Rusia Jadikan WTO “Tameng” untuk Hadapi Sanksi Barat

Rusia mengajukan gugatan WTO pertamanya terhadap Uni Eropa pada akhir Desember 2013. Foto: Reuters

Rusia mengajukan gugatan WTO pertamanya terhadap Uni Eropa pada akhir Desember 2013. Foto: Reuters

Sanksi Amerika Serikat terhadap beberapa perusahaan Rusia mendorong Moskow meminta bantuan World Trade Organization untuk menjadi penengah. Rusia—yang bergabung dengan WTO pada Agustus 2012, setelah 18 tahun perundingan—bersikeras sanksi tersebut bertentangan dengan norma WTO.

Menanggapi sanksi AS terhadap perusahaan-perusahaan Rusia, termasuk bank Rossiya milik konglomerat media Yury Kovalchuk, pihak berwenang Rusia telah memutuskan untuk mengambil tindakan menggunakan mekanisme WTO. Secara khusus, mereka telah merilis pengumuman resmi yang menuduh Amerika Serikat gagal memenuhi kewajiban perdagangannya. Selain itu, seperti yang diumumkan oleh Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Aleksey Ulyukayev, ada kemungkinan Amerika Serikat akan menghadapi gugatan tambahan.

Menurut pejabat Rusia, sanksi AS merusak hak-hak pemasok jasa Rusia yang beroperasi di Amerika Serikat atau bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan AS. Ini merupakan pelanggaran dari salah satu kesepakatan dasar WTO yakni Persetujuan Umum tentang Perdagangan Jasa. Berdasarkan aturan WTO, sebuah negara dapat memberlakukan pembatasan terhadap ekspor barang dan jasa untuk alasan keamanan nasional, tetapi bukan dengan alasan memberi sanksi untuk negara lain.

Selain itu, akan dibentuk badan khusus untuk membela hak-hak Rusia di WTO. Bank ritel terbesar di Rusia yang merupakan milik negara, Sberbank, bersama Kementerian Pembangunan Ekonomi dan Sekolah Tinggi Ekonomi yang berbasis di Moskow, mengumumkan pembentukan sebuah pusat konsultasi kerja sama dengan WTO pada akhir Januari lalu. Organisasi nirlaba independen yang didanai oleh bank tersebut akan menyediakan jasa konsultasi untuk pihak berwenang dan pebisnis Rusia terkait kerja sama dengan WTO.

Gazprom mungkin akan menjadi perusahaan pertama yang menggunakan jasa organisasi tersebut, karena perusahaan gas raksasa Rusia itu akan terkena dampak langsung ‘paket energi ketiga’ Uni Eropa yang terus ditentang Rusia. Dokumen ‘paket energi ketiga’ akan membuat Gazprom tak bisa lagi memasok gas ke negara-negara Eropa dan mempertahankan jaringan pipa gasnya.

Konteks yang Lebih Luas

Amerika Serikat sejauh ini bukan satu-satunya lawan Rusia dalam WTO. Rusia mengajukan gugatan WTO pertamanya terhadap Uni Eropa pada akhir Desember 2013. Gugatan tersebut terkait tarif penyesuaian energi, yang mendongkrak harga barang Rusia di pasar Eropa. Secara khusus, negara-negara Eropa menuduh Rusia mengambil keuntungan yang tidak adil dari gas alam yang murah. Untuk mengimbangi tingginya harga tersebut, Uni Eropa menggunakan tarif penyesuaian energi sebagai bagian dari tindakan anti-dumping. Langkah-langkah ini diterapkan terhadap perusahaan logam dan kimia Rusia. Pihak berwenang Rusia yang merasa gas alam merupakan keuntungan obyektif Rusia, menganggap kasus anti-dumping sebagai mekanisme tidak adil yang digunakan oleh Uni Eropa untuk melindungi produsen mereka sendiri.

Selain Amerika Serikat dan Uni Eropa, Rusia juga mengajukan gugatan terhadap Tiongkok. Tuntutan tersebut terkait harga baja tabung mulus yang digunakan dalam pengeboran minyak. Gugatan ini diajukan oleh produsen logam terkemuka Rusia, termasuk pabrik pipa gulung Chelyabinsk, pabrik pipa Volzhsky, dan pabrik pipa Seversk. Mereka percaya bahwa melalui sistem penetapan harga yang terlalu murah, Tiongkok telah meningkatkan pangsa impor pipa bajanya sebesar 28,2–55,4 persen. Harga dumping perusahaan Tiongkok tersebut berdampak pada pelaku pasar lainnya. Berdasarkan keterangan Oleg Kalinskiy, Kepala Dana Pembangunan Industri Pipa, laba penjualan dalam Customs Union turun tiga kali lipat dalam sembilan bulan pertama pada 2013. Keuntungan perusahaan pun berkurang sebanyak 62,8 persen. 

Seorang sumber di Serikat Industrialis dan Pengusaha Rusia mengatakan bahwa secara umum, Rusia baru mengembangkan cara untuk melindungi kepentingan perusahaan dalam negerinya di WTO. Negara-negara lain membalas Rusia dengan tuntutan hukum mereka sendiri, misalnya pada akhir Januari, Uni Eropa telah mengajukan 12 tuntutan investigasi WTO terhadap Rusia dan menjanjikan tuntutan baru melawan Rusia. Secara khusus, pada April lalu Uni Eropa mengeluhkan larangan Rusia mengenai pasokan daging babi dari Eropa.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.