Filipina di Mata Pelancong Rusia

Pemandangan dari atas kota Makati, daerah pusat ekonomi dan bisnis modern Metro Manila, Filipina. Foto: Shutter/Legion Media

Pemandangan dari atas kota Makati, daerah pusat ekonomi dan bisnis modern Metro Manila, Filipina. Foto: Shutter/Legion Media

Popularitas Filipina sebagai tujuan wisata turis Rusia kian meningkat. Beberapa pelancong berbagi kesan mengenai penduduk lokal, makanan, dan budaya Filipina.

Dengan air yang biru, pantai berpasir, dan budaya yang unik, kepulauan Filipina menjadi impian banyak warga Rusia untuk menghabiskan liburan. Jumlah pengunjung dari Rusia ke negara Asia Tenggara tersebut mulai meningkat, karena Rusia dan Filipina baru saja menandatangani kesepakatan layanan udara baru. RBTH berbincang dengan beberapa turis Rusia yang berbagi kesan mengenai Filipina.

Elena Proshina, Editor Situs RBTH Korea

Elena menghabiskan satu bulan berpetualang menjelajahi Filipina pada 2013. Ia menjelaskan mengapa hanya turis Rusia berpengalaman yang mengunjungi negara tersebut.

 

 

Turis Rusia tak pernah memilih Filipina sebagai destinasi pertama di Asia Tenggara. Mereka kebanyakan lebih memilih Thailand, Vietnam, atau Kamboja, yang merupakan tujuan wisata populer saat Rusia sedang musim dingin.

Tak ada penerbangan langsung dari Rusia saat saya mengunjungi Filipina, sehingga perjalanan yang harus saya lalui panjang dan mahal.

Secara umum, kepulauan ini populer di kalangan wisatawan backpacker dari seluruh dunia. Saya bertemu orang Amerika, yang tinggal di Cebu dan membuka restoran. Di Bohol, saya bertemu orang Kanada dan pasangan dari Skandinavia, yang memiliki hostel di tengah hutan.

Dua teman Rusia saya pindah ke Pulau Boracay dari wilayah India, Goa. Mereka memiliki visa yang berlaku dua tahun dan bekerja lepas untuk perusahaan Rusia. Mereka menilai Filipina menawarkan gaya hidup yang sesuai dengan cita rasa warga Rusia.

Warga Filipina secara umum condong pada budaya Eropa, bicara bahasa Inggris, dan beragama Kristen. Satu-satunya perbedaan besar adalah kuliner, yang tak biasa bagi warga Rusia.

Saya dapat mengatakan dengan yakin bahwa warga Filipina lebih dekat dengan Rusia secara budaya dibanding warga Asia lain yang pernah saya temui.

Saat kami pergi ke kota kecil Donsol di dekat Legazpi, untuk berenang dengan hiu harimau, kami tinggal bersama warga lokal. Mereka memasak untuk kami dan berbagi kisah hidup mereka. Keluarga tersebut mengingatkan saya pada petani Rusia, yang sering menyambut orang asing.

Eugene Nikitsky, Pendiri Lembaga Konsultan Bisnis "Cultura+" di Asia Tenggara

Eugene sudah dua kali mengunjungi Filipina untuk urusan bisnis. Ia bicara mengenai keunikan berbisnis di kepulauan tersebut.

 

 

Beberapa tahun lalu, saya bekerja di Jakarta untuk perusahaan pameran internasional Rusia sebagai koordinator proyek. Kami merancang sejumlah pameran seni inovatif Soviet-Rusia di Indonesia, Thailand, dan Filipina.

Di Filipina, saya bertugas melakukan semua hal, dari katering hingga promosi media. Saya sangat terkejut dengan efisiensi warga Filipina. Kami melakukan diskusi umum dengan kolega Filipina kami satu kali terkait penempatan lukisan, dan di hari berikutnya, mereka datang dengan tiga ide yang luar biasa.

Saya sangat menyukai sikap positif mereka terhadap pekerjaan. Mereka sangat antusias dan memiliki motivasi tinggi.

Di Filipina, setiap pertemuan yang kami lakukan selalu berbuah. Dua bulan setelah saya bertemu dengan direktur museum, ia mengirim surat pada kami dan berjanji akan mengunjungi Rusia. Ia kemudian benar-benar datang ke Rusia dengan proposal konkret untuk kerja sama.

Ketika saya pertama kali datang ke Filipina, saya merasa seperti berada di Meksiko. Saya melihat negara yang berkembang sangat pesat dengan pantai-pantai cantik dan bangunan tua Spanyol. Kesan pertama sangat menakjubkan. Orang Asia dengan nama Spanyol, bicara bahasa Inggris, ramah terhadap orang asing, anak-anak muda yang aktif dan berpikiran terbuka!

Filipina terasa seperti Asia yang bergaya Eropa.

Warga Rusia bisa dengan mudah membuka bisnis di Filipina. Terdapat pula sebuah komunitas kecil profesional Rusia di Manila, yang bekerja di bidang hubungan masyarakat dan pemasaran.

Secara umum, warga Rusia merasa nyaman di Filipina. Keramahan di dua negara tersebut kurang-lebih sama.

Daniil, Ahli Matematika dari Universitas Negeri Moskow

Daniil mengunjungi Filipina pada musim panas 2015 dan menghabiskan satu bulan di negara tersebut. Ia bicara mengenai kesulitan yang dihadapi para pelancong di negara tersebut.

 

 

Transportasi merupakan masalah terbesar saya di Filipina. Skenario terbaik adalah kendaraan Anda bisa berjalan 30 kilometer per jam. Jadi, bersiaplah untuk menghabiskan waktu hingga empat jam di jalan, hanya untuk pergi seratus kilometer.

Transportasi umum sangat buruk, lambat, dan tak nyaman. Hal ini membuat petualangan saya melelahkan. Faktanya, para pelancong kadang harus menghabiskan malam di lokasi transit.

Warga Filipina tampaknya berbakat menciptakan rintangan birokrasi yang tidak perlu. Anda harus selalu membeli satu tiket untuk menaiki feri dan tiket lain untuk memasuki pelabuhan. Di pelabuhan feri, saya melihat loket dengan dua jendela. Di jendela pertama, kasir menjual tiket feri seharga 12 peso, sementara di jendela kedua, kasir menempelkan kertas untuk tiket tersebut dengan biaya dua peso, dan kasir ketiga melepas kertas dari tiket lalu memasukannya ke kotak dengan biaya dua peso. Sistem yang sama juga berlaku di bandara Manila dan Cebu.

Saya juga tak suka makanannya, yang hambar dan sama seperti apa yang Anda dapatkan di kantin bergaya Soviet. Tak ada bumbu yang digunakan dalam masakan Filipina, hanya mentega dan lemak.

Diambil dari blog juan.livejournal.com dengan izin dari penulis.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.