Cinta Indonesia, Alina Saraswati Siap Meramaikan Panggung Musik Dangdut Tanah Air

Alina jatuh cinta dengan Indonesia dan kini siap menyemarakkan panggung musik dangdut Indonesia. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

Alina jatuh cinta dengan Indonesia dan kini siap menyemarakkan panggung musik dangdut Indonesia. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

Alina Saraswati, sekilas Anda mungkin mengira nama tersebut adalah nama perempuan Indonesia. Namun, Alina Saraswati adalah model sekaligus artis peran asal Rusia yang selama setahun terakhir ini sedang menekuni dunia tarik suara di Indonesia. Dara kelahiran Ufa, Rusia, 28 tahun lalu ini kini tengah menyiapkan diri untuk merilis lagu dangdut perdananya di Tanah Air. Mengapa Alina memilih dangdut? RBTH Indonesia berkesempatan mewawancarai Alina untuk mengetahui lebih banyak mengenai dirinya dan kecintaannya terhadap Indonesia.

RBTH (R): Bagaimana awal mula Anda ke Indonesia hingga akhirnya memutuskan untuk berkarir di sini?

Alina (A): Saya bekerja sebagai model sejak berusia 18 tahun. Saya pergi ke banyak tempat. Saya pergi ke Eropa, dan khususnya ke banyak negara di Asia. Suatu hari saya ke Indonesia sebagai model. Saya bekerja sebagai model di Jakarta selama tiga tahun. Saat itu saya adalah seorang model tenaga lepas atau freelance. Saya tidak tergabung dalam agensi mana pun. Saya hanya bekerja seorang diri. Saya melakukan segalanya sendiri, mulai dari bernegosiasi, memilih pekerjaan, hingga mengatur jadwal saya.

Namun, ketika kunjungan ke Jakarta saat itu (selama tiga bulan), saya mendapatkan begitu banyak pekerjaan. Saya pun berpikir bahwa ini memang tempat yang cocok bagi saya. Sebelumnya saya tidak pernah sesibuk ini. Di Jakarta saya bekerja setiap hari, selalu saja ada pekerjaan. Bagi saya, ini sangat mengejutkan. Akhirnya, saya pikir, mungkin di sinilah tempat saya. Setelah itu, saya kembali ke Rusia. Namun, saya langsung merindukan Jakarta dan saya ingin kembali ke sana. Jadi, selama tiga tahun saya selalu bolak-balik ke Jakarta.

R: Apa yang membuat Anda mencintai Indonesia?

A: Saya lihat, Indonesia adalah negara yang sangat positif. Orang-orang di sini selalu tersenyum, selalu berpikir positif. Kadang kita melihat orang-orang di jalanan, mereka membuat lelucon dan saling tertawa satu sama lain.

Saya juga punya banyak teman baik di Indonesia, khususnya di Jakarta. Mereka sangat, baik, jujur, dan saya belajar banyak dari mereka. Entahlah, saya hanya sangat mencintai Indonesia. Kadang saya  berpikir, mungkin di kehidupan sebelumnya, saya adalah orang Indonesia.

 

Video kiriman RBTH Indonesia (@rbth_indonesia) pada Apr 15, 2015 pada 4:25 PDT

 

R: Mengapa Anda memilih nama “Saraswati”?

A: Saya sangat menyukai Bali. Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu. Di agama Hindu ada Dewi Saraswati. Dewi Saraswati adalah dewi ilmu pengetahuan dan seni. Ia juga dipuja sebagai dewi kebijaksanaan. Saya pribadi menganggap diri saya sebagai seorang yang berjiwa seni. Saya suka musik dan melukis. Jadi, saya pikir Saraswati nama yang cocok.

Nama: Alina Saraswati (nama asli Alina Salimgareeva)

Tempat, tanggal lahir: Ufa, 26 Januari 1987

Pendidikan terakhir: Universitas Negeri Bashkir (jurusan periklanan)

Tinggi: 180 cm, berat: 58 kg

Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

R: Bagaimana pertama kali Anda mengenal musik dangdut?

A: Dua tahun yang lalu saya punya teman Indonesia yang senang mendengarkan lagu dangdut. Suatu hari mereka bertanya, “Alina, kamu tahu lagu Indonesia?” Saya tidak tahu. Kemudian mereka meminta saya untuk mendengarkan lagu itu (lagu dangdut), dan rasanya saya langsung ingin bergoyang. Mereka terkejut ketika melihat saya menari. Saya tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tapi rasanya tubuh saya bergerak begitu saja. Sejak itulah saya mengenal dangdut. Lagu dangdut sangat mudah didengar dan sangat ringan.

R: Bagaimana pada akhirnya Anda memutuskan untuk menjadi penyanyi dangdut?

A: Karena saya suka dangdut, suatu hari manajer saya berkata, “Alina, kalau kamu suka dangdut, ayo jadi penyanyi dangdut!” Awalnya saya tidak yakin, tapi manajer saya meyakinkan saya. Saya pun akhirnya belajar teknik vokal. Hingga kini saya masih mengikuti kursus vokal seminggu sekali.

R: Berapa lama Anda mempersiapkan ini semua hingga akhirnya kini Anda bisa mengeluarkan sebuah lagu?

A: Sebetulnya, ini semua memakan waktu satu tahun, mulai dari belajar vokal hingga mempersiapkan segalanya. Saya juga sempat kembali ke Rusia karena nenek saya meninggal. Kadang ada kalanya kita berada di waktu yang kurang tepat. Namun ketika datang waktu yang tepat, segalanya terasa begitu cepat. Kini kami telah membuat rekaman, mengambil foto, dan juga mulai tampil di acara-acara televisi.

R: Apakah Anda pernah punya pengalaman di bidang tarik suara sebelumnya?

A: Tidak ada. Saya hanya punya satu kali pengalaman menyanyi, yaitu ketika saya masih kecil,  saya ambil sisir dan saya bernyanyi. Namun, sebetulnya, saya merasa memiliki darah seni sejak kecil. Saya suka ber-acting, menari, dan sebagainya.

Single pertama Alina, "Pengen Kawin", akan secara resmi dirilis pada 22 April mendatang. Alina akan mengadakan konferensi pers di restoran Jepang miliknya di Jakarta.

R: Apa yang bisa Anda ceritakan mengenai lagu Anda yang akan segera dirilis?

A: Ini adalah lagu mengenai seorang perempuan yang sering bergonta-ganti pacar. Bukan karena dia seorang perempuan yang tidak baik, tapi dia mencari lelaki yang terbaik. Dia pikir dia cantik, baik hati, tapi kenapa dia tidak bisa mendapatkan lelaki yang baik? Sebetulnya, dia merasa tidak perlu mencari yang tampan, tapi cukup yang baik hatinya. Sementara, semua temannya sudah punya pacar, bahkan ada pula yang sudah bersuami. Ketika dia bertemu mereka, kadang dia melihat mereka bersuap-suapan. Dia pun merasa pusing, dan “pengen kawin”.

Sumber: Alina Saraswati/YouTube

R: Siapa penyanyi dangdut favorit Anda?

A: Saya punya beberapa penyanyi favorit, tapi saya lebih ingat dengan beberapa lagu favorit saya. Saya suka lagu "E Masbuloh" dan “Berondong Tua”.

R: Apakah Anda ada rencana untuk memperkenalkan musik dangdut ke Rusia?

A: Sekarang kami belum berpikir ke arah itu. Mungkin di masa depan, kami akan mencoba membawa dangut ke Rusia, siapa yang tahu? Kadang sesuatu terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Namun, masalahnya budaya Asia dan Eropa, atau Rusia, agak berbeda. Jadi, saya belum yakin. Mungkin nanti kami bisa membuat musik dangdut dengan aliran modern. Sebetulnya lagu dangdut saya cukup modern karena ada unsur musik rap di dalamnya.

R: Bagaimana Anda berkompetisi dengan penyanyi-penyanyi dangdut lainnya di Indonesia?

A: Bagi saya, Tuhan telah memberikan peluang atau rezeki kepada semua orang untuk menjadi orang yang kaya, sukses, dan sehat. Namun, terkadang orang-orang tidak memanfaatkan peluang yang diberikan dengan baik. Padahal, semua orang memiliki kelebihan masing-masing. Jadi, bagi saya, jika kita bekerja keras, kita baik hati, selalu membantu orang, tidak curang, jujur pada diri sendiri, keluarga, dan teman, kita akan mendapatkan segala kebaikan—tidak peduli berapa banyak kompetitor di luar sana—Tuhan akan memberikan rezeki-Nya pada kita.

Menurut Alina, setiap orang sudah memiliki rezekinya masing-masing dan jalan untuk menggapainya. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH IndonesiaMenurut Alina, setiap orang sudah memiliki rezekinya masing-masing dan jalan untuk menggapainya. Foto: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

Kita mungkin berkompetisi, tapi setiap orang sudah memiliki rezekinya masing-masing dan jalan untuk menggapainya. Jadi, kita tidak perlu marah. Kerjakan saja pekerjaan kita, dan jika kita mencintai apa yang kita kerjakan, kita pasti sukses.

R: Selain pernah menjadi model dan kini bernyanyi, Anda juga pernah membintangi film layar lebar?

A: Suatu hari saya mendapatkan pekerjaan dari salah satu manajer saya. Dia menawarkan saya untuk ikut dalam sebuah produksi film. Saya bilang bahwa saya tidak bisa bicara bahasa Indonesia. Namun, dia meyakinkan bahwa saya tidak perlu bisa bicara bahasa Indonesia, tapi setidaknya perlu mengetahui seni bela diri. Tentu saja tidak ada satu pun seni bela diri yang saya kuasai. Namun, dia tetap mendorong saya untuk mengikuti casting, dan ternyata mereka menyukai saya. Kemudian saya dilatih dasar-dasar seni bela diri selama tiga bulan. Ini adalah film pertama saya, Guardian (2014).

Cuplikan film Guardian (2014). Sumber: Stromotion Stroworld/YouTube

Ketika saya sudah cukup menguasai ilmu bela diri, saya bermain film bersama Willy Dozan dalam film Duel (2014). Kemudian, dua film terakhir saya adalah film horor, yaitu Kamar 207 (2014) dan Kastil Tua (2015).

Masih ada satu lagi film dengan genre drama yang saya perankan. Film itu adalah film Rusia. Film ini belum selesai. Karena itu, musim panas kali ini saya akan kembali ke Rusia untuk menyelesaikan film tersebut untuk kemudian diputar di Festival Film Cannes.

R: Apa saja tantangan yang Anda temui selama berkarir di Indonesia? Bagaimana Anda menghadapi tantangan-tantangan tersebut?

A: Masalah saya tetap pada bahasa. Kadang saya ingin bicara lebih banyak, tapi saya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia. Namun, saya selalu belajar bahasa Indonesia setiap hari, mencari kata-kata baru, bicara dengan orang-orang, dan juga teman-teman Indonesia saya. Jadi itulah masalahnya. Saya sangat ingin bisa lancar berbicara bahasa Indonesia seratus persen.

R: Bagaimana awal mula Anda belajar bahasa Indonesia?

A: Pertama kali saya ke Jakarta, saya tidak mau tinggal di sini. Saya hanya bekerja di sini. Jadi, saya tidak begitu memedulikan bahasa. Saya hanya mempelajari sedikit kata. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk tinggal di sini, dan saya pikir saya harus berbicara bahasa Indonesia. Kemudian saya belajar bahasa Indonesia dengan seorang guru yang datang ke rumah saya, tapi saya merasa tak ada hasilnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk bicara bahasa Indonesia dengan orang-orang Indonesia, bersama teman-teman, sopir taksi, atau pelayan di kafe. Tentu lebih baik jika saya mempraktikkan langsung berbicara dengan orang-orang Indonesia.

R: Bagaimana Anda menilai kemampuan bahasa Indonesia Anda saat ini?

A: Saya pikir kemampuan bahasa Indonesia saya saat ini sudah 70 persen. Kadang saya tidak begitu yakin dengan apa yang saya dengar, tapi ketika saya memperhatikaan orang berbicara dan saya mengenali beberapa kata, saya mencoba untuk menghubungkannya satu sama lain. Sama seperti bahasa Inggris. Dulu guru bahasa Inggris saya selalu mengatakan jangan pernah malu berbicara dengan bahasa Inggris. Jika kamu mendengar secara cermat, dan menangkap beberapa kata, kemudian kamu bisa menghubungkannya maka kamu bisa bicara. Jadi, saya juga melakukan hal serupa dengan bahasa Indonesia.

R: Apakah tinggal di Indonesia mengubah diri Anda?

A: Tentu saja. Saya menjadi orang yang lebih kalem, lebih sabar. Ketika di Rusia, saya mau semuanya cepat dan to the point, tapi sekarang saya lebih tenang. Sebetulnya, saya senang dengan pribadi saya sekarang saya ini karena menjadi orang yang terlalu ambisius tidak bagus, khususnya di bidang saya ini. Tentunya saya masih memiliki ciri khas Rusia saya. Terkadang saya agak kasar, tapi selama di sini saya berusaha untuk lebih lembut.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.