Akibat Sistem Ujian Nasional, Pendidikan Menengah Rusia Mandek di Tengah Daftar Peringkat Global

Beberapa guru Rusia yang diwawancarai RBTH mengaitkan kemerosotan kualitas pendidikan sekolah dengan alasan-alasan di atas serta pengenalan sistem Single State Exam—Ujian Nasional (SSE) pada 2009. Foto: RG

Beberapa guru Rusia yang diwawancarai RBTH mengaitkan kemerosotan kualitas pendidikan sekolah dengan alasan-alasan di atas serta pengenalan sistem Single State Exam—Ujian Nasional (SSE) pada 2009. Foto: RG

Kualitas pendidikan menengah adalah masalah yang diperdebatkan secara luas oleh masyarakat Rusia. Para orangtua semakin khawatir dengan merosotnya standar pengajaran di Rusia.

Pengukuran kinerja akademik siswa yang paling objektif adalah Program for International Student Assessment—Program Penilaian Siswa Internasional (PISA). Program ini menguji siswa berusia 15 tahun setiap tiga tahun sekali. Tes PISA terbaru mencakup 74 negara, bertujuan untuk menilai kemampuan anak dalam memahami teks tertulis, menerapkan pengetahuan matematika dalam praktik, serta menjalankan pengetahuan sains.

Sayangnya, siswa Rusia secara keseluruhan tidak menampilkan prestasi akademis yang luar biasa. Sejak 2003, Rusia—dalam semua tiga bidang (membaca, matematika, sains)—tetap bercokol di peringkat antara ke-30 dan ke-41, yang tidak dapat digambarkan sebagai hal yang memuaskan. Meskipun pada 2012 posisinya menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, tetap saja Rusia masih tertinggal jauh di belakang pemimpin dalam peringkat ini: Tiongkok, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan Jepang.

Masyarakat Rusia percaya bahwa kualitas pendidikan menengah di era Uni Soviet sangat bermutu. Hal tersebut ada benarnya, karena Uni Soviet menerapkan sistem yang mencoba memberikan pendidikan akademis yang komprehensif, berdasarkan ide-ide Pencerahan Prancis dari abad ke-18. Sistem itu diterapkan tidak hanya untuk sekolah-sekolah tetapi juga untuk media. Radio menyiarkan musik klasik, sementara TV menampilkan opera dan balet. Literatur klasik diterbitkan sebanyak jutaan eksemplar. Pada 1990-an, sistem pendidikan membebaskan diri dari diktat negara, standar pendidikan menengah melonggar, dan berbagai kurikulum alternatif muncul dengan buku teks mereka sendiri.

Beberapa guru Rusia yang diwawancarai RBTH mengaitkan kemerosotan kualitas pendidikan sekolah dengan alasan-alasan di atas serta pengenalan sistem Single State Exam—Ujian Nasional (SSE) pada 2009. Yuri Latyshev, seorang guru dari Ulyanovsk yang memiliki 50 tahun pengalaman kerja dan beberapa buku tentang pedagogi mengatakan bahwa Rusia belum menyadari dampak negatif pengenalan SSE. Ia menunjukkan bahwa anak-anak sekolah sebelumnya mempelajari sejarah atas dasar program yang komprehensif, sedangkan sekarang mereka fokus hanya pada bagian-bagian pelajaran yang ditampilkan dalam SSE. “Kita akan segera merasakan kekosongan, karena anak-anak meninggalkan sekolah dengan ‘setengah berpendidikan’. Pengetahuan yang penting sering kali tidak dimasukan ke dalam soal-soal SSE, sehingga anak-anak mengabaikannya.” Seorang guru bahasa Rusia dari Moskow, Dmitry Larionov, sepakat dengan hal tersebut. “Murid sekolah saat ini menderita penyimpangan memori yang serius. Mereka sering tidak tahu pada abad berapa penulis-penulis terbesar Rusia, seperti Pushkin atau Lermontov, hidup. Mereka tidak dibentuk untuk mendapatkan pengetahuan sistemik. Bagi mereka, yang terpenting adalah berlatih untuk lulus SSE.”

Lyudmila Yasyukova, Kepala Laboratorium Universitas St. Petersburg dan Kepala Pusat DiagnosaKemampuan dan Pengembangan, menghubungkan penurunan kualitas pendidikan dengan penurunan pemikiran konseptual, yakni kemampuan untuk mengidentifikasi berbagai karakteristik yang signifikan untuk menentukan hubungan sebab-akibat serta mengategorikan materi.

Pemikiran konseptual di masa lalu dikembangkan dalam proses pengajaran matematika dan ilmu pengetahuan. Ia menunjukan, “Sebelumnya, anak-anak mulai belajar botani dan sejarah di kelas lima. Namun saat ini yang diajarkan di kelas lima adalah studi alam dalam bentuk cerita tentang alam yang tidak disatukan oleh logika apapun. Untuk sejarah, mereka bukannya sejarah peradaban, tetapi ‘sejarah dalam gambar’, gado-gado yang sama, tanpa logika.”

Namun demikian, dilihat dari survei PISA, kualitas pendidikan sekolah di Rusia ini sejalan dengan situasi di dunia pada umumnya. Akan tetapi, untuk sebuah negara yang pernah bangga atas kemenangannya di Olimpiade Sekolah Internasional, posisi di tengah-tengah klasemen pendidikan menengah tidak dapat menjadi pelipur lara.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.