30 Tahun Pascabencana Chernobyl: Bisa Hidup, tapi Mustahil Bertahan

Desa yang pada 30 tahun lalu dipenuhi bunga, memiliki dua gereja, dan ratusan rumah itu kini hanya bersisakan hutan.

Desa yang pada 30 tahun lalu dipenuhi bunga, memiliki dua gereja, dan ratusan rumah itu kini hanya bersisakan hutan.

Gleb Fedorov
Pada peringatan 30 tahun bencana pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl, koresponden RBTH mengunjungi wilayah dengan paparan unsur radioaktif tertinggi di Rusia ini dan mencari tahu bagaimana kehidupan dan harapan masyarakat setempat saat ini.

Jika Anda pernah melewati kota Novozybkov di wilayah Bryansk (berada di dekat perbatasan Rusia dengan Ukraina dan Belarus) maka Anda akan melihat sebuah daerah pedalaman yang tampak normal di Rusia — jalanannya yang rusak, pedesaan sepi, padang rumput, serta bus-bus tua produksi Soviet.

Tidak ada sedikit pun tanda yang menjelaskan bahwa pada 30 tahun yang lalu, kota tersebut beserta wilayah selatan dan barat Bryansk masuk ke dalam zona evakuasi karena menjadi wilayah yang paling terkena dampak musibah nuklir Chernobyl yang mencakup sekitar 200 kilometer wilayah di sekitarnya.

Zona Evakuasi

Pada akhir 1980-an, ratusan pemukiman sebelah barat daya wilayah Bryansk masuk ke dalam zona evakuasi. Meski begitu, tidak semua penduduk daerah tersebut lantas bertransmigrasi. Mereka diberikan pilihan untuk pergi atau menetap.

Orangtua Viktor Strelyukov (40), beserta nenek moyang selama beberapa generasi sebelumnya merupakan penduduk asli desa Svyatsk yang berlokasi sekitar 30 kilometer dari Novozybkov.

Viktor Strelyukov. Sumber: Gleb Fedorov

Desa yang pada 30 tahun lalu dipenuhi bunga, memiliki dua gereja, dan ratusan rumah itu kini hanya bersisakan hutan. Semua penduduknya pergi. Di hutan itu masih tersisa puing-puing rumah penduduk. Dengan paparan radiasi rata-rata 0,6 microsieverts per jam, hal seperti itu biasanya digambarkan pada film bioskop yang menceritakan mengenai hari kiamat.

Kini yang masih tersisa hanyalah makam tua di pinggiran desa, yang hingga saat ini masih mengubur jasad-jasad nenek moyang. Selain itu, terdapat kapel yang dibangun Viktor di lokasi gereja yang dulunya terbakar. Menurut Viktor, warga Svyatskaya lainnya telah berpencar ke seluruh wilayah bekas Uni Soviet. Meski begitu, ia memilih untuk tetap tinggal. Hal tersebut dikarenakan orangtuanya yang bertansmigrasi saat terjadinya musibah nuklir, tak lama kemudian memutuskan untuk kembali ke wilayah Novozybkov. Kini mereka telah meninggal. Viktor pun kini dirawat karena kanker.

Makam tua di pinggiran desa Svyatsk. Sumber: Gleb Fedorov

Anomali

Pada tahun 1986, seorang pelajar bernama Galina Sviridenko masih berusia 16 tahun. Saat ini, usia putranya, Denis, juga 16 tahun. Anak laki-laki Sviridenko lahir tanpa telinga, dengan tulang belakang yang melengkung, dan mengalami retardasi mental. Ia sudah menjalani delapan kali operasi. Galina hanya membutuhkan waktu tiga tahun sampai akhirnya membuktikan adanya hubungan antara radiasi dengan anomali dalam pertumbuhan anaknya.

Selain Denis, pada tahun 2000 di Novozybkov lahir tujuh orang anak dengan sindrom down. Menurut statistik yang disusun oleh Lyudmila Komogortseva selaku mantan wakil gubernur wilayah Bryansk yang kini berprofesi sebagai ekolog, pascaperistiwa Chernobyl, proporsi anak-anak yang menderita penyakit kronis meningkat dari delapan hingga 80 persen, sedangkan penduduk masyarakat yang terkena kanker meningkat sebesar 2,5 kali lebih tinggi jika dibandingkan rata-rata penderita kanker di seluruh Rusia.

Yang paling berbahaya, menurut ahli bedah dari rumah sakit daerah Novozybkov Viktor Khanaev adalah bukan sepenuhnya akibat paparan radioaktif, tetapi juga dosis kecil radiasi yang masuk ke dalam tubuh penduduk akibat produk-produk lokal yang telah terkontaminasi. Selama bertahun-tahun, radiasi ini terakumulasi dan akhirnya menyebabkan kanker yang dapat mempengaruhi tidak hanya orang tersebut, tetapi juga keturunannya.

Radiasi di Mana-mana

Meskipun radionuklida meracuni segala sesuatu yang tumbuh dan diproduksi di wilayah ini, termasuk tanah, air, kayu, hewan liar, jamur, dan buah-buahan, masyarakat lokal telah terbiasa dengan radiasi dan memilih untuk tidak membahasnya. Karena pendapatan yang rendah, hasil hutan dan kebun menjadi sumber gizi masyarakat.

“Kami sudah 30 tahun mengonsumsi produk-produk yang dihasilkan di wilayah kami, tapi tak pernah terjadi hal yang buruk,” kata warga setempat. Meski begitu, hal tersebut tetap mengkhawatirkan. Seorang karyawan di sebuah laboratorium lokal untuk kontrol radiasi menyatakan bahwa jika tanah di beberapa wilayah telah bersih sehingga produk-produk yang dihasilkan kini tidak seburuk 30 tahun yang lalu.

Pemeriksaan ahli terhadap jamur kering menunjukkan tingkat radiasi pada posisi 100 ribu becquerel per kilogram dibandingkan dengan tingkat normal yang hanya sebesar 2.500.

Meski begitu, pada tahun 2016 daftar penduduk daerah Bryansk yang dimukimkan kembali dikurangi dari 226 menjadi 26. Di antara tempat-tempat resmi dan diakui aman untuk ditinggali adalah Novozybkov. Bersamaan dengan berkurangnya daftar, pembayaran gaji pun turut diturunkan — rata-rata sebesar dua hingga seribu rubel per bulan.

Dana Bantuan dan Kehidupan Ekonomi

Selama situasi ini, muncul kecenderungan untuk menggeser dan menyalahkan otoritas negara dan lokal yang dianggap seharusnya dapat berinvestasi lebih banyak dalam rehabilitasi daerah. Sementara itu, terdapat paradoks atas kenyataan bahwa penduduk, pada kenyataannya, tidak ingin relokasi, melainkan menginginkan kembalinya dana bantuan yang dialokasikan kepada penduduk desa. Besar dana bantuan ini sebesar 20 ribu hingga 60 ribu rubel (sekitar 4 hingga 12 juta rupiah) yang menjadi aset signifikan di wilayah ini, yang di sana hanya terdapat sedikit pekerjaan dan gaji maksimal yang diperoleh hanya sebesar 10 ribu rubel (sekitar 2 juta rupiah).

“Kami tidak peduli dengan sebutan zona evakuasi. Kami membutuhkan kompensasi nyata,” kata dokter Khanaev. Menurutnya, seseorang dapat hidup di sini, tetapi harus memerhatikan peraturan keselamatan radiasi. Dibutuhkan pembersihan hutan, pengiriman makanan organik, serta pupuk khusus. Pemerintah seharusnya membantu, namun nyatanya tidak.

Ketua Dewan Perempuan Novozybkov Oksana Inashevskaya mengatakan bahwa mereka siap mengatasi segala kesulitan, tapi mereka tidak dapat melihat adanya prospek ekonomi. “Perkembangan ekonomi di wilayah ini berakhir tepat di saat terjadinya musibah nuklir Chernobyl,” kata Inashevskaya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.