Parlemen Rusia Ajukan RUU Larangan Aborsi Tak Berbayar untuk Perempuan Rusia

Berdasarkan survei Levada Center, 51 persen warga Rusia tak menganggap aborsi sebagai pembunuhan yudisial. Foto: Shutterstock/Legion Media

Berdasarkan survei Levada Center, 51 persen warga Rusia tak menganggap aborsi sebagai pembunuhan yudisial. Foto: Shutterstock/Legion Media

Parlemen Rusia tengah menggodok undang-undang yang akan menghapus aborsi dari asuransi kesehatan yang dijamin negara dan melarang klinik swasta untuk melakukan aborsi. Meski mayoritas warga Rusia tak setuju dengan aborsi, wacana ini telah menuai banyak kritik.

Tak lama lagi, perempuan Rusia akan kehilangan haknya melakukan aborsi, karena Duma Rusia telah mengajukan RUU yang menetapkan hanya insitusi layanan kesehatan pemerintah yang boleh melakukan tindakan aborsi dan mencabut tanggungan asuransi kesehatan untuk aborsi.

Jika RUU yang diajukan oleh Duma Rusia pada Jumat (19/6) ini diterima, warga Rusia tak bisa lagi melakukan aborsi di klinik swasta dan tindakan aborsi di luar insitusi pemerintah akan dikenai denda sebesar 50 ribu rubel hingga 200 ribu rubel (sekitar 12 – 50 juta rupiah) bagi pelakunya.

Saat ini aborsi masuk dalam jaminan kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah Rusia. Namun jika legislasi ini disahkan, hanya orang yang kaya raya yang bisa melakukan aborsi, meski belum jelas apakah warga bisa melakukan aborsi berbayar di klinik pemerintah.

"Aborsi yang ditanggung oleh asuransi kesehatan pemerintah hanya diberikan untuk alasan medis dan alasan sosial tertentu," kata salah satu penggagas rancangan undang-undang, Kepala Komite Keluarga, Perempuan, dan Anak di Duma Rusia, Yelena Mizulina.

Namun, Ketua Dewan Federasi Rusia (Majelis Tinggi Parlemen Rusia) Valentina Matviyenko menyebutkan, Dewan Federasi menentang RUU tersebut, begitu pula Wakil Menteri Kesehatan Rusia Olga Golodets.

Bayang-bayang Masa Lalu

Inisiatif ini bukanlah hal yang baru. Hingga 1955, Uni Soviet melarang tindak aborsi. Namun hal tersebut tidak memengaruhi tingkat kelahiran di Rusia, malah meningkatkan angka kematian perempuan karena para perempuan kemudian lebih memilih untuk melakukan aborsi secara ilegal di rumah.

Pada 1993, berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Kesehatan Masyarakat, setiap perempuan memiliki hak untuk membuat keputusan otonom terkait persalinannya. Namun, berdasarkan survei pada 2013 lalu yang dilakukan oleh Yayasan Opini Publik, 62 persen warga Rusia masih menentang aborsi.

"Seorang perempuan secara psiko-fisikal telah menjadi seorang ibu di hari pertama terjadinya pembuahan, namun beberapa dokter atau kerabat mencoba untuk meyakinkan bahwa janin tersebut masih belum menjadi bayi," kata Direktur Yayasan Amal Keluarga dan Anak-anak Svetlana Rudneva. "Tapi saya yakin bahwa bayi telah tercipta dari sejak pembuahan dan tentu saja secara alamiah Anda tak bisa membunuh seorang bayi."

Berdasarkan survei Levada Center, 28 persen warga Rusia sepakat dengan Rudneva, sementara 51 persen tak menganggap aborsi sebagai pembunuhan yudisial.

Menjadi Ibu, Sebuah Pertanyaan Mengenai Kehendak Bebas

Natalya dari Moskow baru berusia 16 tahun saat ia mendapati dirinya hamil. Itu merupakan pengalaman seksualnya yang pertama. Ayah dari janin tersebut adalah seorang pemuda berusia 17 tahun, tetangga di dacha-nya. Sejak awal telah jelas bahwa ia tak mungkin menikah dan terpaksa menjadi orangtua tunggal.

"Ibu saya melahirkan kakak saya saat berusia 18 tahun dan satu tahun kemudian saya lahir," kata Natalya. "Ia tak bisa kuliah dan beberapa tahun kemudian ayah saya meninggalkan kami. Jadi, saya segera memutuskan untuk melakukan aborsi. Saya mengerti konsekuensinya, tapi saya berani mengambil risiko. Kini saya berusia 26 tahun, memiliki suami yang luar biasa, seorang anak laki-laki, dan pekerjaan. Saya tak menyesali apapun."

Kondisi Keuangan dan Kehidupan, Kunci Keputusan

Perempuan melakukan aborsi untuk beragam alasan. Survei yang dilakukan oleh Yayasan Opini Publik menyebutkan bahwa warga Rusia percaya alasan utama aborsi adalah buruknya standar hidup dan kondisi keuangan. Para dokter mengaku bahwa sebanyakan kasus memang demikian.

"Biasanya aborsi dilakukan oleh seorang perempuan yang belum stabil secara sosial, mereka yang berpikir bahwa mereka tak sanggup membesarkan anaknya, dan ada pula mereka yang belum menikah, atau mereka yang tak yakin mengenai pasangan mereka," terang Yulia Gorelova, Direktur Departemen Uroginekologi di Medswiss, sebuah perusahan Swiss yang beroperasi di Moskow dan Sankt Petersburg.

Survei lain yang dilakukan Levada menyebutkan bahwa laki-laki memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menolak aborsi daripada perempuan, 68 dibanding 57 persen. Namun, Gorelova menambahkan bahwa pada praktiknya sering kali pihak lelaki yang mendorong untuk melakukan aborsi, meski sebenarnya lebih mudah bagi merekalah untuk menghindari situasi tersebut dengan menggunakan kontrasepsi. Abosi tak memberi risiko bagi kesehatan reproduksi mereka dan mereka tak mengerti beban moral langkah tersebut bagi perempuan.

Namun, jika pihak perempuan memutuskan untuk mempertahankan bayinya dan lelaki menolak untuk bepartisipasi dalam membesarkan sang anak, sang perempuan tak punya banyak pilihan. Dalam kasus tak adanya kesempatan bagi sang perempuan untuk memasukkan anaknya ke taman kanak-kanak dan tak ada yang bisa membantu menjaga bayinya, sang perempuan pun terpaksa tinggal di rumah. Di Moskow, misalnya, negara memberi 20 ribu rubel (sekitar lima juta rupiah) per bulan sebagai tunjangan untuk merawat bayinya hingga usia 1,5 tahun (uang ini kurang untuk kehidupan yang nyaman di Moskow -red.).

Kurangnya Pendidikan Seksual

"Saya rasa aborsi seharusnya tak perlu dilarang," kata Gorelova. "Setiap orang punya alasannya masing-masing. Tapi saya sebagai doktor selalu mencoba membujuk pasien untuk tidak melakukannya, dan saya sering berhasil. Untuk menurunkan angka aborsi, kita harus meningkatkan pengetahuan mengenai kontrasepsi. Anak-anak seharusnya terlahir ketika orangtuanya memang menginginkan mereka."

Sebagian besar warga Rusia (64 persen) yakin bahwa pendidikan seksual perlu disediakan di sekolah, namun hal tersebut tak pernah diajarkan di sekolah Rusia. Diskusi mengenai edukasi seksualitas di sekolah dan bagaimana bentuknya telah berlangsung selama sepuluh tahun, namun pemerintah masih belum menetapkan keputusan. Para dokter menyebutkan, hampir semua aborsi yang dilakukan oleh anak di bawah umur dilakukan sebab kurang terdidik.

"Banyak ibu membawa putrinya untuk melakukan aborsi, mereka mengaku tak pernah mengajarkan putrinya mengenai kontrasepsi. Padahal itu dapat menyelamatkan anak-anak dari aborsi. Tapi orangtua di Rusia terlalu malu untuk bicara mengenai hal ini di rumah," kata Gorelova.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.