Konsulat Kehormatan: 14 Tahun Mengabdi Memupuk Persahabatan Rusia-Indonesia

Theodolus Sunarjaya
Valery Radchenko adalah seorang konsulat kehormatan Indonesia di Sankt Peterburg, Rusia. RBTH Indonesia berkesempatan untuk berbincang dengan Radchenko untuk mencari tahu kisah awal mula ia bisa menjabat sebagai konsulat kehormatan, apa yang ia kerjakan, hambatan-hambatan apa saja yang kerap muncul dalam menjalankan tugasnya, dan kapan Sankt Peterburg dan Yogyakarta menjadi kota kembar (twin city). Berikut kisahnya.

Kisah Radchenko dengan Indonesia bermula saat ia belajar di tahun ketiganya di Fakultas Metalurgi, Institut Politeknik Sankt Peterburg. Di sana, ada tiga orang Indonesia yang belajar satu kelompok dengannya. Mereka belajar bersama sampai akhirnya terjadi revolusi pada masa pemeritahan Presiden Soekarno. Mereka pun dideportasi.

Setelah lulus, Radchenko bekerja di sebuah pabrik bernama “Zvezda”. Pabrik ini memproduksi mesin untuk kapal angkatan laut, kapal sipil, kapal feri, lokomotif diesel, dan kereta api.

Ketika Jerman bersatu, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Indonesia B.J. Habibie memutuskan untuk membeli sejumlah kapal untuk Indonesia dari Jerman. Kapal itu adalah kapal kelas PARCHIN.

“Mesin kapal itu adalah hasil produksi pabrik kami. Lalu, kami bersama sebuah perusahaan asal Jerman Blёmingfёst, sepakat untuk melayani pemesanan kapal-kapal besar ini. Indonesia menawarkan kepada perusahaan Jerman tersebut untuk bekerja sama mengirimkan kapal-kapal ini, sedangkan kami bertanggung jawab atas komponen-komponen mesinnya. Begitulah sampai akhirnya saya berkecimpung di dunia ini,” kata Radchenko menceritakan.

 

Zvezda kemudian menandatangani kontrak melalui Habibie. Habibie yang saat itu menjabat sabagai menteri, kemudian diangkat menjadi wakil presiden, dan akhirnya menjadi presiden. “Kami pun memasok mesin-mesin kami ke pasar Indonesia. Kami mengirim mesin-mesin tersebut ke Surabaya, tempat kapal-kapal itu berbasis, dan di bengkel-bengkel setempat untuk mengadakan uji coba terhadap mesin tersebut,” ujar Radchenko.

Setelah itu Radchenko ditawari jabatan sebagai konsul. Namun, sebelum itu diadakan semacam kontes antar dua orang kandidat di Sankt Peterburg. “Ternyata,  sayalah yang terpilih. Hingga kini saya telah bekerja sebagai konsul selama lebih dari 14 tahun, sejak pertama kali bertugas pada 2001,” cerita Radchenko.

Apa Pekerjaan Seorang Konsul Kehormatan?

“Sebelumnya, kami berwenang untuk mengeluarkan visa. Kemudian wewenang itu ditarik kembali. Kini, hanya ketika datang para siswa, turis, para delegasi yang berkunjung saat ada pertunjukan angkatan laut, kunjungan wakil menteri saat ada forum ekonomi dan forum menteri—dengan merekalah saya berurusan,” kata Radchenko.

Radchenko menginformasikan, saat ini ada sekitar 30 orang mahasiswa Indonesia yang belajar di Sankt Peterburg. “Tiap tahunnya, ada sekitar 30 orang yang belajar di sini. Siswa datang dan belajar di universitas-universitas terbaik kami, seperti di Universitas Pertambangan, Akademi Pendidikan Kedokteran, universitas politeknik, dan sejumlah universitas lain,” katanya menjelaskan. Menurut Radchenko, mereka belajar dengan baik. Hampir semua siswa menyelesaikan studinya hingga tingkat master. Seusai menempuh pendidikan, biasanya semua akan kembali ke Indonesia.

 

Masalah Pariwisata

Rute pariwisata yang paling populer adalah dari Indonesia ke Moskow, dari Moskow ke Sankt Peterburg, dan dari Sankt Peterburg ke Helsinki, atau sebaliknya. Namun, Radchenko menilai ada masalah dengan pariwisata.

Menurutnya, kebanyakan WNI kerap menyimpan uang di dalam saku dan membawa barang berharga di dalam tasnya. Karena itu, pernah ada ada WNI yang dicegat di dalam metro dan barang berharga milik mereka dicuri. “Kami pun harus mengurusi perjalan mereka kembali ke Moskow. Kami memberikan dokumen keterangan agar mereka bisa sampai Moskow dan mendapatkan paspor sementara.”

Jika suatu saat seorang WNI tengah berada di Sankt Peterburg dan kehilangan dokumen atau pun uang, pada saat itualah mereka perlu menghubungi Konsulat Kehormatan. “Pertama, setiap agen perjalanan seharusnya tahu di mana posisi kami dan mereka akan membantu menghubungi kami, lalu kami akan segera menghubungi layanan migrasi dan tentu saja menangani urusan ini,” ujar Radchenko.

“Sekarang sudah tak begitu banyak seperti dulu. Kini mereka mungkin sudah belajar. Saya selalu mengatakan kepada kedutaan agar memberi instruksi apa yang tidak boleh dilakukan. Ini adalah pariwisata besar,” katanya menambahkan. 

Menurut Radchenko, banyak orang Indonesia yang menyukai kota Sankt Peterburg, bahkan banyak delegasi resmi yang datang. Ia bercerita, sudah lebih dari sepuluh kali ia mengunjungi Indonesia—berkali-kali mengunjungi Bali, Jakarta, dan Surabaya. “Kami ingin Sankt Peterburg menandatangani perjanjian kerja sama dengan Yogyakarta. Namun, semuanya terhambat keuangan. Pihak universitas di Yogyakarta memikirkan masalah pendanaan, kami pun begitu,” katanya menjelaskan.

Perjanjian seperti itu penting karena dapat melancarkan pertukaran pelajar, pertukaran dosen, dan budaya. Sebelum duta besar yang kini menjabat, Hamid Awaluddin pernah menjabat sebagai duta besar. “Ia banyak membantu dalam hal program budaya. Ansambel dari Indonesia datangkan (ke Rusia) untuk membawakan lagu-lagu dan tarian. Warga Peterburg menyambut pertunjukan tersebut dengan antusias,” ujar Radchenko.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.