Rubel Stabil Berkat Bank Sentral

Para ahli memperkirakan, pada akhir 2014 nilai tukar rubel terhadap dolar AS bisa mencapai 37,50-38 rubel. Sumber: ITAR-TASS

Para ahli memperkirakan, pada akhir 2014 nilai tukar rubel terhadap dolar AS bisa mencapai 37,50-38 rubel. Sumber: ITAR-TASS

Sejak awal 2014, mata uang rubel Rusia telah lebih dari sekali mengalami tekanan serius. Namun sejauh ini, rubel masih dapat mempertahankan nilainya, sebagian besar berkat upaya oleh Bank Sentral.

Sejak awal Maret 2014, pasar saham Rusia telah mengalami penurunan sebesar 20 persen akibat konfrontasi berkelanjutan antara Rusia dan Barat terkait situasi di Krimea. Pada saat bersamaan, mata uang rubel Rusia telah kehilangan 9,6 persen nilainya sejak pertengahan Januari.

Para investor Rusia merasa ada kemiripan reaksi pasar keuangan saat ini dengan situasi pada 2008, ketika Rusia terlibat dalam konflik bersenjata dengan Georgia. Namun, masalah politik sekarang jelas lebih akut karena Ukraina jauh lebih besar dibanding Ossetia Selatan dan Abkhazia, baik dari segi ukuran, populasi, serta sumber daya. Ukraina juga memiliki posisi yang jauh lebih penting bagi Uni Eropa dibanding Georgia, sementara Krimea memiliki posisi yang jauh lebih penting bagi Rusia sebagai pangkalan angkatan laut.

Menurut analis senior Maksim Vasin dari National Rating Agency, untuk saat ini konfrontasi tersebut tidak sampai mengakibatkan masalah ekonomi makro dan keuangan yang serius. “Bank besar lebih stabil dan tidak ada kepanikan yang menonjol. Namun, jika ada perusahaan atau bank besar yang mengalami kebangkrutan atau insolvensi, situasi di pasar mungkin akan berubah,” kata Vasin.

Bank Sentral Turun Tangan

Jatuhnya harga rubel sebagai konsekuensi langsung dari peristiwa di Ukraina tidak sepenuhnya benar. Devaluasi rubel telah dimulai oleh Bank of Russia sejak akhir 2013, ketika regulator mulai mendorong koridor mata uang ke atas dengan tidak melakukan intervensi dalam perdagangan mata uang dan membuat rubel jatuh secara bertahap.

Devaluasi lebih lanjut dari mata uang Rusia pada akhir Februari disebabkan oleh situasi di Ukraina. Pada 25 Februari, nilai tukar rubel terhadap dolar AS diperdagangkan pada 35,5 dan pada 1 Maret telah mencapai angka 36,18. Setelah pemungutan suara  Dewan Federasi yang memberi wewenang untuk pengerahan pasukan Rusia di Ukraina jika diperlukan, rubel merosot lebih jauh lagi. Namun pada 3 Maret, Bank of Russia menaikkan suku bunganya menjadi tujuh persen dan meningkatkan intervensinya di mata uang untuk mendukung rubel. Tindakan ini mencegah rubel terjun bebas. Pada 14 Maret, USD/RUB berada di titik 36,456.

Pada pertengahan Januari, Bank Sentral lepas tangan terhadap regulasi nilai tukar, membiarkan rubel mengambang bebas. Pasar segera bereaksi, mata uang asing naik dan bank-bank besar Rusia mulai membelinya dalam jumlah besar pada kurs yang lebih tinggi. Namun, para pakar menganggap bahwa faktor utama yang saat itu mempengaruhi devaluasi rubel adalah pelarian modal dari Rusia ke pasar negara maju. Menurut perkiraan Kementerian Pembangunan Ekonomi, insiden pelarian modal di bulan Januari dari Rusia mencapai 17 miliar dolar AS. “Salah satu alasan utama di balik peningkatan pelarian modal adalah berita tentang pengurangan bertahap dari pelonggaran kuantitatif di Amerika Serikat,” kata Mikhail Kuzmin, analis Investcafe. Menurut Kuzmin, beberapa investor memilih ‘kabur ke kualitas’, sementara Bank of Rusia menghentikan intervensi yang ditargetkan, hanya mempertahankan intervensi nontarget sebagai instrumen yang mendorong volatilitas rubel semakin jauh.

Devaluasi rubel terjadi lebih lanjut pada akhir Februari dan awal Maret. Majelis tinggi parlemen Rusia, Dewan Federasi, memberi wewenang kepada Presiden Putin untuk mengerahkan pasukan Rusia ke wilayah Ukraina jika diperlukan. Pada awal Februari, rubel telah kehilangan 6,6 persen dari nilainya. Setelah pemungutan suara Dewan Federasi, nilai rubel terancam semakin anjlok. Bank Sentral memutuskan untuk menaikkan suku bunga utamanya menjadi tujuh persen dan meningkatkan intervensi mata uangnya. Secara khusus, pada Senin (3/3), Bank of Rusia melakukan intervensi valuta asing senilai 11 miliar dolar AS, sepuluh kali jumlah rata-rata intervensi sebelumnya. Setelah itu, nilai rubel langsung naik. “Hal itu mencegah penurunan rubel lebih lanjut,” Kuzmin menyimpulkan.

Bisa dikatakan, sejak tentara Rusia muncul di Krimea, Bank of Russia jelas telah mengendalikan fluktuasi tingkat rubel. “Rubel kehilangan nilainya sangat lambat dan di bawah kontrol penuh dari regulator. Mata uang ini jatuh sebanyak yang diizinkan Bank Sentral. Sementara, Bank Sentral sendiri menghabiskan sejumlah besar emas dan cadangan devisa untuk memenuhi permintaan semua orang yang bersedia membeli mata uang asing di pasar,” kata Vasin.

Infografik dinamika kurs Rubel terhadap Dolar AS periode akhir 2013 – awal 2014

Banyak pakar ekonomi Rusia yang menyimpulkan kepanikan pasar saham tidak menyebar ke pasar mata uang. Rubel relatif tetap stabil berkat intervensi dan mekanisme dukungan Bank Sentral. Secara khusus, pada Jumat (14/3), Bank Sentral menawarkan 90 miliar rubel pada lelang repo (perjanjian pembelian kembali) untuk bank-bank di Rusia. Bank meminta dua kali lipat dari jumlah tersebut, yakni 203 miliar rubel. Lalu pada Senin (17/3), Bank of Russia mengumumkan lelang repo 400 miliar rubel. Permintaan yang begitu kuat untuk likuiditas antarbank menunjukkan bahwa mereka saat ini membutuhkan dana tambahan dan siap untuk membayar lebih untuk dana tersebut, karena suku bunga telah dinaikkan dari 1,5 persen menjadi tujuh persen. Bank-bank Rusia dapat menggunakan dana yang didapatkan dari Bank Sentral untuk pinjaman rubel dan operasi valuta asing yakni membeli mata uang asing dari individu.

Para ahli memperkirakan, jika tidak ada konsekuensi yang signifikan dari peristiwa di Ukraina, pada akhir 2014 nilai tukar terhadap dolar AS bisa mencapai 37,50-38 rubel dan nilai tukar terhadap euro mencapai 53,2 rubel. Sebaliknya, jika ada pengaruh sanksi ekonomi dan pelarian modal, serta stagnasi ekonomi Rusia turun ke resesi, nilai tukar masing-masing mata uang tersebut mungkin akan mencapai 40 dan 55 rubel.

Pemerintah Rusia berharap devaluasi parsial rubel dapat memperbaiki situasi anggaran yang saat ini sedang mengalami banyak tekanan karena biaya Olimpiade dan membebani 760 miliar rubel ke kas negara.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.