Paris, Berlin, Varna: Pedesaan Rusia yang Menyandang Nama Kota-kota Eropa

Sebuah perjalanan surealis melintasi ‘Eropa’ di Pegunungan Ural, mengunjungi Menara Eiffel dan Tembok Berlin di Rusia.

Sebuah perjalanan surealis melintasi ‘Eropa’ di Pegunungan Ural, mengunjungi Menara Eiffel dan Tembok Berlin di Rusia.

TASS
Di jantung Pegunungan Ural bagian selatan, terdapat ‘benua Eropa mungil’ yang unik berupa serangkaian desa yang menyandang nama-nama kota di Eropa, dan bahkan memiliki monumen-monumen yang sama seperti kota-kota tersebut, termasuk Menara Eiffel dan Tembok Berlin.

Paris, Fère-Champenoise, Berlin, Leipzig, Varna, Cassel, Port Arthur, dan selusin desa lain tercantum di peta wilayah Chelyabinsk, Rusia. Desa-desa ini menyandang nama kota-kota Eropa untuk mengenang kejayaan tentara Rusia dalam menaklukkan kota-kota tersebut di masa lalu. Bala tentara Cossacklah yang memberi nama permukiman-permukiman itu, setelah kembali ke perbatasan wilayah Kekaisaran Rusia.

Intrik geografis yang membingungkan ini tidak hanya menjadi simbol kejayaan militer Rusia, tapi juga menjadi salah satu tujuan wisata yang paling menarik di Rusia. Perjalanan dari Paris ke Berlin di Ural ini memakan waktu sekitar satu hari. Jika Anda ingin mencobanya, sebaiknya Anda menggunakan mobil dan didampingi oleh warga lokal.

Suku Nağaybäks di ‘Eropa’

Jangan bayangkan Anda bisa duduk di bar dan menenggak segelas bir Bavaria di Desa Cassel, Ural. Jangan pula bayangkan Anda bisa menonton pertunjukan fesyen kelas atas di Desa Paris. Di sana, Anda ‘hanya’ akan menemukan kehidupan desa yang tenang, rumah-rumah kayu beratap rendah dengan tungku pemanas dan sumur, jalanan berdebu, gereja-gereja mungil, serta kecantikan alam Ural yang memesona. Semua desa ‘Eropa’ tersebut hanya terpisah jalan raya biasa. Desa-desa ini aslinya merupakan permukiman Cossack yang bertujuan menjaga pertahanan perbatasan.

Sumber: Lori/Legion-MediaSumber: Lori/Legion-Media

Di Eropa Ural, turis asing tak akan menemukan kemewahan. Alih-alih, Anda dapat rehat sejenak dari kebisingan kota saat mengunjungi desa-desa yang penduduknya memiliki gaya hidup unik ini.

Di sana, Anda akan bertemu dengan penduduk suku Nağaybäks. Suku yang penuh teka-teki ini merupakan sebuah etnis yang muncul setelah periode kristenisasi suku Tatar. Mereka ikut bertempur dalam Perang Patriotik melawan Napoleon dan menaklukkan Paris pada 1814 bersama tentara Rusia. Orang Nağaybäks sangat menyukai turis dan mereka sangat ramah. Mereka akan dengan senang hati menunjukan tradisi mereka pada Anda dan membocorkan semua rahasia kuliner dari leluhur mereka.

Namun, bersiaplah mengalami gegar budaya. Meski mereka memiliki nama Rusia, mereka berbicara dalam bahasa Nağaybäk (salah satu dialek Tatar). Mereka juga merupakan penganut Kristen Ortodoks yang masih melakukan ritual pagan meski sebenarnya telah dilarang oleh pendeta di daerah setempat.

Saat memperingati kematian kerabat mereka, orang Nağaybäk menyelenggarakan ritual begadang dengan mempersembahkan kurban. Setahun sekali sebelum Paskah, mereka menyiapkan ritual mandi pada hari Kamis Putih. Suku Nağaybäks percaya bahwa pada hari itu jiwa para leluhur mereka dibersihkan, sehingga masyarakat yang masih hidup tidak boleh menutup gerbang desa dan tidak boleh memasuki area pemandian. Mereka juga memiliki hidangan yang ganjil. Hidangan pencuci mulut favorit mereka adalah ceri yang direndam dalam minyak lalu diberi gula.

Pada 2012, dua ratus tahun setelah pertempuran melawan Napoleon, orang Nağaybäks hendak mengenang aksi leluhur mereka dan melakukan tapak tilas ke Paris.

Mengendarai bus melewati Polandia, Jerman, dan Prancis, delegasi Nağaybäk melewati permukiman-permukiman Eropa yang sama yang pernah dilewati oleh leluhur Cossack mereka. Pemerintah Paris tidak sempat bertemu dengan mereka, tapi Walikota Arcis-sur-Aube menyambut warga Nağaybäk tersebut, dan menyatakan, “Kalian adalah orang Rusia pertama yang kembali ke kota kami setelah Tsar Aleksandr I pada 1814.”

Menara Eiffel Rusia

Desa Paris di Ural hanya memiliki 2.500 penduduk. Desa ini berdiri sejak 170 tahun lalu, awalnya berfungsi sebagai sebagai pos tentara Cossack Orenburg. Orang Cossack menamai tempat ini sama seperti ibu kota Prancis untuk mengenang keberhasilan tentara Rusia memasuki Paris setelah berhasil mengalahkan Napoleon pada 1814.

Meski atmosfer desa sangat kental, tempat ini sungguh memiliki jiwa dan semangat Prancis. Warga setempat, yang menyerap tradisi-tradisi terbaik Eropa, menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama. Di sana bahkan terdapat salon rambut bernama French Lady.

Desa Paris di Oblast Chelyabinsk, Ural Selatan. Sumber: TASSDesa Paris di Oblast Chelyabinsk, Ural Selatan. Sumber: TASS

Di pusat desa terdapat replika Menara Eiffel yang terbesar dan paling mirip di Rusia. Menara ‘kembaran’ Eiffel yang berdiri menjulang setinggi 50 meter ini berukuran seperenam dari ukuran asli simbol Prancis dan berbobot 160 kali lebih ringan.

Menara ini berfungsi sebagai menara jaringan seluler. Di menara tersebut terdapat tulisan, “Menara ini didirikan untuk mengenang kejayaan tentara Rusia” (atas kemenangan Perang Patriotik pada 1812). Tak jauh dari sana terdapat monumen kemenangan Arc de Triomphe, sama seperti di Paris.

Para turis sering mengambil tanda dan marka jalan yang menunjukkan nama desa ini, sehingga pemerintah setempat harus menyisihkan anggaran tersendiri untuk mengganti penanda jalan tersebut.

Tembok Berlin Rusia

Perang Patriotik adalah perang pada tahun 1812 antara Rusia melawan invasi tentara Prancis, sedangkan Perang Patriotik Raya adalah perang antara Uni Soviet melawan Nazi Jerman pada masa Perang Dunia II.

Desa Berlin di Ural terletak satu mil dari perbatasan Kazakhstan dan 96 mil dari Chelyabinsk. Desa ini berdiri sejak 270 tahun yang lalu, dan awalnya berfungsi sebagai pemukiman militer tentara Cossack Orenburg. Benteng Trinitas dibangun di sini lengkap dengan pos tentara dan atribut lainnya.

Desa mungil di Ural ini menyandang nama ibu kota Jerman sebagai penanda keberhasilan tentara Rusia merebut Berlin pada 1760, saat Perang Tujuh Tahun pada 1756 – 1763 dan selama Perang Patriotik melawan Napoleon pada 1813.

Di sini, pengunjung dapat melihat rumah-rumah lilin yang unik, yang telah berdiri selama berabad-abad. Dinding rumah tersebut berhasil melawan gempuran alam selama bertahun-tahun dan masih mampu menahan atap besar yang berat.

Saat ini, terdapat seribu penduduk yang tinggal di Berlin Ural. Sebagian besar dari mereka merupakan petani. Salah satu tujuan wisata yang menarik di sini ialah Tembok Berlin, berupa tembok beton yang mengingatkan kisah kelam sejarah Jerman.

Varna

Varna merupakan desa terbesar dan tercantik di Eropa Ural. Desa ini disebut sebagai ‘permata Ural selatan’. Desa ini menyandang nama tersebut atas keberhasilan tentara Rusia menguasai benteng-benteng Bulgaria di Varna pada masa Perang Rusia-Turki 1828 – 1829.

Varna Ural dulunya merupakan desa pemukiman warga Cossack, sebelum orang-orang Cossack pindah ke berbagai wilayah lain di Rusia. Warga Rusia, Kalmyk, Mordvin, Ukraina, Belarus, dan Tatar hidup berdampingan di desa ini, dengan jumlah total sepuluh ribu penduduk. Kehadiran beragam kultur dan nasionalisme di desa ini tak pernah memicu konflik antarwarga. Semua bisa hidup berdampingan.

Sumber: Lori/Legion-MediaSumber: Lori/Legion-Media

Sekitar satu mil dari Varna, terdapat Menara Tamerlane (Makam Kesene), sebuah monumen pemakaman Muslim abad pertengahan dari abad ke-14 yang menjulang setinggi 17 meter.

Menurut legenda, menara ini didirikan oleh penakluk Asia Tengah di abad pertengahan yang terkenal, Timur Tamerlane, di atas makam putrinya. Putri Tamerlane jatuh cinta pada seorang tentara dan lari bersamanya. Timur kemudian menangkap dan mengeksekusi kekasih putrinya tersebut. Setelah itu, putrinya tak bisa menahan rasa kehilangan dan ia pun memutuskan bunuh diri. Kini, Menara Tamerlane kerap dikunjungi oleh para pasangan baru. Mereka mengikatkan saputangannya di sekeliling pagar menara sebagai tanda cinta dan kesetiaan.

Kastil dan Gunung Prancis

Tujuan wisata ‘Eropa’ lainnya yang menarik berdiri satu mil di sebelah barat laut Desa Naila, wilayah Chelyabinsk. Di sana, terdapat gunung yang disebut Gunung Prancis, yang memiliki reruntuhan kastil Prancis. Kastil tersebut merupakan bagian dari pabrik asbes Prancis yang beroperasi antara tahun 1878 hingga 1915.

Kekaisaran Rusia menyewakan sebagian lahan di wilayah ini untuk pabrik asbes Prancis, serta mereka untuk mengeksplorasi sumber daya alam yang ada di sana. Secara diam-diam, warga Prancis yang tinggal di sini menambang bijih emas di Sungai Miass dan menyembunyikannya di kastil tersebut. Kini, yang tersisa dari pabrik tersebut hanyalah reruntuhan bangunan dan lubang-lubang tambang yang bertebaran di sana-sini.

Namun, masih ada jalan untuk mencapai puncak gunung, serta jalan setapak menuju hutan dan pembuangan limbah batu hias. Dari atas gunung, kita dapat melihat pemandangan lembah Sungai Miass dan rantai pegunungan Ilmeny.

Untuk informasi lebih lanjut wisata wilayah Ural selatan, hubungi Pusat Informasi Turis Wilayah Chelyabinsk: www.tourizm74.ru (berbahasa Rusia). E-mail: ogbuk_crt@mail.ru, telepon: +7351-2631224.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.