Lima Fakta Unik ‘Unicorn’ Siberia

Ilustrasi oleh Heinrich Harder dari sekitar tahun 1920.

Ilustrasi oleh Heinrich Harder dari sekitar tahun 1920.

Wikipedia.org
Unicorn pernah tinggal di Siberia. Namun, unicorn yang satu ini bukanlah mahkluk cantik dari negeri dongeng, seperti yang Anda bayangkan. Mungkin mereka lebih menyerupai badak berbulu kasar. RBTH menyajikan fakta-fakta unik mengenai hewan misterius ini.

Selama beberapa minggu, media dunia cukup aktif mendiskusikan ‘unicorn Siberia’. Mahkluk yang keberadaannya baru-baru ini terekspos diketahui tinggal di Bumi bukan sekitar 350 ribu tahun lalu, seperti yang diperkirakan para ilmuwan, melainkan 29 ribu tahun lalu. Artinya, ada kemungkinan, karakter negeri dongeng yang misterius ini melihat awal mula kemunculan Homo sapiens di muka Bumi. Penemuan ini dilakukan oleh ilmuwan Rusia dari Universitas Negeri Tomsk sebagai hasil dari penanggalan radiokarbon.

“Unicorn” ternyata lebih menyerupai badak berbulu kasar daripada kuda anggun nan gagah. Apa lagi yang belum kita ketahui mengenai mahkluk purbakala yang telah punah dari planet ini?

Ilustrasi pertama E. sibiricum yang dipublikasikan pada 1878 oleh Rashevsky, dengan supervisi dari A.F. Brant.

“Unicorn Siberia” memiliki diet yang sangat khusus.Meskipun bertubuh besar (tingginya bisa mencapai lima hingga enam meter dan berbobot lebih dari lima ton), mereka hanya memakan umbi tanaman. ‘Unicorn’ ini dapat menggali tanah dan mencabut akar yang kuat. Mereka tak memiliki gigi seri dan taring, sehingga mereka menggali tanah dengan menggunakan bibirnya yang bercula. Kini para ilmuwan berspekulasi mengapa spesies ini bisa bertahan hidup lebih lama dari singa gua dan mammoth. Mungkin, dietnya memainkan peran penting dalam hal ini.

Saat ‘unicorn’ hidup di Siberia, daratan ini memiliki suhu hangat. Meskipun tergolong sebagai hewan pencinta panas, sisa hewan purba ini ditemukan di sebelah tenggara Daratan Siberia Barat. Sebelumnya, mereka diduga tak pernah memasuki wilayah ini sama sekali. Namun, hal ini membawa kita pada kesimpulan bahwa mungkin iklim di Ural dan Siberia saat itu berbeda dengan yang dideskripsikan sebelumnya. Menurut ilmuwan, ‘unicorn’ dapat bermigrasi dan tinggal di wilayah yang lebih selatan beberapa waktu.

Sepertinya, manusia pernah melihat ‘unicorn’ Siberia secara langsung. Binatang yang digambarkan dalam lukisan gua tak sekadar bagian dari imajinasi leluhur kita. Sepertinya para pemburu primitif menjadi penyebab kepunahan mereka karena ‘unicorn’ kuno telah melewati empat hingga lima zaman es. Alasan mereka menghilang masih misteri. Sepertinya mereka terbunuh oleh bencana glasial. Sebelumnya, para ilmuwan berhipotesis bahwa ‘unicorn’ perlahan digantikan oleh mamut.

Cula mahkluk misterius ini, sama seperti penampilannya, berbeda jauh dengan kisah negeri dongeng.Unicorn Siberia memiliki cula kecil dengan panjang sekitar 35 cm dan lebar 15 cm di keningnya. Tanduk ini sangat kuat dan berfungsi sebagai dasar cula mereka.

Sumber: Wikipedia.orgSeni Paleolitik dari Gua Rouffignac di Prancis, yang dianggap sebagai dugaan adanya Elasmotherium bercula tunggal oleh Schaurte pada tahun 1964 dan oleh N. Spassov pada tahun 2001. Jika terbukti benar, dugaan tersebut akan memperluas jangkauan habitat makhluk ini hingga ke Eropa Barat. Sumber: Wikipedia.org

Terdapat organ di dalam ‘cula’ mereka, sehingga unicorn Siberia dapat mencium bau. Berbeda dengan badak bercula satu India, cula mereka ada kening, bukan di hidung. Para ilmuwan lain memperkirakan panjang cula unicorn berbeda-beda. Menurut sebagian ilmuwan, panjangnya bisa mencapai satu hingga dua meter.

Mungkin, selain cula utama, mereka punya cula lain. Para ilmuwan mencoba menggambarkan rupa ‘unicorn’ Siberia sejak abad ke-19. Sebagai contoh, profesor zoologi Alexander Brandt memperhatikan objek kecil yang kasar di ujung hidung mahkluk ini, menciptakan dugaan onjek itu merupakan cula kedua. Menurut sang ilmuwan, terdapat lempengan tanduk rendah di ujung moncong hewan ini. Namun, fosil cula-cula tersebut belum pernah ditemukan. Lagi pula, cula terbentuk dari keratin, seperti rambut dan kuku kita, sehingga hampir tak pernah diawetkan. Ahli paleontologi memperkirakan adanya cula berdasarkan struktur tulang binatang ini.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.