Ujian Nasional Rusia: Libatkan Operasi Polisi hingga Alat Pemindai Metal

Pada 2014 lalu, aparat bersenjata dilibatkan dalam pengiriman soal ujian. Tak hanya itu, di depan sekolah bahkan terdapat alat pemindai metal untuk mencegah para murid membawa telepon genggam ke ruang ujian.

Pada 2014 lalu, aparat bersenjata dilibatkan dalam pengiriman soal ujian. Tak hanya itu, di depan sekolah bahkan terdapat alat pemindai metal untuk mencegah para murid membawa telepon genggam ke ruang ujian.

RIA Novosti
Pelaksanaan Ujian Nasional Rusia atau EGE (Ediniy Gosudarstvenniy Ekzamen) selama tujuh tahun terakhir telah berkembang menjadi operasi keamanan besar-besaran yang melibatkan polisi. Namun hingga kini, penerapan EGE belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.

Setelah diperkenalkan pada tahun 2009 untuk menggantikan sistem sertifikasi Soviet, EGE memiliki dua fungsi, yaitu menguji pelajar untuk mendapatkan ijazah sekolah menengah dan di saat yang sama berperan sebagai ujian masuk ke perguruan tinggi.

EGE diadakan secara serentak di seluruh penjuru Rusia. Matematika dan Bahasa Rusia merupakan mata pelajaran yang wajib untuk diujikan, sedangkan mata pelajaran ketiga tergantung dari jurusan yang diambil si pelajar. Hasil ujian akan dihitung dengan sistem 100 poin, dan sebelum dapat masuk ke perguruan tinggi, semua hasil tes akan dijumlahkan.

Pengenalan EGE ini dimaksudkan untuk menyelesaikan dua masalah utama dalam dunia pendidikan Rusia, yaitu yang pertama adalah untuk memberi kesempatan yang sama kepada mereka yang tinggal di kota besar dan mereka yang tinggal di daerah terpencil. Yang kedua adalah untuk mencegah terjadinya tindak korupsi. Dengan begitu, para pelajar dari kota kecil, seperti taiga Siberia dan pelajar asal Moskow, diharapkan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk dapat masuk ke universitas mana pun di Rusia. Namun, terlepas dari fakta bahwa kedua masalah ini sebagian besar telah dapat terselesaikan, sistem ini masih memiliki beberapa kekurangan, antara lain masalah kecurangan dan bocoran soal yang mudah didapat. Oleh karena itu, banyak pihak yang tidak setuju dengan pelaksanaan EGE.

Selain itu, menurut Rektor Universitas Negeri Moskow Viktor Sadovnichy, jenis ujian seperti ini tidak efektif bagi siswa-siswi berbakat. Oleh karena itu, Universitas Negeri Moskow dan Universitas Negeri Sankt Peterburg mendapatkan hak kusus untuk mengadakan tes ujian masuk tambahan. Belakangan, hak khusus tersebut juga dimiliki lima universitas negeri Rusia lainnya.

Pelanggaran dan Pengunduran Diri

Yang menjadi masalah utama dari EGE tidak hanya karena ujian tersebut dinilai tidak memberikan hasil efektif dalam pencarian bakat, tetapi juga karena mudahnya memalsukan hasil. Dengan sebelas zona waktu di Rusia dan penggunaan gadget yang canggih, para pelajar dengan mudah mendapatkan jawaban atas soal-soal ujian dari siswa lain yang berada di Vladivostok.

Kecurangan dalam EGE juga dapat disaksikan dalam salah satu rekaman video di YouTube yang direkam pada tahun 2013 di Kaukasus Utara. Di video tersebut, tampak para pelajar tanpa rasa malu mengambil foto hasil jawaban dari satu sama lain dan para pengawas terlihat tidak peduli.

Pemeriksaan Kantor Jaksa Agung mengonfirmasi laporan media mengenai siswa dari Dagestan dan sejumlah wilayah lain yang mendapatkan nilai 100 dalam mata pelajaran Bahasa Rusia, tapi nyatanya masih melakukan kesalahan umum dalam tata bahasa.

Kampanye terhadap kecurangan dan bocoran soal EGE menyebabkan pengunduran diri kepala Layanan Federal untuk Pengawasan di Bidang Telekomunikasi, Teknologi Informasi, dan Komunikasi Massa (Rosobrnadzor) dan pengkajian ulang pengadaan EGE.

Pada 2014 lalu, aparat bersenjata dilibatkan dalam pengiriman soal ujian. Tak hanya itu, di depan sekolah bahkan terdapat alat pemindai metal untuk mencegah para murid membawa telepon genggam ke ruang ujian. Sementara, di beberapa tempat digunakan pula alat khusus untuk mematikan sinyal telepon genggam.

“Jika hal ini didengar oleh negara lain, mungkin mereka mengira bahwa ini merupakan operasi yang dilakukan oleh badan intelijen,” ujar Perdana Menteri Dmitry Medvedev.

Perubahan juga dilakukan pada materi ujian. Pada tahun 2015, tes dihapuskan dari rangkaian ujian, tapi tugas-tugas yang diberikan untuk menentukan kelulusan juga ditingkatkan dengan lebih ketat. Pada akhirnya, atas prakarsa Presiden Vladimir Putin, esai sastra akan menjadi salah satu syarat siswa untuk dapat mengikuti EGE, yang kemudian dapat menjadi nilai tambahan untuk masuk ke perguruan tinggi.

Meski demikian, masyarakat masih belum sepenuhnya menerima bentuk baru ujian tersebut. Menurut hasil survei Pusat Riset Opini Publik Rusia (VTsIOM) pada bulan Mei 2014, di antara 1.500 responden di berbagai wilayah Rusia, sepertiga responden berpendapat bahwa kini EGE dinilai lebih baik dalam mengukur tingkat kecerdasan siswa dibandingkan sistem ujian terdahulu.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.