‘Tiempo Russo’, Filipina Sambut Pengungsi Rusia Pasca-PD II

Para emigran Rusia di kamp sementara di Pulau Tubabao, Filipina.

Para emigran Rusia di kamp sementara di Pulau Tubabao, Filipina.

Val Sushkoff/President Elpidio Quirino Foundation
Pulau Tubabao menampung sekitar enam ribu warga Rusia yang mengungsi dari Tiongkok pada 1948, ketika mereka terancam dipulangkan secara paksa ke Uni Soviet. Mereka tinggal di Filipina selama empat tahun, dan warga lokal mengenang periode tersebut sebagai “Tiempo Russo”.

Seiring berubahnya arah angin dalam perang sipil Tiongkok pada 1948, komunitas “bule Rusia” yang kabur dari Rusia sehubungan dengan Revolusi Bolshevik, menghadapi kesulitan di negara tersebut. Pasukan yang loyal terhadap Partai Komunis Tiongkok memenangkan perang sipil melawan pemerintah yang dipimpin Kuomintang.

Komunitas Rusia, yang beranggotakan para cendekiawan, berkembang selama lebih dari 25 tahun di kota-kota seperti Harbin Beijing dan Shanghai. Saat komunis Tiongkok, yang disokong oleh Uni Soviet, berhasil mengalahkan kubu pemerintah, mereka mulai memulangkan orang-orang Rusia secara paksa ke Uni Soviet. Sebanyak 40 ribu suku Cossack dikirim ke Uni Soviet, lalu digiring ke kamp buruh di Timur Jauh Rusia. Komunitas “bule Rusia” di Tiongkok meminta bantuan pada beberapa negara melalui Organisasi Pengungsi Internasional (International Refugee Organization/IRO), yang kemudian menjadi Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (United National High Commissioner for Refugees/UNHCR).

“Banyak negara, termasuk AS, merespon dengan simpatik, namun hanya satu negara yang memberi jawaban yang benar-benar mereka butuhkan, negara yang kala itu benar-benar baru merdeka, Republik Filipina yang dipimpin oleh Presiden Elpidio Quirino,” terang Kinna Kwan, Peneliti Senior di Yayasan Presiden Elpido Quirino. Sekitar enam ribu pengungsi antikomunis meninggalkan Tiongkok menggunakan kapal bobrok menuju sebuah pulau kecil di Filipina, Tubabao (empat jam menggunakan bus dari kota Guiuan).  Mereka dievakuasi dengan bantuan IRO, terang Kwan. Selama empat tahun berikutnya, mereka tinggal di Filipina.

Bagi para penduduk lokal pulau tersebut, periode yang kerap disebut Tiempo Russo, atau Tempo Rusia, tersebut sangat menarik. Kwan menuliskan hal itu dalam artikel berjudul “The Philippines and Asylum: A Historical Perspective lecture by UNHCR Representative to the Philippines entitled Tiempo Ruso” (Filipina dan Pengungsi: Sebuah Perspektif Sejarah dari Perwakilan UNHCR mengenai Tempo Rusia di Benak Warga Filipina).

Komunitas ‘White Russian’ aktif bersosialisasi, menjalani hidup sebagaimana mestinya. Sumber: Val Sushkoff/ President Elpidio Quirino Foundation

Pulau yang kerap dilanda topan tersebut, yang merupakan stasiun penerima untuk tentara yang bekerja di markas AL Amerika sepanjang Perang Dunia II, memiliki populasi keluarga nelayan dalam jumlah kecil dan sejumlah struktur konkret.

Menurut Kwan, para pengungsi tersebut terdiri dari guru, dokter, insinyur, arsitek, bekas pejabat militer, pengacara, seniman, serta pendeta, yang memanfaatkan kemampuan profesional mereka untuk memperbaiki kondisi mereka dan mencoba memiliki hidup normal.

“Kamp tersebut segera berubah menjadi ‘kota Rusia kecil’ yang terbagi menjadi 14 distrik utama dengan pemimpin yang dipilih secara demokratis, dan memiliki dapur komunal yang terorganisir, pembangkit listrik, sekolah berbahasa Rusia, rumah sakit, klinik gigi, pengadilan arbitrasi, pasukan kepolisian dan penjara kecil, beberapa gereja — termasuk gereja kayu Ortodoks Rusia yang dibangun dari bekas gereja Amerika yang terbengkalai,” tulis Kwon dalam artikelnya.

“Dengan kerja keras, mereka mengubah permukiman menjadi kota kecil yang sangat layak ditinggali,” kata Larissa Goncharova, sejarawan yang menulis buku “White Russians”. Para pengungsi bahkan membangun bioskop terbuka, teater, dan menggelar kursus piano dan kursus tari, tambah Gocharova. “Mereka adalah salah satu yang pertama menyebarkan budaya Rusia di Filipina.”

Penduduk lokal di pulau tersebut benar-benar menghormati pendeta Ortodoks Rusia John Maximovitch. “Ia masih dikenang hingga saat ini, tak hanya oleh bekas pengungsi Tubabao, tapi juga penduduk lokal. Ia dikenal sebagai orang suci yang memberkati kamp dari empat arah setiap hari untuk menangkis topan dan ancaman lain,” tulis Kwan dalam artikelnya.

Pada Oktober 1949, Presiden Filipina Quirino mengunjungi kamp dan memerintahkan agar pagar berduri yang dipasang disekeliling kamp dicabut.

Selama tiga tahun berikutnya, para pengungsi mulai pindah ke negara lain. Sekitar separuh populasi pergi ke AS, dan sejumlah besar pengungsi pindah ke Australia dan Amerika Selatan. “Masih ada sekitar 40 keluarga yang saat ini tinggal di Manila,” kata Goncharova.  Kamp tersebut ditutup pada 1953.

Perayaan untuk mengenang mereka kerap digelar di Tubabao, dan beberapa pengungsi bersama keluarganya mengunjungi pulau ini untuk mengungkapkan terima kasih pada Filipina atas bantuan yang diberikan. “Perlu keberanian dan hati yang lapang bagi negara yang baru merdeka dan untuk menerima sejumlah besar pengungsi pada tahun 1940-an,” kata Goncharova. “Bahkan sekarang, banyak negara maju yang membangun tembok di perbatasan mereka agar tak ditembus pengungsi. Filipina sudah membuka jalan, hampir 70 tahun lalu.”

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.