Lebih Berbahaya, Mafia Asia Tengah Geser Posisi Mafia Rusia

Salah satu adegan dari serial "Brigada" (2002).

Salah satu adegan dari serial "Brigada" (2002).

kinopoisk.ru.
Masa kejayaan mafia Rusia telah runtuh sejak tahun 90-an, dan kini karena situasi di Rusia membaik, pertumbuhan kelompok kriminal negara itu telah terhenti. Sebagian besar mafia dipenjara, kelompok kejahatan terorganisir telah dibubarkan, dan ada sebagian yang telah dilegalkan dan telah berkomitmen untuk meninggalkan kejahatan. Namun, muncul tantangan baru: kehadiran kelompok kriminal etnik yang mengendalikan kejahatan jalanan dan perdagangan narkoba.

Bagi warga Rusia, kata mafia berkaitan erat dengan tahun 90-an, pada masa transisi menuju sistem ekonomi pasar. Kala itu, kejahatan terorganisir merajalela, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selama periode ini para penjahat berkesempatan menguasai ibukota, pintu untuk memasuki pemerintahan terbuka lebar bagi mereka (hal ini lalu memicu kemunculan korupsi elit).

Selain itu, mereka juga melakukan berbagai kejahatan lain seperti pemerasan, prostitusi, perjudian, dan perdagangan narkoba.

Gaya Tahun 90-an

Di tahun 90-an, jumlah kriminalitas meningkat tajam. Kelompok penjahat kerap terbentuk berdasarkan wilayah. Misalnya, salah satu kelompok yang paling berpengaruh di tahun 90-an adalah "Solntsevskie" dan "Orekhovskie" dari wilayah "Solntsevo" dan "Orekhovo" di Moskow. Namun, cakupan area operasi kejahatan mereka tak terbatas pada wilayah asal. Pada masa kejayaannya, "Solntsevskie" mengendalikan puluhan perusahaan dan hotel di Moskow serta wilayah sekitar Moskow, dan menguasai kota-kota lain seperti di Arkhangelsk, Murmansk, Tolyatti, bahkan sampai ke luar negeri.

Berdasarkan informasi dari situs "Dunia Kriminal", pada tahun 1995 tercatat sebanyak 120 bank dan perusahaan berada di bawah kekuasaan "Solntsevskie". Pada 1997, pemimpin "Solntsevo" memiliki 250 anak buah yang bertugas membela kepentingan kelompok kejahatan terorganisir tersebut. Selain ‘Solntsevo’, ada pula "Tambovskie" di Sankt Peterseburg, "Volgovskie" di Tolyatti, dan "Slonovskie" di Ryazan.

Kelompok mafia tersebut saling bersaing menguasai wilayah-wilayah prospektif sehingga kerap terjadi konflik antarmafia. Ratusan bandit terbunuh, namun hal itu tak mengurangi minat orang-orang untuk bergabung dengan kelompok mafia. Pada masa itu, bahkan banyak penjahat yang sebelumnya berprofesi sebagai tentara, polisi, atlet, atau sekadar pemuda biasa.

Sementara, elit dunia kriminal sudah hadir sejak tahun 1930-an. Mereka biasanya memiliki kekuasaan yang hampir tak terbatas untuk menyelesaikan sengketa antar-mafia dan menjaga uang kas umum. Harga yang harus dibayar anggota mafia tak murah. Mereka tak boleh memiliki properti, bekerja, atau berkorespondensi dengan pihak berwenang.

Beberapa kriminal kelas kakap sudah dikenal sejak era Uni Soviet, salah satunya Aslan Usoyan yang kerap dijuluki Kakek Hassan. Pada 2013, Usoyan ditembak seorang pembunuh. Tragedi tersebut diberitakanThe Washington Post, yang menjulukinya sebagai "Don Carleone Rusia". Kakek Hassan (75) yang berasal dari Tbilisi ini adalah raja kriminal Rusia, tak heran kematiannya mencuri perhatian dunia.

Sosok legendaris lain di tahun-tahun sebelumnya adalah Vyacheslav Ivankov yang dijuluki "Orang Jepang Kecil". Pengaruh Ivankov sampai ke kalangan pebisnis di Amerika Serikat. Ia pindah ke AS dari Rusia pada awal 1990-an. Media Barat menyebut Ivankov sebagai pemimpin mafia Rusia di New York. Pada 1995, Ivankov ditahan ditangkap oleh FBI atas tuduhan pemerasan dan ia harus menjalankan masa tahanan hampir sepuluh tahun. Saat kembali ke Rusia, Ivankov bekerja sama dengan Kakek Hassan hingga ajal menjemputnya pada 2009.

Namun, tak semua kriminal tahun 90-an bernasib serupa. Banyak dari mereka yang kini sukses menjadi pengusaha terhormat dan tidak memiliki masalah dengan hukum.

Situasi Terkini

Kekacauan pada tahun 90-an adalah masa lalu. Kini situasi di Rusia cukup stabil, dan anak buah Kakek Hassan umumnya cukup patuh dan mau bekerja sama dengan pemerintah.

Dalam sebuah wawancara dengan Kommersant, Kepala Intelijen Kepolisian Moskow Vladimir Zinoviev mengatakan bahwa para kepala geng mafia tahun 90-an tentu tidak lagi muda. Lagipula, mengembalikan situasi seperti era 90-an tidak menguntungkan kedua belah pihak. Sementara, Zinoviev yakin geng wilayah seperti "Solntsevskie" dan "Orekhovskie" telah musnah, anggotanya sebagiah telah wafat, dipenjara, atau masuk dalam daftar buronan internasional karena bersembunyi di luar negeri.

Menurut Zinoviev, kini bahaya yang jauh lebih besar datang dari para imigran gelap, terutama mereka yang berasal dari Asia Tengah. Berbeda dengan para penjahat zaman dulu, para imigran gelap tersebut tak memiliki kode moral dan bertindak tanpa kendali. Mereka terutama bergerak di bidang kejahatan jalanan. Berdasarkan data statistik Moskow, separuh kejahatan di ibukota seperti perampokan dan pemerkosaan dilakukan oleh kelompok tersebut.

Ada pula kasus perampokan gudang, saat para imigran yang bekerja sebagai kuli dan pembersih memberikan informasi kepada kenalan mereka dan menceritakan barang-barang berharga di gudang. Jangan meremehkan kelompok kejahatan terorganisir dan perdagangan narkoba, proporsi yang signifikan dari perdagangan heroin Afghanistan ke Rusia justru dilakukan oleh penduduk asli Tajikistan dan kaum Gipsi. Selain imigran dari Asia Tengah, aksi kriminal juga banyak dilakukan oleh imigran dari Kaukasus. Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Humas Kementerian Dalam Negeri Rusia Andrei Galiakberov dalam wawancara dengan RBTH.

Kejahatan etnis menimbulkan risiko lintas batas. Kelompok ini datang dan melakukan serangkaian kejahatan lalu kembali ke negara asal mereka. Kepala Departemen Hukum Pidana dan Kriminologi MGIMO Aleksey Malinovski menjelaskan bahwa anggota kelompok kriminal tersebut sering beroperasi di beberapa wilayah negara. Untuk memerangi hal tersebut, Rusia bergabung dengan Konvensi PBB yang menentang kejahatan transnasional terorganisir sejak 2004.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.