Barat Gagal Boikot SPIEF 2014

Berbagai kontrak kerja sama berhasil ditandatangani antara perusahaan-perusahaan AS dan perusahaan-perusahaan Rusia, termasuk Rosneft. Foto: Anatoly Medved/RG

Berbagai kontrak kerja sama berhasil ditandatangani antara perusahaan-perusahaan AS dan perusahaan-perusahaan Rusia, termasuk Rosneft. Foto: Anatoly Medved/RG

Saint Petersburg baru-baru ini menjadi tuan rumah forum ekonomi terbesar di Rusia. Akibat sanksi AS, perusahaan-perusahaan Amerika hanya diwakili oleh para eksekutif eselon kedua dalam forum tersebut. Namun, mereka masih menandatangani kontrak dengan para pemain pasar Rusia, termasuk kerja sama dengan pemimpin perusahaan minyak Rosneft Igor Sechin, yang secara pribadi termasuk dalam daftar target sanksi AS.

Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg (SPIEF) merupakan ajang ekonomi internasional terbesar di Rusia, tempat para CEO dari perusahaan-perusahaan internasional dapat bertemu langsung dengan perwakilan pemerintah Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin.

Berdasarkan laporan New York Times, Administrasi Presidensial AS sebenarnya menyarankan para eksekutif AS untuk tidak menghadiri forum. Keputusan yang sama juga dibuat di Eropa. Namun, Ivan Fedotov, Wakil Rektor Akademi Presiden Rusia Perekonomian Nasional dan Administrasi Publik (RANEPA) menyatakan bahwa perusahaan yang dianjurkan tidak menghadiri forum tetap mengirim eksekutif jajaran keduanya, sehingga forum tersebut tetap dihadiri oleh banyak perwakilan dari mitra asing.

Secara khusus, Visa Inc. diwakili oleh Direktur Eksekutif untuk Eropa Tengah dan Timur, Timur Tengah, dan Afrika Kamran Siddiqi; PepsiCo oleh CEO PepsiCo Eropa Enderson Guimaraes; sementara ExxonMobil oleh Presiden ExxonMobil Exploration Company dan Wakil Presiden Exxon Mobil Stephen Greenle.

Analis Investcafe Timur Nigmatulin mengatakan SPIEF tetap menjadi wadah kunci yang mempertemukan pemerintah Rusia, perusahaan negara, dan perusahaan swasta, baik dari Rusia maupun luar negeri. “Usaha-usaha Barat untuk memboikot forum dengan melarang pebisnis mereka berpartisipasi dalam forum ternyata tidak berhasil,” terang Anton Soroko, seorang analis dari pengelola investasi terkenal FINAM. Menurut Soroko, forum tahun ini justru memecahkan rekor jumlah peserta. SPIEF 2014 dihadiri 6.500 orang, dan 1.500 di antaranya adalah perwakilan media.

Lahirkan Kerja Sama Penting

Kontrak-kontrak senilai lebih dari 150 miliar rubel ditandatangani di SPIEF, sebagian besar merupakan kerja sama yang melibatkan perusahaan negara. “Fokus pada kapitalisme negara tidak berubah dan lembaga pembangunan utama akan terus menerima dukungan. Sikap terhadap bisnis asing pun tetap sama seperti sebelumnya,” kata Agvan Mikaelyan, rekan pengelola di ACG FinExpertiza. Menurut Mikaelyan, pembatasan bagi perusahaan asing yang merupakan reaksi atas sanksi Barat kini mulai melonggar.

Mikaelyan berpendapat upaya Barat untuk menghalangi kesuksesan forum tidak efektif. Hal itu dapat dilihat dari jumlah perjanjian yang ditandatangani Rosneft, padahal pemimpin perusahaan tersebut, Igor Sechin, secara pribadi termasuk dalam daftar target sanksi AS. Kontrak Sechin dengan Mubadala Petroleum dari Uni Emirat Arab mencakup pengembangan bersama ladang minyak di Asia dan Afrika bagian tenggara.

Selain itu, Rosneft menandatangani perjanjian eksplorasi dan pengembangan kolaboratif ladang-ladang minyak, termasuk ladang minyak lepas pantai, dengan perusahaan dari Azerbaijan, Venezuela, India, dan Kuba. Rosneft dan ExxonMobil juga melakukan eksplorasi geologi di Laut Hitam. Biaya untuk proyek-proyek eksplorasi geologi tersebut mencapai 3,2 miliar dolar AS, yang sebagian besar dialokasikan untuk proyek dengan ExxonMobil. Sebelumnya, kedua perusahaan ini mengumumkan rencana mengembangkan tujuh daerah subsoil (tanah bawah) baru yang terletak di Arktik Rusia yakni Laut Chukchi, Laut Laptev, dan Laut Kara.

Hasil SPIEF yang tak kalah menarik adalah kesuksesan negosiasi Deputi Pertama Perdana Menteri Igor Shuvalov dan Menteri Keuangan Anton Siluanov dengan Visa dan MasterCard sehingga kedua sistem pembayaran tersebut memutuskan untuk tetap beroperasi di Rusia. Sebelum SPIEF, Visa dan MasterCard telah memblokir kartu yang diterbitkan oleh bank-bank yang termasuk dalam daftar target sanksi AS, yang merupakan titik perhatian bagi pihak berwenang Rusia. “Tuduhan berubah menjadi dialog yang konstruktif, yang menghasilkan solusi efektif untuk mengatasi perselisihan tersebut,” ujar Soroko.

Privatisasi aset negara juga merupakan sorotan dalam SPIEF kali ini, terutama perusahaan telekomunikasi Rostelecom yang bisa memulai proses privatisasi pada kuartal ketiga 2014. Sejumlah perusahaan asing mungkin akan mengambil bagian dalam proses privatisasi perusahaan tersebut.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.