Kerja Sama Rusia-Tiongkok Ubah Percaturan Dunia

Presiden Rusia Vladimir Putin bersulang dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping merayakan kesepakatan kerja sama antara Rusia-Tiongkok. Foto: ITAR-TASS

Presiden Rusia Vladimir Putin bersulang dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping merayakan kesepakatan kerja sama antara Rusia-Tiongkok. Foto: ITAR-TASS

Moskow dan Tiongkok baru saja menandatangani kontrak jual-beli gas senilai 400 miliar dolar AS untuk jangka waktu 30 tahun. Mereka juga merancang berbagai proyek besar lain, termasuk rencana mengembangkan sebuah pesawat pesaing Boeing dan Airbus. Perlu waktu sepuluh tahun untuk mencapai kesepakatan kerja sama ini, namun setiap menit yang bergulir sungguh sepadan dengan hasil yang dicapai.

Rencana kerja sama pasokan gas sudah dirancang sejak 2004, namun kesepakatan harga selalu menjadi batu sandungan. Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyaksikan penandatanganan kontrak bersejarah tersebut di Shanghai, Rabu (21/5) pekan lalu, mengatakan bahwa Tiongkok adalah negosiator yang benar-benar tangguh.

Konstantin Simonov, Direktur Dana Keamanan Energi Nasional (NESF) Rusia, juga menyampaikan bahwa Tiongkok tahu betul dampak politis kontrak gas ini sangat penting bagi Rusia. Rusia ingin membuktikan pada Barat bahwa ia memiliki pasar alternatif untuk ekspor gas. Sementara, Tiongkok pun membutuhkan kontrak ini karena kebutuhan gas untuk daerah industri timurnya tidak terpenuhi oleh pasokan dari Asia Tengah. Sadar akan meningkatnya biaya lingkungan dan kesehatan dalam menggunakan batu bara lokal yang murah, Tiongkok beralih ke gas yang lebih bersih untuk menggerakkan industrinya dan sudah siap untuk menjadi konsumen gas terbesar di dunia.

Percaturan Industri Gas Berubah

Menurut Stratfor, Pusat Analisis Keamanan Global yang berbasis di Amerika Serikat, kepentingan Rusia dan Tiongkok telah selaras dalam beberapa tahun terakhir. “Selama ini Tiongkok harus membayar biaya impor gas alam cair yang cukup tinggi, padahal kebutuhan pasokan terus meningkat. Sementara bagi Rusia, stabilitas pasar Eropa semakin mengkhawatirkan, terutama karena krisis Ukrainia. Sedangkan selama ini Rusia mengirimkan lebih dari 80 persen ekspor gas alamnya ke Eropa. Jadi, Tiongkok dan Rusia memang sama-sama membutuhkan kerja sama ini,” terang Stratfor.

Perusahaan minyak dan gas nasional Tiongkok CNPC membantah telah mencoba mengambil keuntungan dari konfrontasi Rusia dengan Uni Eropa untuk menurunkan harga gas Rusia. Tiongkok mengklaim telah menetapkan harga jauh sebelum Barat memberi sanksi terhadap Rusia. Tapi kesepakatan memang tercapai pada waktu yang tepat. Hal ini mungkin akan mengubah permainan dalam sejarah industri gas Rusia yang selama ini mengalir menuju Eropa. Kini, lebih dari satu triliun meter kubik gas Rusia senilai 400 miliar dolar AS akan mengalir ke arah berlawanan selama 30 tahun ke depan. Saat kabar kesepakatan ini tersiar, saham Gazprom langsung naik sebesar dua persen.

Meski tak diungkapkan ke publik, harga gas yang disepakati kemungkinan setara dengan nilai yang dibayar Eropa Barat. Namun Rusia dan Tiongkok perlu memperbaiki infrastruktur jalur pipa di Siberia yang kurang baik. Kedua negara perlu berinvestasi sekitar 75 miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur tersebut.

Rusia juga menawarkan pengembangan terminal gas alam cair di Vladivostok milik Gazprom untuk Tiongkok dan lebih banyak saham untuk CNPC di perusahaan minyak Rosneft. Analis Stratfor berpendapat, rencana kerja sama tersebut membuat Tiongkok lebih dari sekedar tujuan ekspor untuk komoditas Rusia.

Namun, kerja sama Rusia-Tiongkok tidak melulu tentang gas. Selama kunjungan Putin ke Tiongkok, kedua negara juga menandatangani kontrak “paket fantastis”, seperti disebutkan oleh asisten Putin, Yuri Ushakov. Sebagian besar kontrak itu berupa kerja sama produksi barang yang membutuhkan keterampilan tinggi. Kerja sama seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam kemitraan Tiongkok-Rusia. Kontrak tersebut antara lain berupa:

  1. Proyek senilai 10 miliar dolar AS untuk mengembangkan sebuah pesawat jarak jauh pesaing Boeing dan Airbus;
  2. Investasi pabrik Great Wall Motors di Rusia yang akan merakit 150.000 kendaraan roda empat per tahun;
  3. Pembangunan perusahaan petrokimia Rusia dan Tiongkok di Shanghai yang menggunakan teknologi Rusia;
  4. Pembangunan jembatan dan jaringan transportasi yang melintasi perbatasan Rusia-Tiongkok guna mempersingkat jarak perjalanan barang dan penumpang hingga ratusan mil.

      Untuk membiayai proyek-proyek di atas, kedua negara telah sepakat memaksimalkan penggunaan mata uang nasional mereka alih-alih dolar. Tiongkok sudah memberikan pinjaman kepada Rosneft dalam mata uang rubel.

      Menurut Putin, kerja sama Tiongkok-Rusia yang harus dibiayai sebelum tahun 2020 bernilai lebih dari 200 miliar dolar AS. Kekhawatiran Barat tentang berpihaknya Rusia pada Tiongkok dapat menjadi nubuat yang terpenuhi sendiri.

      Sergei Luzyanin dari Institut Hubungan Internasional Moskow percaya bahwa kesepakatan tersebut meningkatkan poros kekuatan baru di dunia. Tiongkok, menurut Luzyanin, menempatkan diri dalam posisi netral terkait krisis Ukraina, namun pada dasarnya mendukung Moskow. Profesor Luzyanin menyebut ini sebagai sebuah “netralitas ramah” yang mengurangi ancaman sanksi Barat.

      Luzyanin berpendapat Tiongkok dapat beranjak dari “netralitas ramah” menuju dukungan yang lebih terbuka kepada Rusia, jika Presiden Obama melanjutkan kebijakan tentang penahanan Tiongkok dalam sengketa teritorialnya dengan Jepang dan negara tetangga lainnya. Jika kebijakan ini diaplikasikan menjadi semacam “NATO Asia”, Luzyanin memprediksi Tiongkok akan tergoda untuk meningkatkan kemitraan strategis dengan Rusia.

      Luzyanin tak mengharapkan pembentukan aliansi militer, namun ia percaya Perjanjian Tiongkok-Rusia 2001 dapat ditingkatkan untuk membentuk realitas baru. Ambisi Tiongkok jauh melampaui kemitraan strategis dengan negara manapun. Proyek megah Tiongkok berupa Jalan Sutra baru melibatkan puluhan negara sepanjang jalan dari Eropa ke Tiongkok. Namun, Luzyanin berpendapat dengan pencabutan pasukan Barat, Afghanistan bisa menjadi mata rantai terlemah dalam usaha ini, dan Tiongkok akan membutuhkan bantuan Rusia dalam hal tersebut.

      Akan tetapi, analis Stratfor menyatakan kesepakatan Rusia dan Tiongkok di bidang energi tidak berarti Beijing dan Moskow selaras secara politik. Meski tak dapat dipungkiri kedua negara memang saling menguntungkan satu sama lain, dan kemitraan mereka dapat menciptakan stabilitas dalam negeri dan meningkatkan posisi mereka di dunia.

      Sementara, menurut Menteri Energi Rusia Aleksandr Novak, Eropa masih menghadapi masalah terkait pasokan gas. “Tanpa pasokan gas Rusia, Eropa tidak akan mampu memenuhi kebutuhan energi,” ujar Novak. Novak memprediksi pada tahun 2020 produksi gas Eropa akan menyusut sebesar 20 persen. Pengurangan pasokan gas Rusia otomatis dapat secara signifikan meningkatkan harga gas untuk Eropa.

      Artikel Terkait

      Sanksi Barat Buat Rusia Gencar Kembangkan Teknologi Produksi LNG

      Akibat Sanksi Barat, Rusia Alami Resesi Ekonomi

      Seberapa Besar Pengaruh Sanksi Barat Terhadap Rusia?

      Rusia Jadikan WTO “Tameng” untuk Hadapi Sanksi Barat

      Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.