Fokus Rusia di Indonesia: Dari Pabrik Pesawat Hingga Stasiun Satelit

Rusia menawarkan sejumlah proyek inovasi, salah satunya pembuatan sistem pengawasan perairan Zona Eksklusif Ekonomi Indonesia.

Rusia menawarkan sejumlah proyek inovasi, salah satunya pembuatan sistem pengawasan perairan Zona Eksklusif Ekonomi Indonesia.

Direktur Kementerian Pertumbuhan Ekonomi Rusia untuk divisi Asia dan Afrika, Evgeniy Popov, menceritakan proyek-proyek utama yang akan digarap dalam kerja sama Indonesia-Rusia dalam Sidang Komisi Bersama Indonesia-Rusia ke-9 Bidang Ekonomi, Perdagangan dan Kerja Sama Teknis yang berlangsung di di Jakarta, Selasa (25/2).

Pada pertemuan tersebut, pihak Indonesia dan Rusia mengindentifikasi beberapa proyek besar dan menentukan langkah yang harus diambil oleh pemerintah masing-masing dalam merealisasikan proyek tersebut dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Ekonomi RI Hatta Rajasa dan Wakil Perdana Menteri Federasi Rusia Dmitry Rogozin tersebut, Popov menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu prioritas rekan bisnis Rusia di Asia Tenggara. Volume perdagangan antara Rusia dan Indonesia mendekati angka 3 miliar dolar AS atau setara sekitar 35 triliun rupiah.

Popov menyampaikan, proyek pengadaan pesawat terbang Sukhoi SuperJet-100 adalah prioritas Rusia. Hingga saat ini sudah terkirim tiga unit pesawat terbang jenis tersebut dan pihak Rusia berharap jumlah itu akan terus bertambah.

Selain penjualan yang akan dilakukan dengan pemberian kredit dari pihak Rusia, ada pula wacana pembangunan pabrik komponen pesawat terbang di wilayah Indonesia serta pembuatan pusat pelatihan untuk mempersiapkan pilot dan teknisi pesawat.

Proyek lain adalah pembangunan jalur kereta api dan infrastruktur penunjang untuk produksi dan transportasi batu bara di Kalimantan Timur dengan nilai investasi diperkirakan lebih dari dua miliar dolar AS. Dari sejumlah rencana kerja sama yang ada di bidang pertambangan, pembangunan jalur kereta api tersebut adalah proyek yang paling progresif karena fondasi teknis ekonomi tahap awal sudah terlaksana. Setelah mendapatkan sumber finansial, diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan proyek ini akan segera terealisasi.

Pihak Rusia mengakui, peraturan larangan ekspor bahan tambang mentah yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia sejak awal Januari memang menyulitkan. Tetapi, mereka menilai hal tersebut sebagai keputusan bijak untuk jangka panjang.

“Keputusan tersebut memberi peluang perwujudan proyek yang berhubungan dengan pengolahan barang tambang Indonesia dan perusahaan-perusahaan besar Rusia dalam bidang metalurgi logam non-ferro sudah melihat peluang baru tersebut,” ungkap Popov.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Rusia juga membicarakan beberapa lahan bisnis baru yang akan menjadi prioritas kerja komisi bersama tahun ini.

Komisi bersama akan menciptakan kelompok industri di bawah pengawasan wakil menteri khusus. Kelompoktersebut akan mencakup bidang perdagangan, industri dan investasi, energi, teknologi, transportasi dan infastruktur, serta turisme dan kebudayaan. Popov menilai sektor inovasi teknologi sebagai sektor yang paling potensial. “Masalah yang dihadapi Indonesia dan Rusia di bidang teknologi cukup mirip, sehingga untuk menemukan solusinya kita bisa menyatukan kekuatan,” ujar Popov.

Rusia menawarkan sejumlah proyek inovasi, salah satunya pembuatan sistem pengawasan perairan Zona Eksklusif Ekonomi Indonesia. Sistem ini bertujuan mengawasi kapal-kapal nelayan yang berada di zona perairan tersebut. Masalah yang dihadapi Indonesia sama seperti masalah yang dihadapi Rusia di wilayah Dalniy Vostok, yakni terkait penangkapan ikan secara ilegal. Rusia menawarkan sistem yang dapat menemukan pelanggaran secara langsung.

Terakhir, Rusia juga hendak membangun stasiun pengawasan yang menggunakan sistem satelit Rusia GLONASS di Indonesia untuk mengawasi arus barang secara langsung.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.