Sepanjang 2015, Kementerian Situasi Darurat Rusia Bantu Selamatkan Dunia

VLADIVOSTOK, RUSSIA. AUGUST 10, 2015. Fire fighters in a routine emergency exercise at Knevichi International Airport.

VLADIVOSTOK, RUSSIA. AUGUST 10, 2015. Fire fighters in a routine emergency exercise at Knevichi International Airport.

Yuri Smityuk/TASS
Bulan lalu, pesawat Be-200 Kementerian Penanggulangan Bencana (MChS) Rusia telah menyelesaikan misi pemadaman kebakaran hutan di Indonesia. Selain di Indonesia, sepanjang tahun 2015 ini, tim MChS Rusia telah melakukan 36 operasi penyelamatan dan misi kemanusiaan di 21 negara. RBTH memilih beberapa di antaranya yang paling unik.

Bantuan tim penyelamat dari MChS Rusia datang ketika ada permintaan dari pemerintah negara-negara bersangkutan dan berdasarkan keputusan Pemerintah Rusia. Namun terkadang, Rusia berinisiatif menawarkan bantuan terlebih dulu. Ini dikarenakan Rusia dapat mengetahui skala kecelakaan lebih baik dibandingkan dengan negara yang tertimpa bencana itu sendiri berkat bantuan sistem pemantauan dan pencegahan bencana.

Namun, seringkali izin terbang tim penyelamat diperoleh dalam waktu yang lama (mulai dari tiga hari hingga satu minggu), sedangkan bantuan dibutuhkan sesegera mungkin. Oleh karena itu, bantuan layanan diplomatik antara Rusia dan negara yang tertimpa bencana sangat dibutuhkan. Bekerja dengan negara-negara Asia Tenggara dianggap lebih mudah karena pesawat Rusia telah lebih dulu terbang dan mengisi bahan bakar tambahan di Siberia, sementara di waktu yang bersamaan, MChS Rusia dan layanan diplomatik negara yang bersangkutan menyelesaikan semua dokumen formal.

Gempa di Nepal

Pada pagi hari tanggal 25 April 2015, terjadi gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter (SR) di Nepal. Bencana alam ini menewaskan lebih dari 8.970 jiwa dan menyebabkan lebih dari 23 ribu warga terluka. MChS Rusia segera menawarkan bantuan kepada Nepal. Sebanyak 100 penyelamat “Centrospas” dan pusat operasi risiko khusus “Leader” dikirim ke lokasi bencana. Semua tim disertifikasi dalam sistem.

Dua pesawat Il-76 MChS Rusia membawa alat hidrolik ke Nepal untuk mengangkat katrol berat dan memotong logam, dan termasuk pesawat tanpa awak untuk pengintaian, instrumen pencarian akustik dan kompleks “String” untuk mendeteksi retakan mikro pada gedung-gedung.

Tim penyelamat memeriksa 54 ribu hektar puing-puing reruntuhan akibat gempa dan memeriksa 96 bangunan, termasuk di antaranya sejumlah rumah sakit, akademi seni (Sushila Arts Academy), dan kompleks kuil Buddha Shalpa. Dokter-dokter Rusia selama dua minggu turut membantu 500 warga yang terluka akibat bencana tersebut. Selain itu, pesawat MChS Rusia juga mengevakuasi 160 warga Rusia yang ingin kembali ke Rusia. Tim penyelamat Rusia bekerja selama 15 hari di Nepal, yaitu sampai 10 Mei.

Kebakaran Hutan di Indonesia

Pada tanggal 21 Oktober 2015, dua unit pesawat amfibi Be-200CS milik MChS Rusia memulai operasi pemadaman kebakaran hutan di Indonesia yang disebut-sebut organisasi lingkungan global Greenpeace sebagai kebakaran hutan terbesar di dunia. Dampak kabut asap dari kebakaran hutan ini bahkan sampai hingga ke negara-negara tetangga. Sementara di Indonesia, sejumlah sekolah dan transportasi umum ditutup akibat kabut asap.

Sebelumnya, pesawat amfibi ini pernah memadamkan kebakaran hutan di Indonesia. Kali ini, Rusia beroperasi di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Selama lima hari mereka berhasil memadamkan api. Sebulan kemudian, operasi dinyatakan selesai.

“Kami menggunakan hampir delapan ribu ton air serta memadamkan lebih dari 50 titik api, selain itu kami berhasil menyelamatkan masjid peninggalan dari abad XVIII, Taman Nasional, dan lebih dari dua puluh desa yang ditinggali oleh lebih dari 2.500 jiwa,” lapor layanan pers MChS kepada RBTH.

Pencarian Pesawat Air Asia

Di awal tahun 2015, MChS Rusia memulai operasi internasional pencarian pesawat Airbus A320 milik Air Asia yang jatuh di atas Laut Jawa. Pada 1 Januari, atas permintaan pihak Indonesia, MChS Rusia mengirim Il-76 dan Be-200CS. Di atas pesawat terdapat 75 anggota tim, peralatan menyelam dan peralatan bawah air yang dapat dioperasikan dari jarak jauh. “Pesawat melakukan pencarian di perairan seluas 2.300 kilometer persegi, dan menemukan 117 pecahan bangkai pesawat. Dengan bantuan peralatan bawah air “Falcon” yang mampu menginspeksi wilayah bawah laut seluas 3.100 meter persegi, marinir penyelamat dapat melakukan pencarian seluas 400 meter persegi di dasar laut,” demikian dikabarkan oleh layanan pers MChS. Rusia merupakan satu-satunya yang bersama-sama dengan pihak Indonesia mengangkat bagian ekor Airbus di tengah badai.

Membongkar Kereta Gantung di Transnistria

Sejak September 2014 hingga Juni 2015, 19 anggota penyelamat Rusia melakukan operasi yang unik dengan membongkar kereta gantung tua yang membentang di antara kota Rezina, Moldova dan Ribnitsa, Transnistria. Kereta gantung ini dibangun pada tahun 1962 untuk mengangkut bijih. Kereta gantung ini memiliki jalur sepanjang 3,7 kilometer dan melintasi rumah-rumah di kota Ribnitsa. Logam seberat 1.000 ton dapat runtuh kapan saja. Ruas jalan di atas sungai Dnepr adalah lokasi yang paling berbahaya sehingga pilar bangunan diledakkan. Pilar bangunan yang terbentang di atas perumahan harus dibongkar secara manual, sedangkan bagian lainnya diledakkan dan dibongkar di daratan.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.