Loyalitas Warga Rusia Terhadap Gereja Semakin Menurun

Pendeta Ortodoks melaksanakan kebaktian di depan pesawat antariksa Soyuz TMA-13M yang berada di landasan peluncuran pesawat angkasa luar, Baikonur, 27 Mei 2014.

Pendeta Ortodoks melaksanakan kebaktian di depan pesawat antariksa Soyuz TMA-13M yang berada di landasan peluncuran pesawat angkasa luar, Baikonur, 27 Mei 2014.

Reuters
Selama 25 tahun terakhir, banyak warga Rusia yang mengubah sikap mereka terhadap gereja. Hanya lebih dari sepertiga penduduk yang setuju upaya peningkatan popularitas agama, sedangkan hampir satu dari lima orang percaya bahwa agama hanya membawa keburukan.

Menurut Konstitusi, Rusia adalah negara sekuler yang memisahkan gereja dengan pemerintahan. Namun demikian, beberapa hari yang lalu, Accounts Chamber of Russia dan Gereja Ortodoks Rusia menandatangani perjanjian kerja sama dalam memerangi korupsi. Selain itu, beberapa tahun yang lalu mulai diperkenalkan pula mata pelajaran wajib dasar-dasar budaya agama dan etika sekuler di sekolah.

“Gereja semakin banyak mencampuri kehidupan pribadi,” ujar kepala gerakan “Sankt Petersburg, Ibukota Spiritual” Elena Babich. “Semuanya berjalan dengan sangat agresif dan menimbulkan agresi yang sebaliknya. Tidak ada dialog dengan masyarakat dan ini cukup mengkhawatirkan warga.”

Hanya 36 persen dari warga Rusia yang menyetujui upaya peningkatan popularitas agama, dibandingkan pada tahun 1990 yang berkisar 61 persen. Pada saat yang sama, sebanyak 23 persen percaya bahwa penyebaran kepercayaan berdampak buruk bagi masyarakat dibandingkan 25 tahun lalu yang hanya berkisar 5 persen (hasil jajak pendapat pada bulan Juli 2015).

“Gereja kini digunakan untuk kepentingan bisnis dan tidak lagi melayani masyarakat. Proyek gereja kini hanya berhubungan dengan pendanaan negara,” ujar Babich. “Pembangunan gereja-gereja kini dilakukan dengan pesat dan warga memandang ini sebagai hal yang negatif. Taman-taman dan tempat rekreasi warga kota diambil alih pihak gereja untuk pembangunan kapel dan gereja. Meskipun jumlah gereja di tengah kota terbilang cukup, kebanyakan kosong. Hanya sedikit warga yang datang ke gereja untuk ikut serta dalam upacara ortodoks.”

Gereja dan kapel di Moskow berjumah lebih dari seribu. Selain itu, beberapa tahun yang lalu telah diluncurkan program pembangunan 200 gereja di ibu kota yang harus mampu dicapai dengan mudah oleh seluruh warga kota dengan berjalan kaki. Dalam program ini, gereja akan dibangun di wilayah-wilayah yang “tertidur” dan ditargetkan pembangunan satu gereja untuk setiap 20 ribu orang.

“Kami sebelumnya mempunyai sebuah taman dengan telaga di depan rumah kami di wilayah metro Babushkinskaya,” cerita Anton Vasiliev yang merupakan warga setempat. “Tempat itu adalah satu-satunya tempat kami bisa berjalan-jalan santai dengan anak kami. Pada musim dingin biasanya kami bisa menggunakan kereta salju untuk bermain seluncur es. Kini semuanya dipagari dan dalam waktu dekat akan dibangun gereja. Kami sudah menentangnya, tapi tidak ada pihak yang mendengarkan kami. Saya orang yang cukup religius dan saya tidak keberatan untuk berjalan 15 menit menuju gereja terdekat, tapi mengapa harus membangun gereja tepat di depan rumah saya?”

Sebanyak 18 persen warga Rusia menentang pembangunan tempat ibadah agama mereka di dekat rumahnya. Sebanyak 43 persen lainnya melawan munculnya tempat ibadah agama lain. Tidak sedikit terjadi perdebatan sengit di sekitar gereja yang telah dibangun.

“Kini di Sankt Peterburg, warga bersatu melawan upaya pelolosan izin pemindahan Katedral Isaakovsky dari administrasi kota ke gereja ortodoks,” ujar Babich. Katedral tidak pernah dimiliki oleh gereja, melainkan selalu diurus oleh negara, mereka dibangun menggunakan anggaran negara. “Kami takut menghilangkan Katedral itu berarti menghilangkan museum dan obyek wisata.”

Warga Rusia Memisahkan Antara Iman dan Gereja

Psikolog mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir warga Rusia mulai memisahkan konsep “gereja” dan “keimanan” meski ini tidak mengurangi jumlah warga yang bersifat religius. Sebanyak 55 persen warga Rusia percaya bahwa iman membantu mereka dalam menjalani kehidupan. Pada tahun 1990, hanya ada 23 persen orang-orang yang berpegang teguh pada hal ini.

“Orang-orang religius lebih banyak datang ke gereja dan mengamati kebiasaan di gereja,” ujar psikolog Elena Galitskaya. “Iman ada di dalam hati, sedangkan aturan gereja hanyalah ornamen belaka sehingga orang tidak merasa bahwa hal tersebut bersifat kontradiksi saat mereka menolak untuk pergi ke gereja dan menolak segala manajemennya.”

Selama 25 tahun terakhir di Rusia ada sebanyak enam kali lipat (18 persen) peningkatan jumlah orang-orang yang percaya bahwa penyebaran agama membawa lebih banyak dampak buruk bagi mereka pribadi. Mereka yang percaya bahwa peningkatan popularitas gereja itu penting justru sebaliknya, menurun dari 41 persen pada tahun 1990 menjadi 33 persen pada tahun 2015.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.