Bagaimana Anak-Anak Soviet Bersenang-senang Sebelum Ada Internet?

Dua anak laki-laki Soviet di kota Moskow, 1 Juli 1991.

Dua anak laki-laki Soviet di kota Moskow, 1 Juli 1991.

Igor Zotin/TASS
Sebelum ada iPhone, laptop, WiFi, dan teknologi modern lain yang kini sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita, anak-anak terbiasa untuk mengerahkan seluruh imajinasi dan kreatifitasnya untuk bermain dan bersenang-senang.

Dewasa ini, jika seorang anak diberikan fasilitas untuk mengakses internet, kemungkinan besar liburan sekolahnya hanya akan dihabiskan dengan berselancar di dunia maya. Namun, bagaimana anak-anak di Uni Soviet bersenang-senang di waktu luang mereka sebelum ada internet? Kreativitas adalah kuncinya!

1. Menjelajah alam terbuka

Anak-anak dari Bumi Perkemahan Pionir Pelaut Muda mengikuti kegiatan perkemahan. Sumber: Tihanov/RIA NovostiAnak-anak dari Bumi Perkemahan Pionir Pelaut Muda mengikuti kegiatan perkemahan. Sumber: Tihanov/RIA Novosti

Saat musim liburan tiba, anak-anak Soviet akan sangat antusias bermain dan bersenang-senang di luar rumah. Mengembara dan menjelajah alam terbuka selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu bersama teman sekelas pada musim panas adalah hal yang sangat dinantikan. Mereka akan belajar berbagai keterampilan bertahan hidup, seperti membuat api unggun dan membaca peta. Kegiatan ini akan selalu menjadi petualangan yang seru meskipun tidak akan sama persis seperti kisah-kisah petualangan karya Jules Vernes dan James Fenimore Cooper yang sangat populer di kalangan anak-anak Soviet.

Selama perjalanan, para Pionir Muda (biasanya terdiri dari anak-anak sekolah berusia 9 sampai 14 tahun, setara dengan gerakan Pramuka saat ini) akan dibimbing oleh ketua Pionir yang akan menjelaskan berbagai macam hal, mulai dari sejarah lokasi yang mereka kunjungi hingga cara menemukan zat-zat mineral alam. Saat malam tiba, seluruh kelompok akan berkumpul mengelilingi api unggun sambil memasak dan menikmati makan malam sederhana (biasanya daging kaleng atau kentang panggang) seraya bernyanyi diiringi petikan gitar yang merdu.

2. Bertukar barang koleksi 

Seorang anak pengoleksi mobil-mobilan, 1968. Sumber: Boris Ushmaykin/RIA NovostiSeorang anak pengoleksi mobil-mobilan, 1968. Sumber: Boris Ushmaykin/RIA Novosti

Anak-anak biasanya gemar mengumpulkan barang-barang favorit mereka, seperti mainan kereta api, kartu bergambar, atau stiker. Para penggemar stiker sejati pasti akan tergoda untuk memamerkan koleksinya. Mereka akan melekatkan stiker di mana-mana. Biasanya, jendela kamar atau permukaan kaca apa pun di rumah kerap menjadi sasaran empuk. Hal ini tentu saja kerap membuat para orangtua jengkel karena tidak mudah membersihkan stiker-stiker yang mereka anggap merusak pemandangan itu. Benda lain yang biasanya dikoleksi anak-anak adalah prangko, uang logam langka, dan apa pun yang bisa ditukar dengan teman-teman sepermainan mereka.

3. Membuat kerajinan kayu

Para siswa sekolah asrama musik dan seni bersiap memasuki Universitas Pengrajin Kayu Bogorodsky, 1990. Sumber: TASSPara siswa sekolah asrama musik dan seni bersiap memasuki Universitas Pengrajin Kayu Bogorodsky, 1990. Sumber: TASS

Bagi anak yang sudah cukup umur dan dapat dipercaya untuk menggunakan pisau lipat, membuat patung-patung kecil dari kayu adalah kegiatan yang menyenangkan. Kapal-kapalan, pedang-pedangan, bahkan ketapel bisa dibuat dari ranting pohon. Namun, jika sulit menemukan ranting yang sesuai, meja atau lengan kursi lama yang tak terpakai bisa jadi bahan baku alternatif. Usai membuat ketapel, biasanya botol atau kaleng bekas akan digantung di dinding untuk dijadikan target tembakan dengan batu kecil sebagai pelurunya. Sementara anak-anak sedang asyik bermain, para orangtua akan mengawasi mereka dengan saksama agar batu-batu itu tidak memecahkan jendela atau lebih buruk lagi, melukai mata si anak.

4. Lompat tali Prancis

Anak-anak perempuan bermain lompt tali Prancis seusai sekolah. Sumber: ussr-kruto.ruAnak-anak perempuan bermain lompt tali Prancis seusai sekolah. Sumber: ussr-kruto.ru

Sementara anak laki-laki sibuk memotong kayu dan menghancurkan botol, anak-anak perempuan asyik bermain lompat tali Prancis, sebuah permainan yang paling terkenal di era Soviet. Permainan ini melibatkan tiga anak perempuan dan sebuah tali elastis yang berbentuk lingkaran. Dua pemain bertugas menjadi penjaga yang berdiri berhadapan di dalam lingkaran tali, memasangnya di pergelangan kaki dan menegangkannya hingga membentuk dua garis lurus yang sejajar. Pemain ketiga (“pelompat”) akan melompati tali tersebut yang tingkat kesulitannya akan dinaikkan secara bertahap. Tinggi lingkaran tali perlahan akan dinaikkan sampai ke dengkul para penjaga, kemudian paha, pinggul, dan — jika pelompatnya cukup hebat — telinga!

Jika si pelompat melakukan kesalahan, ia harus bertukar tempat dengan salah satu penjaga tali. Permainan ini juga bisa dimainkan oleh lebih dari satu pelompat jika tali yang digunakan cukup panjang.

5. Mengunyah getah tembakau

Anak-anak di sebuah desa di wilayah Saratov. Sumber: Vitaliy Karpov/RIA NovostiAnak-anak di sebuah desa di wilayah Saratov. Sumber: Vitaliy Karpov/RIA Novosti

Permen karet termasuk jajanan yang sangat langka di Uni Soviet. Kala itu, hanya sedikit anak yang beruntung bisa mendapatkan oleh-oleh permen karet dari orangtuanya sepulang dari luar negeri. Mereka akan mengunyah permen “mewah” ini selama mungkin sampai rasa manisnya hilang. Kemudian, anak-anak akan mencelupkannya ke selai atau gula untuk menambahkan rasa.

Mungkin kedengarannya aneh, tapi bagi mereka yang kurang beruntung dan tidak punya harapan untuk mengunyah permen karet, getah tembakau dari pinggir jalan ternyata bisa “menggantikan” kenikmatan mengunyah permen lengket yang dapat ditiup dan menggelembung itu. Anak-anak juga bisa mendapatkan getah tambakau dari atap-atap rumah yang biasanya digunakan sebagai penambal kebocoran. Tekstur getah tembakau memang keras, tapi ia akan melembut setelah dikunyah cukup lama. Namun, mengunyah getah tembakau rasanya bukan ide yang bagus untuk dilakukan di zaman sekarang ini.

6. Menonton pita film

Anak-anak sekolah menonton film lucu selama jam istirahat, 1984.Sumber: Sergey Edisherashvili/TASSAnak-anak sekolah menonton film lucu selama jam istirahat, 1984.Sumber: Sergey Edisherashvili/TASS

Kebanyakan orangtua akan langsung menggiring putra-putri mereka ke tempat tidur setelah program televisi anak-anak Spokoynoy nochi, malyshi! (Selamat malam, buah hatiku!) usai. Namun, anak-anak yang sudah cukup umur biasanya diizinkan untuk tinggal lebih lama sambil membaca buku atau menonton pita film (filmstrip) dalam kegelapan.

Pita film adalah serangkaian film negatif berwarna yang masing-masing bingkai gambarnya (frame) mewakili episode yang berbeda dalam sebuah cerita, dengan gambar dan teks. Gulungan pita film kemudian dimasukkan ke dalam proyektor khusus yang agak berbeda dengan proyektor film biasa. Seprai putih akan digantung di dinding atau lemari sebagai layar proyeksi, sedangkan proyektor diletakkan di atas tumpukkan buku. Gulungan pita film kemudian dimasukkan ke dalam proyektor, lampu dimatikan, dan muncullah gambar-gambar berbentuk cerita. Ibu, ayah, atau anak-anak yang lebih tua akan membaca teks gambar dengan keras agar adik-adik mereka dapat memahami ceritanya sambil manatap ilustrasi di layar proyeksi. 

7. Menikmati keindahan karpet di dinding

Tipikal interior apartemen masyarakat Uni Soviet, 1979. Sumber: Nikolai Akimov/TASSTipikal interior apartemen masyarakat Uni Soviet, 1979. Sumber: Nikolai Akimov/TASS

Mereka yang tidak memiliki proyektor pita film di rumah bisa mencari hiburan lain dengan mengamati karpet yang digantung. Karpet semacam ini hampir dapat ditemukan di semua apartemen Soviet dan biasanya digantung di atas sofa atau tempat tidur. Karpet-karpet tersebut setidaknya memiliki dua fungsi: menyembunyikan cacat pada dinding dan sebagai peredam suara. Sambil berusaha tidur di malam hari, anak-anak akan menatap karpet tersebut dan mencari siluet binatang, bentuk wajah manusia, atau pola tumbuhan. Setiap anak akan melihat hal yang berbeda dan mencoba menunjukkannya kepada saudara-saudara mereka.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.