Mengapa Gelar S1 Ganda Populer di Kalangan Mahasiswa Rusia?

Artem Geodakyan/TASS
Entah dari mana asalnya tren baru untuk memiliki beberapa ijazah perguruan tinggi merebak di Rusia, dan mengapa mayoritas warga Rusia tidak memilih sebagai tenaga terampil?

Pada pertemuan Pemerintahan Rusia bulan Juli lalu, Perdana Menteri Dmitry Medvedev menyebutkan bahwa negara harus terus menggaungkan profesi tenaga terampil. Medvedev menilai, hal ini akan mempengaruhi perkembangan ekonomi negara.

Polomoshnova Natalia (20) saat ini sedang menempuh pendidikan di dua fakultas berbeda di Universitas Negeri Sankt Peterburg, yaitu Fakultas Jurnalistik, tempat ia belajar penuh sehari-hari, dan di Fakultas Hukum (belajar dengan metode pembelajaran jarak jauh). Menurut Natalia, dasar pendidikan hukum akan membantunya menjadi jurnalis yang lebih spesialis, sedangkan gelar master (yang masuk dalam rencananya di masa mendatang) dipercaya akan memberi kesempatan mempraktikkan lebih banyak ilmu, dan baginya hal ini sangat menarik.

Siswa lain di Rusia yang ingin mendapatkan dua gelar sekaligus seperti Natalia memang semakin banyak. Seringkali gelar kedua diperoleh secara paralel dengan gelar yang pertama, dan yang ketiga diperoleh dalam program master. Alhasil, dalam enam atau tujuh tahun saja, mereka mampu mendapatkan tiga ijazah sekaligus. Alasan para mahasiswa ini berbeda-beda, tetapi beberap alasa yang populer antara lain dikarenakan perubahan tren profesi, pertumbuhan karir, dan pendalaman pengetahuan ilmiah.

Menurut Direktur Institut Pendidikan Sekolah Tinggi Ekonomi Isak Frumin, kenaikan popularitas perguruan tinggi dan rendahnya gengsi pekerjaan sebagai tenaga terampil disebabkan faktor warisan era Soviet.

“Di era Soviet, sistem perguruan tinggi merupakan pendidikan yang sangat khusus,” kata Frumin kepada RBTH.

“Di era Soviet, para lulusan universitas ditempatkan atau didistribusikan ke berbagai lapangan pekerjaan oleh negara. Mereka mendapatkan pekerjaan tetap. Namun, ketika masa pendistribusian wajib tersebut selesai dan pasar tenaga kerja muncul, orang-orang mengerti bahwa spesialisasi yang mereka miliki justru menjadi penghambat dalam mencari pekerjaan,” kata Frumin menambahkan.

“Selain itu, kebutuhan orang-orang yang berlatar belakang manajemen, hukum, dan bisnis meningkat tajam. Hal ini menyebabkan orang-orang yang sebelumnya sudah memiliki pendidikan tinggi di wilayah spesialisasi tertentu harus ditatar ulang.”

Kelangkaan Pekerja Terampil

Menurut BBC Rusia, masalah kelangkaan dan gengsi tenaga terampil muncul pada zaman Soviet. Meskipun fakta bicara bahwa operator mesin terampil berpenghasilan dua kali lebih besar dibandingkan peneliti junior di sebuah lembaga penelitian, orang-orang Soviet tetap percaya bahwa dalam status sosial, pilihan kedua (peneliti junior) lebih tinggi dan bergengsi serta menghasilkan lebih banyak dalam kehidupan.

Kini lulusan sekolah kejuruan dengan spesialisasi bidang kerja mampu berpenghasilan lebih banyak dibandingkan dengan kebanyakan peneliti. Sebagai contoh, ahli pemasangan pintu interior apartemen di Moskow dapat menghasilkan lebih dari 100 ribu rubel (sekitar 22 juta rupiah) per bulan, dibandingkan dengan gaji rata-rata di kota yang sebesar 60 ribu (sekitar 13 juta rupiah) per bulannya. Namun, bagaimanapun juga hal ini tidak lantas membuat sekolah kejuruan terlihat lebih bergengsi.

“Setiap tahun, sekitar enam juta lulusan universitas di Rusia menerima ijazah perguruan tinggi. Kebanyakan dari mereka adalah sarjana humaniora. Di sisi lain, perusahaan industri mengalami kesulitan mencari dan merekrut staf untuk posisi teknis atau insinyur,” kata Kepala Personalia Pengembangan Listrik Tenaga Nuklir Leningrad Irina Efimenko kepada RBTH. “Selain itu, memiliki dua ijazah tidak mampu menggantikan pengalaman di sektor riil produksi.”

Data Statistik

Menurut jajak pendapat Yayasan Opini Publik yang dilakukan pada musim gugur ini, satu dari tiga warga Rusia percaya bahwa seseorang dengan pendidikan tinggi akan mendapatkan penghasilan lebih besar dibandingan dengan mereka yang tidak mengenyam pendidikan di bangku universitas.

Pada saat yang sama, sebanyak 32 persen responden percaya bahwa saat ini orang-orang yang memiliki gelar perguruan tinggi berjumlah lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Hal ini dikonfirmasi oleh survei yang dilakukan oleh HeadHunter pada tahun 2013 yang menunjukkan bahwa sebesar 62 persen perusahaan cenderung lebih berhati-hati jika mendapati pelamar kerja yang memiliki tiga ijazah.

Pada saat yang sama, sebuah survei lembaga Opini Publik pada tahun 2013 menunjukkan bahwa profesi tenaga terampil di Rusia hanya sebesar dua persen dari indeks popularitas. Di samping itu, sebesar 37 persen responden percaya bahwa negara mereka kekurangan tenaga terampil.

Pada tahun lalu, menurut Sekolah Tinggi Ekonomi, jumlah lulusan perguruan tinggi di bidang ilmu fisika dan matematika sebanyak 16.800 orang, sedangkan untuk jurusan humaniora sebanyak 291.400 orang.

Secara resmi, dalam database Moskow kini tersedia sekitar 140 ribu lapangan pekerjaan dan 75 persen diantaranya membutuhkan tenaga terampil. Meski begitu, pelamar untuk bidang ini terhitung sangat sedikit karena dari jumlah total pengangguran hanya sekitar 30 persen yang berprofesi sebagai tenaga terampil profesional.

Kelompok Perusahaan dan Sekolah Kejuruan

Menurut Irina Abankina, Direktur Insitut Pendidikan Sekolah Tinggi Ekonomi, Rusia harus mampu membalikkan stigma masyarakat mengenai perbedaan “universitas dan pekerjaan”, serta menunjukkan kepada anak-anak muda bahwa orientasi akademis dan kemampuan teknis sama-sama dibutuhkan dan menguntungkan.

Meski peningkatan gengsi tenaga terampil adalah tugas negara yang baru mulai diatasi, kini telah ada contoh kerja sama yang baik antara lembaga pendidikan menengah kejuruan dengan perusahaan-perusahaan.

Sebagai contoh, di Kaluga College of Information Technology, ada program pelatihan praktis yang dikembangkan oleh para ahli dari “Volkswagen Group Rus”.

Di cabang Perusahaan Rosenergoatom Concern, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Leningrad, para mahasiswa tingkat akhir di diterima menjadi pekerja penuh di divisi teknologi perusahaan ini.

“Prinsip seperti ini banyak diterapkan di Eropa. Yang terbaik adalah mempersiapkan mahasiswa tingkat akhir pada bidang tertentu, termasuk kurikulum dan program-program khusus. Jika terus-menerus dilakukan pengenalan eksperimen yang lebih luas, bukan hal mustahil jika para lulusan tersebut mampu mendapatkan jaminan kerja, bahkan dengan gaji yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesialis universitas,” kata Irina Abankina dengan RBTH.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.