Negosiasi Gas Rusia dan Ukraina Capai Kesepakatan

Menteri Energi Ukraina Yuri Prodan (kanan) berjalan melewati CEO Gazprom Alexei Miller setelah forum negosiasi energi antara Uni Eropa, Ukraina, dan Rusia dalam sidang Komisi Uni Eropa di Berlin 26 Mei 2014. Foto: Reuters

Menteri Energi Ukraina Yuri Prodan (kanan) berjalan melewati CEO Gazprom Alexei Miller setelah forum negosiasi energi antara Uni Eropa, Ukraina, dan Rusia dalam sidang Komisi Uni Eropa di Berlin 26 Mei 2014. Foto: Reuters

Ukraina akan membayar dua miliar dolar AS ke Rusia sebelum akhir pekan ini, demikian disampaikan Günther Oettinger, Komisioner Energi Uni Eropa, setelah perundingan selama lima jam di Berlin. Rumitnya, Rusia menganggap uang tersebut sebagai pembayaran utang, sementara Ukraina menganggap uang itu merupakan uang muka untuk pasokan gas di masa mendatang.

Menurut Komisioner Energi Eropa Gunther Oettinger, Naftogaz dari Ukraina siap mentransfer dua miliar dolar AS ke rekening Gazprom pada Kamis (29/5). Oettinger menjelaskan, semua pihak telah sepakat bahwa dengan pembayaran tersebut, negosiasi bisa berlanjut dan kedua belah pihak bisa mulai membahas harga untuk pasokan sumber daya energi mendatang. Negosiasi tersebut, menurut sang komisiaris, bertujuan mencapai kesepakatan harga gas pada akhir pekan ini. 

Selain itu, menurut sumber dari harian Rusia, Izvestia, pihak Ukraina berjanji mengirim tambahan 500 juta dolar AS paling lambat pada Sabtu (7/6). Setelah itu, kedua pihak dapat melanjutkan kembali negosiasi di meja perundingan.

Menurut Pavel Zavalny, Presiden Russian Gas Society (Lembaga Gas Rusia), jika Ukraina memenuhi janjinya dan melakukan pembayaran dalam beberapa hari ke depan maka Rusia akan menurunkan harga gas. Sebagai timbal balik, menurut laporan Izvestia yang sama dengan Gazprom, harga pasokan gas untuk Ukraina akan diturunkan dari 485 dolar AS per seribu meter kubik menjadi 380-390 dolar AS per seribu meter kubik.

CEO Gazprom Alexey Miller menyatakan bahwa pihak Ukraina telah sepakat membawa masalah ini sebagai bahan pertimbangan untuk pemerintah Ukraina agar mereka menyetujui pembayaran tersebut. “Setidaknya ini sesuatu yang berarti,” ujar Miller dalam sebuah wawancara dengan saluran TV Rusia 24.

Jumlah Utang

Menurut Gazprom, pada Minggu (1/6), Ukraina belum membayar sedikit pun utang lama mereka ataupun membuat deposito baru untuk pengiriman gas di masa mendatang. Ini berarti bahwa mulai Selasa (3/6), Ukraina tidak akan lagi menerima pasokan gas dari Rusia, dan Rusia hanya akan mengirim gas ke Eropa.

Pihak Ukraina juga tidak bersedia membayar utang 2,2 miliar dolar AS dari pasokan gas kuartal pertama 2014, ketika harga gas dipatok 268,50 dolar AS per seribu meter kubik.

Ukraina saat ini berutang lebih dari 3,5 miliar dolar AS untuk gas yang sudah dipasok oleh Rusia. Setelah Krimea bergabung dengan Rusia, Gazprom membatalkan harga diskon gas untuk Ukraina yang diberikan sebelumnya, dan mulai April lalu, harga gas meningkat menjadi 485 dolar AS per seribu meter kubik.

“Pihak Rusia terus bertahan pada posisi tidak konstruktif dan terus menuntut pembayaran tanpa syarat atas semua tagihan, termasuk tagihan dengan jumlah yang disengketakan. Naftogaz Ukraina sekali lagi menegaskan kesediaannya untuk melunasi tagihan yang belum dibayar, dan patuh pada tercapainya kompromi yang akan menjamin kelangsungan pasokan gas ke Ukraina,” demikian pernyataan resmi yang disiarkan oleh Naftogaz.

Namun, Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk yang ditunjuk oleh parlemen Ukraina (Verkhovnaya Rada), secara tak terduga mengaitkan pembayaran utang gas dengan status Krimea. Dalam pertemuan dengan pemerintah Ukraina, ia menyatakan Ukraina ingin Rusia membayar satu miliar dolar AS untuk dua miliar meter kubik gas yang dimiliki oleh perusahaan Krimea Chernomorneftegaz dan disimpan di fasilitas penyimpanan gas bawah tanah. Namun, menurut Gazprom, kapasitas fasilitas penyimpanan di Krimea dirancang untuk hanya 1,2 miliar meter kubik gas, dan hanya 768 juta meter kubik yang telah dipompa ke tempat-tempat penyimpanan. Selain itu, pembayaran utang gas tak ada hubungannya sama sekali dengan status Semenanjung Krimea.

Berdasarkan materi yang dipublikasikan oleh RBC Daily, RIA Novosti, Izvestia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.