Bagaimana Kehidupan Masyarakat Rusia di Kaukasus Selatan?

Foto: Sergey Maksimishin

Foto: Sergey Maksimishin

Medovka, Novoseltsevo, Privolnoe, Svetloe, Saratovka, Fioletovo, Lermontovo. Desa-desa tersebut bukan desa Rusia, melainkan terletak di Armenia utara, tepatnya di provinsi Lori. Wilayah tersebut memiliki musim panas yang ekstrem dan tanah yang gersang, terbilang sulit untuk bercocok tanam di sana. Wilayah-wilayah tersebut terkadang disebut Siberia Armenia.

Penduduk desa yang menyandang nama Rusia kebanyakan adalah suku Molokan, anggota sekte religius yang diasingkan dari Rusia pada masa pemerintahan Ekaterina yang Agung. Lebih tepatnya, mereka adalah bekas penduduk wilayah tersebut. Saat ini, Fioletovo dan Lermontovo masih memiliki beberapa penduduk Molokan asli, namun di desa lain sudah tak ada lagi.

Saat Uni Soviet runtuh, sebagian Molokan memutuskan kembali ke tanah air mereka, yakni wilayah Tambov, Ryazan, Kursk, dan Orlov. Sebagian beremigrasi ke Kanada dan Australia, tinggal bersama keluarga mereka yang sudah hidup di sana sejak lama dan masih membina hubungan baik dengan mereka. Molokan yang tinggal di Armenia sesungguhnya tak mendapat tekanan apa pun. Beberapa warga Molokan berharap mereka bisa mendapat kehidupan yang lebih baik di Rusia, namun berapa lainnya khawatir akan ditangkap jika kembali ke Rusia. Namun, ketakutan tersebut tak beralasan.

Warga Molokan yang tinggal di Fioletovo dan Lermontovo melestarikan prinsip religius mereka, dan hal tersebut yang menjadi alasan mereka tak berasimilasi dengan warga Armenia. Mereka bekerja seharian penuh, menanam kentang dan bit, wortel dan kol. Wortel Fioletovo terkenal di Armenia sebagai wortel yang paling manis dan lezat.

Foto: Sergey MaksimishinFoto: Sergey Maksimishin

Warga Molokan yang tak suka diekspos kesulitan berbicara dengan orang asing, khususnya jika mereka tahu pembicaraan tersebut akan dimuat di media. Mereka hanya menjawab sepatah-dua patah kata. Mereka tak mengeluh tentang nasib mereka. "Tsar Rusia tidak mengirim ke resor mahal, melainkan ke pegunungan ini." Orang-orang yang berencana meninggalkan tempat tersebut kebanyakan anak muda. Beberapa dari mereka ingin melanjutkan pendidikan.

Fioletovo tak punya sekolah teknik atau universitas. Di sana hanya ada sekolah menengah Rusia. Mereka bisa saja pergi ke Yerevan. Namun, kebanyakan lebih memilih untuk kembali ke tanah air mereka. Kebanyakan dari mereka juga pergi untuk mencari pekerjaan. Mereka tak punya pilihan di Fioletovo dan pekerjaan cukup terbatas di Armenia.

"Sungguh menyedihkan desa Rusia tersebut diabaikan. Mereka adalah potongan kecil Rusia. Rapi, selalu terlihat bersih dengan rumah-rumah yang biasanya dicat biru. Semua terlihat sangat terawat," kata Garegin Mkrtchyan, artis dari Stepanavan, Lori.

Banyak karya-karya Mkrtchyan yang menggambarkan desa-desa kecil Molokan. Mereka sering membingungkan pembeli, dan Garegin harus menjelaskan bahwa pemandangan tersebut bukan di Rusia, dan bukan digambar untuk kartu pos, namun dari alam, dan di sekitar Stepanavan ada setidaknya selusin desa Molokan.

Ada pula 'ibu kota' tak resmi dari Molokan Kaukasus Selatan, Vorontsovke, yang pada masa Soviet diberi nama Kalinino dan kemudian Tashir. "Di waktu luang saya, saya senang mengunjungi Novoseltsevo atau Medovka. Mereka seperti daratan di dunia lain, yang memiliki karakter Rusia yang liar, padahal hanya berjarak 10 – 15 kilometer dari Stepanavan. Kini, desa-desa itu sudah tak ada, rumah-rumah di sana dijual dan orang-orang meninggalkan rumah mereka," kata Mkrtchyan.

Berdasarkan perkiraan, saat ini ada 15 ribu warga Rusia yang tinggal di Armenia. Pada masa Soviet, Armenia merupakan republik yang sangat monoetnis, dan jumlah diaspora Rusia tak terlalu besar.

Petapa Rusia di Pegunungan Georgia

Mengenai kondisi geografi dan iklim, wilayah Javakheti di Georgia sama seperti Lori di Armenia. Warga Armenia secara kebetulan menjadi etnis mayoritas di wilayah selatan Javakheti. Beberapa nama wilayah sama seperti di Rusia, seperti Bogdanovka, yang kemudian berubah menjadi Ninotsminda; Gorelovka; Orlovka; Spasovka; Zhdanovka; Efremovka.

Foto: Valeryi Melnikov/RIA NovostiFoto: Valeryi Melnikov/RIA Novosti

Pada masa Soviet, penyewa tanah di desa tersebut memecahkan rekor sebagai penghasil susu. Pemimpin partai di Georgia mencoba untuk mengejar hasil serupa di wilayah lain, namun tak berhasil. Warga di wilayah tersebut sangat giat bekerja dan sungguh religius. Bedanya, penduduk religius tersebut merupakan suku Dukhobor, bukan Molokan. Namun sejarah Armenia terulang di sini: Uni Soviet jatuh dan warga Dukhobor pindah ke Rusia dan Kanada.

"Kini hanya tinggal Gorelovka yang tetap bertahan. Desa lain hanya menyandang nama Rusia namun tak ada warga Rusia yang tinggal di sana," kata Margarita Akhvledyanin, Direktur GO Group Media. Musim panas lalu, GO Group Media membuat film dokumenter mengenai kehidupan suku Dukhobor di Gorelovka. "Dalam beberapa kesempatan dan tahun-tahun sebelumnya, saya bertemu dengan warga Dukhobors. Mereka sangat unik dan memegang prinsip dengan ketat. Tak banyak yang tersisa, karena sebagian telah pindah ke Rusia, Amerika Serikat, dan Kanada," kata Akhvledyanin.

Menurut Akhvledyanin, desa Dukhobor kini ditinggali oleh suku Javakheti Armenia yang berasal dari desa yang terletak lebih tinggi di pegunungan tersebut. "Tak semua warga Dukhobor adalah orang Rusia. Karakteristik mereka — bahasa, budaya, pakaian, dan lain-lain — memang seperti warga Rusia. Namun, mereka tahu siapa yang benar-benar orang Rusia, siapa yang memiliki darah Polandia, dan lain-lain. Saya ingat pernah mendengar pernyataan, 'Ia menikahi seorang Rusia'. Mereka tak menyebut diri mereka dengan atribut nasional," kata Akhvledyanin.

Kini, tak lebih dari 50 ribu warga Rusia yang masih tinggal di Georgia. Mereka kebanyakan tinggal di Tbilisi, Rustavi, Batumi, dan kota-kota lain. Tak ada populasi di desa tertentu, kecuali beberapa desa Dukhobor dan satu atau dua desa yang awalnya dihuni oleh suku Molokan dan kini memiliki populasi yang beragam (misalnya desa Ulyanov di wilayah Kakheti).

Bukan Sekadar Sektarian

Warga Rusia di Kaukasus Selatan bisa dibagi ke dalam tiga kelompok. Pertama adalah minoritas religius yang diasingkan dari tanah airnya dan dikirim ke tempat yang sangat keras di Kaukasus Selatan. Kelompok kedua adalah pemukim militer. Tentara di angkatan bersenjata Rusia tak punya tempat untuk kembali, dan sudah terbiasa dengan wilayah tersebut, banyak pula yang memulai hidup berkeluarga dan lain-lain. Kelompok ketiga ialah pengungsi dari era Perang Dunia II dan penduduk Soviet — sejumlah pegawai negeri (contohnya di Provinsi Lori, kota Puskhino sesungguhnya merupakan garnisun tentara dengan infrastruktur urban — menjadi rumah untuk unit-unit misil) dan ahli yang dikirim untuk mengembangkan sejumlah industri.

Kelompok terakhir berjumlah cukup banyak di Azerbaijan, yang industri minyaknya membutuhkan pakar spesialis yang cerdas. Di mana ada minyak, tentu ada kimia, dan beberapa spesialisasi industri lain. Republik tersebut tak selalu punya cukup pekerja, jadi orang-orang pindah ke sisi Laut Kaspia dari seluruh sudut Uni Soviet.

"Tentu saja warga Rusia tinggal di kota-kota industri dan mereka masih melakukannya — tak sebanyak sebelumnya, tapi masih ada puluhan ribu di Baku dan wilayah metropolitan," kata Ilgar Velizade dari Baku, Kepala Ilmuwan Politik di Klub Kaukasus Selatan. Ia menjelaskan terdapat perbedaan antara mereka yang datang ke republik tersebut untuk minyak sebagai insinyur dan pegawai sipil, dan mereka yang bekerja di Azerbaijan sebagai tentara, atau bekerja di armada kapal kecil Kaspia, yang kemudian memiliki rumah di Baku dan Gyandzhe.

Seperti negara tetangga, setelah kejatuhan Uni Soviet, Azerbaijan mengalami eksodus populasi Rusia. "Kini tinggal sekitar 60 ribu warga Rusia yang tinggal di Azerbaijan. Namun, beberapa warga Slav lain kadang dikira sebagai orang Rusia," kata Velizade. Azerbaijan juga terbilang eksotis. Menurut Velizade, Distrik Ismailli di Azerbaijan memiliki sejumlah desa Molokan yang dikenal sebagai Ivanovka. "Mereka bahkan punya situs di internet," katanya. Selain itu, ada juga area pemukiman minoritas religius di Distrik Gadabay, Kaukasus Lesser, seratus kilometer dari Baku, di Distrik Khizi.

Di ketiga republik Kaukasus Selatan terdapat media dalam bahasa Rusia, televisi dan stasiun radio, sekolah Rusia dan departemen di universitas, serta teater Rusia. Tak jarang pula terdengar orang berbicara bahasa Rusia di jalan.

Kini di Azerbaijan ada lima gereja Ortodoks yang beroperasi, dan hanya ada agama Kristen di Georgia dan Armenia. Tampaknya ketidaknyamanan yang dirasakan warga Rusia di republik ini pada tahun-tahun pasca-Soviet telah hilang.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.