Barter Minyak-Barang Iran-Rusia Hanya Angan Belaka

Para ahli Rusia menyiratkan bahwa pada akhirnya kesepakatan tidak akan tercapai. Foto: Reuters/Vostock-Photo

Para ahli Rusia menyiratkan bahwa pada akhirnya kesepakatan tidak akan tercapai. Foto: Reuters/Vostock-Photo

Pertukaran minyak dan barang antara Rusia dan Iran ibarat paus putih dalam Moby Dick: semua orang membicarakannya tapi tak ada yang pernah melihatnya. Hal ini mungkin karena Moskow dan Teheran tidak mempertimbangkan rencana kerja sama secara serius. Kedua negara tidak tertarik dengan format kerja sama yang dispekulasikan oleh media Barat.

Parameter kesepakatan kerja sama yang diberitakan oleh beberapa media memang cukup sensasional. Rusia disinyalir akan menerima hingga 500 barel minyak Iran setiap hari untuk ditukar dengan barang. Minyak itu belum tentu langsung dikirim ke Rusia, bisa jadi digunakan untuk pasokan silang ke Tiongkok. Pada 2013, Rosneft menandatangani kontrak dengan Tiongkok untuk memasok 360 juta minyak ke negara tersebut untuk periode 25 tahun. Namun, kapasitas saluran pipa Siberia Timur-Samudra Pasifik milik Rusia saat ini sepertinya tidak mampu memenuhi target tersebut karena harus mengakomodasi pasokan ke wilayah maritim dan sebagian minyak juga telah dicadangkan untuk tujuan lain.

Jumlah keseluruhan kesepakatan Rusia-Iran diperkirakan mencapai 15-20 miliar dolar AS. Namun, dampak ekonomi hanyalah bagian kecil dari kepentingan politik yang besar. Kesepakatan perlu dicapai guna menjadi salah satu pilar kerja sama antara Iran dan Rusia. Sejak penyelesaian masalah pembangkit listrik nuklir Bushehr, Moskow dan Teheran tak lagi memiliki proyek ekonomi bersama yang serius, yang mengakibatkan kerja sama politik tak mungkin terjalin.

Laporan tentang kerja sama yang akan terjalin mendapat reaksi yang sangat negatif dari AS. Kesepakatan ini tidak hanya membuat Iran dapat menghindari sanksi dan menjual minyaknya ke pasar luar negeri (meski dalam bentuk barter), tetapi juga mengurangi motivasi Iran untuk berkompromi dengan Barat. Selain itu, AS cemas dengan adanya kesepakatan ini, Rusia mungkin akan menggenggam pasar Iran yang sangat diinginkan oleh perusahaan AS.

Sementara itu, para ahli Rusia menyiratkan bahwa pada akhirnya kesepakatan tidak akan tercapai. Hal ini bukan karena Moskow atau Teheran takut akan sanksi AS, hanya saja format kesepakatan saat ini tidaklah menarik bagi Rusia maupun Iran.

Keuntungan Ekonomi Meragukan

Gagasan kesepakatan muncul secara cukup spontan. “Ketika tampak ada pergerakan dalam situasi program nuklir Iran, Rusia semakin khawatir. Moskow mulai merasa semakin kehilangan Iran, sehingga tiba-tiba muncul berbagai macam rencana untuk tetap menjaga hubungan dengan Republik Islam tersebut,” ujar Kepala Dana Keamanan Energi Nasional Konstantin Simonov kepada RBTH. Namun, Sinomov berpendapat bahwa Rusia tidak akan diuntungkan oleh kesepakatan ini. Apalagi, Moskow cenderung tidak akan mendapatkan banyak keuntungan dari menjual ulang minyak Iran karena mereka sudah menjelaskan bahwa mereka tidak akan memasok minyak dengan harga diskon. “Iran adalah pesaing langsung kita di pasar minyak dunia. Mengapa kita harus membantu menjual ulang minyak mereka dan bertransaksi untuk memecahkan masalah mereka? Terkait barang, tak seorang pun dapat mengatakan apa yang dapat kita pasok ke Iran,” ungkap Simonov.

Menurut ahli Iran Sevak Sarukhanyan, saat ini pasar Iran sudah dipenuhi barang-barang produksi Tiongkok yang beberapa lipat lebih murah dan berkualitas lebih baik dibanding barang dari Rusia. “Kendala dalam mengekspor barang Rusia senilai 15 miliar dolar AS ke Iran untuk ditukar minyak Iran adalah jumlah tersebut hampir 30 kali lipat jumlah ekspor Rusia ke Iran saat ini. Bagaimana Rusia mampu mengisi kekurangan itu? Kecuali jika senjata dipertimbangkan, mungkin akan cukup,” ujar Sarukhanyan kepada RBTH. “Tentu bisa saja Rusia membantu pembangunan unit kedua pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr untuk membayar pasokan minyak, tetapi sejauh ini belum jelas sejauh mana opsi ini dapat diterima oleh kedua belah pihak. Pilihan lain, Rusia dapat membayar minyak Iran dengan berbagai layanan. Misalnya, pada pertemuan para kepala badan kereta api CIS di Kazakhstan, Moskow menyatakan siap membangun jalur rel Qazvin-Rasht-Astara di wilayah Iran untuk menghubungkan sistem rel Iran, Azerbaijan, dan Rusia sebagai bagian dari koridor transportasi internasional Utara-Selatan,” terang Sarukhanyan.

Sementara, dari sudut pandang Iran, kesepakatan ini menguntungkan dari sisi segala sisi. Teheran akan mendapat bantuan menjual minyaknya dan menerima bantuan pula dalam implementasi berbagai proyek dalam negeri. Tapi pada akhirnya Iran mungkin tetap menolak tawaran yang menggiurkan ini. “Kenyataan bahwa mereka sebelumnya sudah memikirkan kemungkinan ekspor minyak ke Rusia telah menguntungkan Iran. Perusahaan-perusahaan Barat sudah mulai mendekati pemerintah Iran dengan tawaran untuk berinvestasi di sektor minyak negara itu dan membantu membawa minyak Iran ke pasar dunia. Di sisi lain, kesepakatan dengan Moskow hanya masuk akal bagi Teheran jika sanksi ekonomi Barat terhadap sektor minyak Iran tetap berlaku. Pada kenyataannya, sanksi-sanksi ini perlahan menghilang dan volume ekspor Iran berangsur pulih. Jika semua sanksi dihapuskan sekaligus, Iran jelas akan menolak kesepakatan ini karena, mengingat situasi Iran saat ini, tugas utama pemerintah adalah menarik mata uang asing ke dalam negeri," Sevak Sarukhanyan menyimpulkan.

Artikel Terkait

Mengapa Rusia Pertahankan Sektor Energi Nuklir?

Sanksi Barat Buat Rusia Gencar Kembangkan Teknologi Produksi LNG

Pembangkit Listik Tenaga Nuklir Terapung, Solusi Rusia Mengatasi Krisis Energi

Indonesia-Rusia Akan Kerja Sama Luncurkan Roket

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.