan Jepang.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.