Muslim Moskow Persiapkan Idul Adha Lebih Awal

AP
Khotbah pada Hari Raya Idul Adha (Kurban Bairam) yang akan berlangsung pagi hari, 24 September, di Masjid Katedral Moskow, seperti biasanya akan menghadirkan ribuan pemeluk Islam di Rusia. Di sebanyak 39 tempat di Moskow dan wilayah sekitar Moskow akan diadakan salat Idul Adha, lalu kemudian di pinggiran kota, warga Muslim akan melaksanakan ritual kurban.

Umat Islam ibu kota kini dapat melakukan kurban tanpa benar-benar meninggalkan rumah. Sebanyak 15 peternakan dan layananan penyembelihan hewan kurban di pinggiran kota Moskow menawarkan jasa penyembelihan hewan berdasarkan pesanan. Dengan demikian, pada Hari Raya Idul Adha, daging yang disembelih sesuai dengan aturan Islam, dikemas dengan rapi, dan dikirimkan ke rumah-rumah.

Yayasan penyelenggara secara khusus menggalang dana untuk penyediaan hewan kurban. Kemudian yayasan akan mendistribusikan daging kepada yang berhak. Biaya rata-rata dari domba kurban saat ini mulai dari 90 dolar AS (di Tatarstan dan Bashkortostan) hingga 120 dolar AS (di Moskow, Ingushetia, dan Chechnya).

“Harga mendekati hari raya selalu meningkat,” ujar seorang pengusaha Ramis Akbarov (42). “Teman ayah saya tinggal di desa, ia membeli domba beberapa bulan sebelum liburan lalu memeliharanya, setelah dihitung harganya jauh lebih murah.”

Hidangan utama yang biasa dihidangkan di keluarganya adalah makanan yang diolah dari daging domba, Jis-Biz. Mereka menyebutnya seperti itu, karena seperti itulah suara yang ditimbulkan oleh daging saat dimasak di dalam kuali.

Domba Kerajinan Tangan

Sebuah keluarga ilmuwan di bidang studi Arab Almaz Abdrakhmanov telah mempersiapkan hari raya dengan menyeluruh. Mereka menghiasi apartemen mereka, mempersiapkan hadiah dan menyediakan suguhan. Setelah salat Subuh, seluruh keluarga, Almaz, istrinya yang seorang psikolog di sebuah madrasah Moskow “Al-Fatihah" Yulia Zamaletdinova, anaknya yang bernama Karim (8), Liliya (4) bersama-sama berkumpul di meja besar.

“Kami telah mempersiapkan hari raya sejak jauh hari, di awal bulan Dzulhijjah,” ujar Yulia Zamaletdinova dalam wawancaranya dengan RBTH. “Setiap hari sejak awal bulan Dzulhijjah, kami telah membicarakan hal ini kepada anak-anak, apakah kaitannya dengan Dzulhijjah dan mengapa jutaan jemaah muslim berangkat ke Mekah. Kami menceritakan kisah haji.”

“Kami sekeluarga merayakan Hari Raya Idul Adha ini secara sungguh-sungguh,” ujar Abdrakhmanov. “Saya dengan Julia mengambil cuti kerja dan benar-benar ‘menenggelamkan diri’ dalam suasana hari raya. Pada malam sebelum hari raya, Yulia akan mempersiapkan hidangan, sedangkan saya dan anak-anak akan belanja semua barang yang dibutuhkan. Istri saya selalu mencoba membuat kejutan dengan beberapa hidangan baru di hari raya, tetapi biasanya adalah hidangan berbahan dasar daging.”

Tahun ini, sebagai hadiah, Karim dan Lilya Abdrakhmanov membuat domba yang terbuat dari cone dan dedaunan yang telah gugur. Ide untuk membuat domba mainan yang terbuat dari bahan bekas seperti tape, batu hiasan, kain felt, kertas karton muncul beberapa tahun yang lalu di jejaring sosial saat para orangtua dengan anak-anaknya memublikasikan ide-ide untuk proyek kerajinan tangan.

Misi Haji

Sudah beberapa tahun, Almaz dan Yulia bersama-sama dengan para relawan yang sepemikiran menyelenggarakan misi hari raya yang dikhususkan untuk perayaan Idul Adha. Ini semacam pelatihan haji untuk anak-anak yang kemudian akan diperkenalkan dengan tahapan dalam ibadah haji dan asal-usul tradisi ini.

Misi haji ini menerima hingga 200 peserta anak-anak. Mereka dibantu oleh para guru, relawan, dan orangtua. “Sangat penting bagi anak-anak untuk tidak hanya menjadi penonton acara, tetapi juga terlibat secara langsung,” ujar Zamaletdinova. “Kami berusaha agar tamu kecil kami mendapat pengetahuan baru, terinspirasi oleh kreativitas, bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru.”

Anak-anak mengenakan pakaian ihram, membangun masjid, melakukan perjalanan memutar mengelilingi Kakbah tiruan, menonton film pendidikan, meminum air Zam-Zam dan saat berada di dekat Gunung Arafat, mereka memohon dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

“Ya Allah, berilah kami semua kesehatan serta agar orangtua saya tidak memarahi saya,” tulis Sonya. “Saya ingin menjadi pemain sepak bola,” tulis Imran. “Saya ingin agar Gulnara Hanum menikah,” ungkap Karim.

Ruang Lingkup Perayaan

“Masyarakat kita tumbuh, berkembang, dan meningkatkan pelaksanaan hari raya ini dengan sangat baik,” ujar Yulia Zamaletdinova. “Banyak klub dan organisasi yang menawarkan program-program mereka. Kami secara bertahap tumbuh hingga kami dapat bebas memilih, ke mana kami akan pergi bersama sekeluarga untuk merayakan hari raya. Hal ini sangat menginspirasi.”

Radik Nazmetdinov (36), seorang pengusaha, setuju bahwa kini Hari Raya Idul Adha telah meluas dan terus tumbuh. Terjadi peningkatan pada industri halal dan "layanan muslim" bagi umat Islam pun kini menjadi lebih populer. Ia dengan mudah membandingkan hal ini karena ia sudah lebih 12 tahun merayakan Idul Adha di Moskow.

“Setiap tahunnya, jemaah meningkat menjadi semakin lebih banyak, hingga saya sudah tidak berencana untuk bisa masuk ke dalam masjid,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan RBTH. “Tapi ada rasa senang saat Anda datang untuk salat. Lalu di sebelah kanan, kiri, depan, belakang, ada perasaan kesatuan, terlepas dari bangsa Chechen, Tatar, Azerbaijan, Dagestan, Tajikistan, Uzbekistan, semua berbeda, namun kami tetap bersama-sama.”

Ketika ke masjid, Nazmetdinov mengenakan sepatu mahal, celana jeans dan kemeja yang telah dipersiapkan sang istri khusus untuk menyambut hari raya. Selepas perayaan, mereka akan menerima ucapan selamat. “Kenalan saya yang non-Muslim juga sering mengucapkan selamat. Mereka ingat karena menyaksikan perayaan di televisi,” ujarnya.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.