Kehidupan di Utara Jauh Rusia: Ketika Budaya Tradisional Bertemu Budaya Teknokratis

Foto: Andrey Golovnev

Foto: Andrey Golovnev

Wilayah Yamal-Nenets di Federasi Rusia adalah wilayah terbesar di dunia yang hingga kini masih ditempati para penggembala nomaden. Meskipun nomaden, pertanian tradisional di wilayah ini didukung oleh produksi hidrokarbon yang juga aktif. Kali ini, RBTH akan membahas cara yang dilakukan para penggembala nomaden dan produsen agar dapat berbisnis dan mengerti satu sama lain.

Yamal terletak 2.317 kilometer dari timur laut Moskow. Wilayah ini memiliki cadangan hidrokarbon paling besar di Rusia. Di wiliayah ini pula terdapat sebanyak 232 sumber yang terkenal menyimpan sekitar 78 persen cadangan gas dan 18 persen cadangan minyak Rusia. Setiap tahunnya, distrik otonom Yamal-Nenets memproduksi sekitar 80 persen dari total gas yang dihasilkan di Rusia dan sekitar delapan persen dari total minyak yang di produksi di Rusia.

Yamal adalah rumah bagi sekitar 20 kelompok etnis dari Utara Jauh yang hidup secara nomaden. Khanty, Nenets, Komi Izhemtsy, dan Selkups adalah beberapa etnis yang sehari-hari bekerja menggembala rusa kutub dan pergi memancing. Namun, pembangunan perusahaan tambang lama-kelamaan menghilangkan wilayah tempat mereka biasa menggembalakan ternak-ternak mereka.

Permasalahan Masyarakat Adat

Sepasang suami istri dari Sankt Petersburg, Aleksandra Terekhina (antropolog) dan suaminya Aleksander Volkovitskiy (arkeolog), menetap di sebuah tenda besar milik penggembala rusa Konstantina Serotetto. Mereka berencana menggembala bersama selama satu tahun. Pasangan ini (sang suami kini berprofesi sebagai seorang penjaga api unggun, sedangkan istrinya bekerja sebagai guru TK) menulis jurnal setiap harinya, termasuk mengenai hubungan antara penduduk pribumi dengan perusahaan tambang minyak dan gas.

 

"Untuk sampai kembali ke tenda kami dari pusat kota, kami biasanya menggunakan kereta salju dan itu memakan waktu sepanjang malam. Kami harus melewati jalanan bersalju sepanjang 260 kilomeleter yang membutuhkan waktu sekitar 16 jam," ujar Aleksandra. Ia menambahkan, bahwa setelah itu pun mereka masih harus menggiring hewan-hewan ternak tersebut ke pantai Laut Kara yang berada beberapa ratus kilometer. Sebagian dari jarak itu ditempuh melalui jalur kereta api yang mengarahkan mereka pada lokasi.

Seperti yang diceritakan oleh seorang penggembala setempat bernama Nyadma Hudi, untuk mencari makanan mereka harus pergi ke daerah pesisir barat Yamal yang belum tersentuh oleh perusahaan penghasil hidrokarbon. Agar bisa mencapai daerah tersebut mereka harus melewati daerah pembangunan. "Oleh karena itu, saat rusa-rusa berjalan beriringan di jalan, kereta penumpang dan barang biasanya melewati kawanan rusa dengan kecepatan yang sangat lambat," ujar Nyadma Hudi.

Bagi pekerja jalur kereta api, hal ini sudah menjadi pertunjukan tersendiri, seperti balapan banteng di jalanan-jalanan Spanyol. Aktivitas ini juga sudah sering kali disiarkan oleh saluran televisi asing.

Kepala Komunitas Nasional "Harp" Aleksander Serotetto menyaksikan hal ini sepanjang hidupnya, dan ia yakin bahwa Yamal berhasil menyeimbangkan antara pembangunan industri yang intensif dan menjaga tradisi kehidupan yang telah dibudayakan selama berabad-abad.

"Ketika saya menjadi salah satu pembicara pada konferensi di Skandinavia, para peserta lain sulit percaya bahwa rusa-rusa dapat berjalan bebas di jalur kereta dan jalan mobil," ujarnya. Seseorang yang memiliki nama keluarga yang sama, Albert Serotetto, memberikan pandangan yang berbeda. Ia percaya bahwa dengan adanya perusahaan pertambangan, lambat laun rusa-rusa akan segera menghilang.

Berdesakan di Semenanjung

Luas daerah Yamal hampir sama dengan Yunani. Namun, di wilayah ini hidup sekitar 16.500 orang dan kondisi ini menyebabkan profesi sebagai penggembala nomaden sudah penuh sesak. Pertumbuhan alami para penduduk pribumi adalah sekitar 11,5 persen dalam sepuluh tahun terakhir.

Dalam 15 tahun terakhir, dengan adanya pembangunan jalan dan saluran pipa, daerah ini memang semakin aktif berkembang. Pada saat yang sama, jumlah hewan yang digembalakan di Yamal sangatlah besar—pada era pasca-Soviet jumlah mereka bahkan naik menjadi dua kali lipat dan sejak 1980 pangsa pasar ternak milik swasta telah meningkat dari 37 sampai 82 persen. Ahli biologi dari Institut Taman dan Ekologi Hewan memastikan bahwa ratusan ribu rusa tidak bisa menghidupi diri mereka sendiri. Tanaman yagel yang menjadi makanan rusa rusak dan tidak bisa pulih.

Otoritas pemerintah dan para penggembala nomaden menyadari perubahan yang tak bisa dihindari ini. Namun menurut Kepala Organisasi Masyarakat "Yamal" Yuria Hudi, saat ini mayoritas penggembala ternak tidak siap mengurangi jumlah ternak mereka. Di antara mereka banyak anak muda yang sebenarnya sudah bekerja dengan baik. Pengalaman menunjukkan bahwa transisi ke kehidupan menetap sering menyebabkan depresi dan degradasi individu.

Para ilmuwan Ural telah mengusulkan budidaya rusa yang lebih efisien agar jumlahnya tidak meningkat secara drastis dan mengganggu gaya hidup nomaden. Hal ini dilakukan dengan membangun sebuah perusahaan dengan rangkaian pabrik berteknologi canggih yang ditujukan untuk mengolah daging rusa, dengan sistem grosir dan eceran, dan sistem transportasi yang fleksibel.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.