Enam Mitos Umum Warga Tiongkok di Mata Orang Rusia

Perwakilan operator tur dan media Tiongkok selama kunjungan mereka ke Kremlin Kazan, Kazan, Rusia, 27 Agustus 2015.

Perwakilan operator tur dan media Tiongkok selama kunjungan mereka ke Kremlin Kazan, Kazan, Rusia, 27 Agustus 2015.

Yegor Aleev / TASS
Masyarakat Rusia memiliki mitos umum tentang warga Tiongkok yang tidak benar. Reporter Kommersant menyebutkan beberapa di antara mitos tersebut.

1. Tiongkok mengklaim Siberia dan Timur Jauh

Bohong. Wilayah Siberia dan Timur Jauh sebelumnya dimiliki oleh bangsa Manchu yang merupakan musuh Tiongkok. Ada beberapa nasionalis agresif di Tiongkok, tetapi mereka tahu sejarah mereka. Secara resmi maupun tidak, tidak ada klaim dari Tiongkok ke Rusia. Namun, ada pengakuan terkait perbatasan dari kedua sisi perbatasan yang Tiongkok tidak miliki dengan India, misalnya. Ketiadaan klaim perbatasan ditetapkan oleh Deng Xiaoping dan Gorbachev pada tahun 1989.

2. Warga Tiongkok adalah militan dan agresif

Sejarah membuktikan sebaliknya.Tiongkok adalah satu-satunya suku bangsa yang gagal dalam setiap perang dan dikalahkan oleh pihak manapun. Para pedagang ulung, pengrajin dan pelukis jenius, seniman, petani hingga para produsen produk teknologi canggih berasal dari Tiongkok. Namun, tidak dalam bidang militer. Mereka tidak suka berperang dan saat ini pemerintahan Tiongkok mencoba untuk mengubah pola pikir ini, tapi para ahli tidak percaya mereka akan berhasil.

3. Tiongkok “menempati” Rusia

Hal ini justru bertolak belakang dengan fakta. Ada sebuah fakta “horor” dari tahun 1990-an, ketika warga Tiongkok beremigrasi ke Eropa melalui Rusia. Sejak itu, jumlah masyarakat Tiongkok di Rusia menurun tajam. Pihak imigrasi justru berhadapan dengan masalah orang-orang dari Uzbekistan, Ukraina, dan Moldova, tetapi bukan Tiongkok.

4. Warga Tiongkok disiplin dan tunduk pada kekuasaan otoriter

Ini sama sekali tidak benar. Bahkan pada era kekuasaan Mao, masyarakat sangat aktif dan dinamis. Saat ini pun juga seperti itu. Ada banyak penyebab skandal dan semua orang yang melakukan skandal saling ribut. Hal lainnya adalah mereka tidak memikirkan mengenai penggulingan pemerintahannya dan tidak merasa membutuhkan demokrasi ala Barat di Tiongkok.

5. Warga Tiongkok mirip dengan warga Rusia bagai saudara

Tidak selalu. Jajak pendapat menunjukkan bahwa mereka memperlakukan Rusia dengan lebih hormat dan Vladimir Putin ditempatkan sebagai contoh pemimpin mereka. Namun secara umum, mereka tidak menarik bagi Rusia. Di Rusia, hasil jajak pendapat menunjukkan hasil yang beragam, tapi dengan tendensi yang sama di Tiongkok. Satu-satunya hal yang menyatukan Rusia dan Tiongkok adalah konservatisme non-Barat pada nilai-nilai dasar.

6. Tiongkok adalah mitra yang tidak menguntungkan dan predator

Jangan percaya. Hanya saja, mereka tahu cara menghitung uang dan bernegosiasi sampai sen terakhir. Berbeda dengan Barat, Tiongkok benar-benar tidak idealis. Tiongkok tidak mengekspor nilai-nilai kearifan politik dengan produk ekonomi. Hal ini adalah sesuatu yang sangat dihargai bagi para mitra Tiongkok.

Berbagai praktik menunjukkan, mitos yang paling tajam tentang Tiongkok dan warganya datang dari orang-orang yang tidak mengetahui konsep tentang Tiongkok dan menyebarkan propaganda.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Kommersant.
 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

More