Kisah Pendirian Peoples’ Friendship University (RUDN), Universitas ‘Persahabatan’ Rusia

Setelah menyelesaikan studinya di kampus ini, para alumni RUDN kembali ke negaranya masing-masing. Banyak di antara mereka kemudian memegang jabatan penting di negaranya. Foto: Artem Geodakyan/TASS

Setelah menyelesaikan studinya di kampus ini, para alumni RUDN kembali ke negaranya masing-masing. Banyak di antara mereka kemudian memegang jabatan penting di negaranya. Foto: Artem Geodakyan/TASS

Meski Uni Soviet gencar menyebarkan doktrin ateisme bagi penduduknya, RUDN tetap mengakomodasi kepercayaan yang dianut oleh para mahasiswa asing. Kanselir RUDN Vladimir Filippov bercerita bagaimana RUDN telah menyatukan seluruh mahasiswa dari seluruh dunia yang berasal dari beragam kebudayaan.

Pada akhir Agustus 1968, Vladimir Filippov, seorang calon mahasiswa baru Peoples’ Friendship University, tiba di Moskow setelah berjam-jam mengendarai kereta malam dari Uryupinsk, sebuah kota kecil di wilayah Volgograd. Pemuda berusia 17 tahun tersebut baru sampai di penginapan kampus menjelang tengah malam. Ia menghabiskan malam pertamanya di ibukota Uni Soviet itu bersama dua orang teman barunya, sesama calon mahasiswa yang berasal dari Madagaskar dan Kamerun. Filippov berbagi selai buatan ibunya yang ia bawa dari rumah. Ketika itu, kedua teman barunya itu tak bisa berbahasa Rusia sepatah kata pun. Namun, entah bagaimana mereka sudah bisa saling percaya.

“Ternyata petugas penginapan yang bertanggung jawab atas cucian dan sprei sudah pulang. Ketika kami sampai kamar, mereka melihat bahwa tempat tidur saya tidak memiliki sprei. Mereka kemudian menjejerkan tiga kasur kami, lalu memasang dua sprei milik mereka. Saya tidur di tengah. Itulah kisah malam pertama saya di Moskow yang saya habiskan bersama mahasiswa asing. Itulah, bagaimana persahabatan kami bermula,” kenang Vladimir Filippov, Kanselir RUDN yang merupakan mantan Menteri Pendidikan Rusia.

Meski Uni Soviet gencar menyebarkan doktrin ateisme bagi penduduknya, RUDN tetap mengakomodasi kepercayaan yang dianut oleh para mahasiswa asing. “Pada pagi hari, saya melihat Jean-Paul, seorang Katolik, berdoa di sudut kamar, dan Abdul, seorang muslim, berdoa di sudut yang lain. Sementara saya, seorang anggota Liga Komunis Muda, tidak tahu harus melihat ke arah mana dan melakukan apa,” tutur Filippov.

Ketika itu, RUDN sudah memiliki prinsip hendak menyatukan seluruh mahasiswa dari seluruh dunia, yang berbicara berbagai bahasa dan berasal dari beragam kebudayaan.

Pada tahun 1960 hingga 1970-an, Uni Soviet mencoba menyebarkan pengaruh pada negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan menyediakan pelatihan dan pendidikan bagi anak-anak muda dari negara-negara tersebut, sambil mendukung perjuangan negara itu untuk mencapai kemerdekaan. Dengan memfasilitasi pendidikan generasi muda, Moskow berharap dapat menyebarkan bahasa dan budaya Rusia ke seluruh dunia. Pada saat yang sama, pemimpin Soviet juga berharap itu dapat membantu mempromosikan nilai-nilai komunis ke belahan dunia lain.

Berdasarkan tujuan itulah Peoples’ Friendship University didirikan pada 5 Februari 1960. Hingga awal 1990-an, kampus ini meminjam nama perdana menteri pertama Kongo, Patrice Lumumba. Staf pengajar kampus ini merupakan para akademisi dan profesor terbaik Rusia, baik di bidang sains maupun ilmu sosial.

Setelah menyelesaikan studinya di kampus ini, para alumni RUDN kembali ke negaranya masing-masing. Banyak di antara mereka kemudian memegang jabatan penting di negaranya, seperti mantan Perdana Menteri Republik Chad Abbas Yusuf Saleh, menteri di Mali Abdramane Sylla, Direktur Pelaksana Dewan Pariwisata Kenya Achieng Ongong'a, dan masih banyak lagi. Sementara, kawan Filippov, Jean-Paul dari Kamerun, menjadi menteri kehakiman.

Pada akhir 1980-an, Rusia menghirup angin perubahan setelah Gorbachev mengeluarkan kebijakan perestroika. Kala itu, RUDN merupakan salah satu lembaga pendidikan Uni Soviet pertama yang mengubah haluan pendidikan mengikuti model Barat, yakni menawarkan jenjang pendidikan sarjana dan master. Gelar di universitas Soviet dianggap setara dengan gelar sarjana, padahal jenjang pendidikan yang ditempuh untuk gelar tersebut mencapai lima hingga enam tahun.

“Saat itu, gagasan tersebut benar-benar baru bagi sistem pendidikan Soviet. Kanselir RUDN kemudian mendatangi Menteri Pendidikan Tinggi Uni Soviet, Yagodin, dan mengajukan protes karena gelar pendidikan kita tidak dianggap setara dengan gelar master di luar negeri. Yagodin kemudian mengeluarkan dekrit untuk bereksperimen menyusun program master,” kata Filippov.

Baca selanjutnya wawancara dengan Rektor RUDN: Rusia Punya Jaminan Kualitas Pendidikan. >>>

Artikel Terkait

Alasan Memilih Rusia sebagai Tempat Kuliah

Kuota Beasiswa ke Rusia Terus Meningkat

Universitas Negeri Moskow Masuk Lima Besar Perguruan Tinggi Terbaik BRICS

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.