Di Balik Berhala Shigir: Apakah Peradaban Eropa Datang dari Ural?

Berhala Shigir ,patung kayu tertua di dunia, sedang diteliti di Museum Regional Sverdlovsk. Yekaterinburg, Rusia, 24 Juni 2014.

Berhala Shigir ,patung kayu tertua di dunia, sedang diteliti di Museum Regional Sverdlovsk. Yekaterinburg, Rusia, 24 Juni 2014.

Photoshot/Vostock Photo
Penemuan dan studi atas berhala Shigir Raksasa mungkin membutuhkan pemikiran ulang untuk memahami sejarah. Ilmuwan yakin bahwa pengembangan budaya Eurasia tak hanya datang dari Timur Tengah, tapi juga dari Ural.

Pada akhir Agustus 2015, patung berhala Shigir Raksasa dinobatkan sebagai patung kayu terkenal tertua di dunia. Para dendrokronolog (ahli penanggalan lingkar pohon -red.) dan arkeolog terkemuka menyebutkan bahwa patung ini berusia 11 ribu tahun. Patung ini muncul pada awal periode Holosen (periode dalam skala waktu geologi yang berlangsung mulai sekitar 10.000 tahun radiokarbon, atau kurang lebih 11.430 ± 130 tahun kalender yang lalu -red.), di ambang era glasial dan era saat ini.

Komunitas akademik mungkin perlu merevisi titik predominan terkait semua kemajuan, dari pertanian hingga persepsi filosofi dunia, dibawa ke Eropa oleh petani kuno Timur Tengah.

Level pengembangan masyarakat yang tinggal di hutan Ural dan Siberia 11 ribu tahun lalu sangat tinggi, demikian disampaikan peneliti utama di Institute of Archeology, Mikhail Zhilin. “Mereka hidup berdampingan dengan alam, lebih dari yang bisa kita bayangkan,” kata Zhilin.

Misteri Berhala: Gambar Ketujuh

Ide untuk melakukan analisis independen mengenai berhala Shigir diajukan pada 2014 oleh Profesor Thomas Terberger, kepala peneliti di Departemen Warisan Budaya Lower Saxony (Hannover). Ia ingin mengetahui usia patung menggunakan perangkat canggih yang tersedia. Patung tersebut ternyata lebih tua dari yang diperkirakan, yakni 11 ribu tahun.

Dendrokronolog dari Institut Arkeologi Jerman di Berlin menyatakan bahwa patung itu dibuat dari pohon larch Siberia yang baru dipotong. Pohon tersebut setidaknya berusia 157 tahun saat patung dibuat.

Thomas Terberger yakin bahwa patung Shigir merupakan mahakarya paling luar biasa dalam warisan budaya Zaman Batu di Eurasia. “Dalam studi kami, kita yakin bahwa pengembangan budaya Eurasia tak hanya berakar dari Timur Tengah, namun dari tempat lain, yang sama berkembangnya, khususnya Ural,” katanya.

Selain itu, baru-baru ini ilmuwan menemukan gambar misterius ketujuh di belakang patung. Sebelumnya, para ilmuwan hanya mengetahui ada enam gambar di patung tersebut. Gambar tersebut hanya bisa dilihat melalui mikroskop. Terdapat ukiran yang menggambarkan sejumlah figur, delapan karakter. Makna mereka masih misteri sama seperti rahasia patung pemujaan lain, seperti terbuat dari apa dan dengan alat apa.

Bagaimana Patung Ditemukan dan Dipelajari

Patung Shigir Raksasa ditemukan pada 1890 di sebuah rawa gambut antara kota Yekaterinburg dan kota Nizhny Tagil. Pada saat itu, area tersebut merupakan tambang emas. Saat penggalian, banyak artefak kuno rawa gambut Shigir hilang, namun yang lainnya berhasil diselamatkan, seperti mata panah yang terbuat dari tulang pada Zaman Batu misalnya.

Patung tersebut diangkat dari rawa sedikit demi sedikit. Saat mereka disatukan kembali, ternyata patung tersebut setinggi 5,3 meter, dihiasi dengan ukiran misterius. Namun, bagian bawahnya sepanjang 193 cm hilang. Pemilik tambang emas, Alexey Stenbok-Fermor, menyerahkan patung pada Museum Urals Natural Sciences Society, yang kini dikenal sebagai Museum Sejarah WIlayah Sverdlovsk.

Ilmuwan Rusia mulai mempelajari patung seratus tahun kemudian, pada 1997. Dengan menggunakan analisis radiokarbon, laboratorium khusus di Moskow dan Sankt Peterburg menetapkan bahwa patung tersebut setidaknya berusia 9.500 tahun.

Pengumuman tersebut memicu perdebatan: kaum skeptis beranggapan patung dibuat dari kayu larch yang tergeletak di rawa selama tiga hingga lima ribu tahun. Kemudian ilmuwan menyadari bahwa patung tersebut memiliki lebih banyak rahasia.

“Kami yakin bahwa patung dibuat dari pohon yang baru ditebang karena kita tahu seberapa cepat pohon yang diambil dari rawa kering dan berubah bentuk, sehingga tak mungkin membuat patung dari kayu semacam itu,” kata peneliti di Departemen Sejarah Kuno Ural di Museum Sejarah Sverdlovsk Svetlana Savchenko.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.