Perempuan Soviet dalam Perang Dunia II, "Terbakar Semangat" Taklukan Pasukan Jerman

Dari kiri ke kanan: Lilya Litvyak, dan Katya Budanova, Masha Kuznetsova di dekat pesawat Yak-1. Foto: RIA Novosti

Dari kiri ke kanan: Lilya Litvyak, dan Katya Budanova, Masha Kuznetsova di dekat pesawat Yak-1. Foto: RIA Novosti

Di halaman pertama buku "Defending the Motherland: The Soviet Women who Fought Hitler’s Aces", Sang penulis, Lyuba Vinogradova, membandingkan upaya invasi Moskow yang dilakukan Hitler pada 1941 dengan upaya serupa yang dilakukan Napoleon pada 1812.

Dalam buku itu, Vinogradova memadankan kondisi di istana neo-gothik Petrovsky Palace pada masa pendudukan Napoleon dan Perang Dunia II. Istana tersebut dibangun pada akhir abad ke-18, di antara Moskow dan Sankt Petersburg, sebagai rumah peristirahatan bagi keluarga kerajaan yang berpergian. Saat Moskow dilalap api, Napoleon bermalam di situ. Istana tersebut kemudian menjadi akademi penerbangan, yang salah satu alumninya adalah kosmonot Yuri Gagarin. Pada Perang Dunia II, tulis Vinogradova, "ruangan istana sangat bising, karena tengah berlangsung perakitan pesawat terbanyak yang pernah mereka saksikan sepanjang sejarah, yang dikomandoi oleh perempuan berseragam".

Sebagai penulis, Vinogradova memiliki talenta khusus dalam menangkap gambaran besar sejarah sekaligus memaparkan detil individual yang tajam. Pada halaman kata pengantar, ia mengaku sangat tertarik pada "cerita yang berkaitan dengan pengalaman manusia.”

Perempuan kelahiran Moskow ini tak mau menyebut dirinya sebagai sejarawan, melainkan sebagai orang yang sering bersentuhan dengan banyak arsip Rusia. Ia membantu peneliti Antony Beevor menambal-sulam cerita kemanusiaan di Stalingrad dan banyak buku lain. Ia kembali berkolaborasi dengan Beevor untuk menerjemahkan dan menyunting buku harian Vasily Grossman, “A Writer at War”.

Kala memperkenalkan buku terbaru Vinogradova, Beevor menyebut tema yang diusung Vinogradova sebagai “fenomena unik dalam sejarah konflik modern”, yang juga membuka mata kita mengenai “kehidupan masyarakat Soviet di bawah pemerintahan Stalin”.

Arch Tait, yang menerjemahkan buku Vinogradova dari bahasa Rusia, berhasil menangkap gaya Vinogradova yang sedikit terengah-engah saat mendeskripsikan kehidupan para perempuan pemberani Soviet yang sangat beragam, dari peternak unggas miskin hingga astronom pemula.

Pasukan pilot perempuan Soviet terdiri dari tiga unit, salah satunya adalah pasukan yang paling ditakuti Jerman, “Night Witches”.

Namun buku Vinogranova tak sekadar menuturkan kisah sederhana mengenai idealisme, kepahlawanan, dan perjuangan bertahan hidup. Marina Raskova, yang petualangannya memecahkan rekor sebagai pilot pertama yang menginspirasi “jutaan perempuan Soviet”, belakangan diketahui sebagai agen rahasia NKVD, pelopor organisasi berdarah dingin KGB.

Pilot legendaris Valentina Grizodubova kemudian mengomentari kisah Raskova dengan getir, “Saya sangat yakin banyak orang yang sengsara karena dia.” Vinogradova mampu menangkap konteks dan kompleksitas dalam menunjukan bagaimana idola sebuah generasi dapat menjadi "arwah gentayangan". Gambaran citra Raskova muda yang berseragam militer putih dan melakukan atraksi skywriting dengan menulis “Jayalah Stalin!” pada atraksi udara tahunan Soviet Tushino Aviation Day, lebih terasa mengerikan daripada mengharukan.

Lyuba Vinogradova - Defending the Motherland: The Soviet Women who Fought Hitler’s Aces (Maclehose Press, April 2015)

Terdapat pula sejumlah kisah kepahlawanan nyata dalam “Defending the Motherand”, termasuk penuturan langsung para korban perang. Pada Maret 1942, pasukan Night Witches mematikan mesin mereka agar dapat meluncur dengan sunyi, namun di luar dugaan mereka dihantam badai salju dasyat, dan "terbang seperti menembus lautan susu”. Empat perempuan tewas dalam hamparan putih yang membingungkan, di mana “cahaya di darat… mulai terlihat seperti bintang di langit jauh.”

Lilya Litvyak, dalam “White Lily of Stalingrad”, merupakan perempuan pertama yang menarik perhatian Vinogradova dan kisahnya disampaikan secara narasi dalam buku tersebut. Kematian pilot tempur tangguh yang dibunuh pada awal usia 20-an tersebut sungguh merupakan kepedihan yang simbolis. Setelah ia hilang secara tiba-tiba, tersiar beragam rumor yang bertentangan: ada yang menyebutkan ia ditangkap hidup-hidup, ada pula yang menduga ia mengalami kecelakaan. Dalam surat terakhir pada ibunya, ia menulis: “Aku terbakar semangat untuk menyingkirkan para reptil Jerman itu dari tanah air kita…”

Sepanjang Perang Dunia II, hampir satu juta perempuan bergabung dengan pasukan Soviet, dan Vinogradova, yang buku terbarunya akan membahas para penembak ulung perempuan dari Tentara Merah, telah menggali detil sejarah yang kaya dalam memetakan kisah-kisah yang tak diketahui sebelumnya.

Baca juga: Tentara Perempuan di Angkatan Bersenjata Rusia: Lempar Granat Hingga Uji Coba Tank >>>

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.