Dilepas Setelah Rehabilitasi, Harimau Putin Masuk Wilayah Tiongkok

Berdasarkan data dari Yayasan Perlindungan Satwa (IWAF), terdapat 40 ekor harimau yang meninggal setiap tahunnya di kawasan Dalniy Vostok. Foto: Vasily Solkin/WWF Russia

Berdasarkan data dari Yayasan Perlindungan Satwa (IWAF), terdapat 40 ekor harimau yang meninggal setiap tahunnya di kawasan Dalniy Vostok. Foto: Vasily Solkin/WWF Russia

Sebelum pergi menelusuri Sungai Amur dan memasuki wilayah Tiongkok, seekor harimau jantan bernama Ustin muncul di pinggiran pantai pusat kota Khabarovsk. Harimau itu mencapai pusat kota dengan berenang dari Pulau Bolshoi Ussuriyskiy yang berbatasan dengan Tiongkok, berkelana ke sana kemari, dan berenang kembali ke pulau tempat ia pertama kalinya dilepas ke alam bebas.

Sama seperti saudaranya, Kuzya, yang berkelana di Tiongkok bagian utara sejak Oktober lalu dan sepertinya tidak berniat untuk kembali, Ustin adalah satu dari lima harimau yang dilepaskan ke alam bebas berdasarkan program kepresidenan pada awal tahun ini. Vladimir Putin sendiri yang melepaskan harimau bernama Kuzya tersebut.

Vyacheslav Rozhnov, Kepala Program Kepresidenan untuk Penelitian Hewan-hewan Langka yang mengawasi pusat rehabilitasi harimau tempat kelima harimau tersebut tumbuh berkembang mengatakan, harimau-harimau itu tidak melarikan diri, melainkan hanya berusaha menelaah wilayah baru, karena bagi mereka tidak mengerti perbatasan Tiongkok.

Pakar dari wilayah Dalniy Vostok sepakat bahwa hewan, terutama harimau jantan, memiliki insting untuk menyelidiki wilayah barunya. Menurut sang pakar, kemungkinan Ustin dapat kembali ke wilayah Rusia pada musim dingin mendatang. Akan tetapi, fakta bahwa harimau program kepresidenan di pusat rehabilitasi tersebut tidak terlalu takut akan manusia membuat para pakar dari WWF dan Komunitas Amurskiy Tigr yang didanai oleh pemerintah terpaksa berpikir ulang apakah program rehabilitasi yang telah mereka buat sudah benar.

Pusat Rehabilitasi

Para pemburu menemukan kelima harimau tersebut—Ustin, Borya, Kuzya, Ilona, dan Svetlaya—di sebuah taiga pada musim semi dua tahun lalu. Induk mereka meninggal di tangan pemburu gelap, sedangkan mereka bisa saja mati akibat kelaparan atau kedinginan jika tidak ditolong oleh pusat rehabilitasi. Berdasarkan data dari Yayasan Perlindungan Satwa (IWAF), terdapat 40 ekor harimau yang meninggal setiap tahunnya di kawasan Dalniy Vostok.

Para pekerja organisasi masyarakat menyerahkan harimau-harimau itu ke pusat rehabilitasi dan melakukan pengenalan kembali harimau serta hewan-hewan langka lainnya di Desa Alekseevka, Primorskiy Kray.

“Pusat rehabilitasi adalah suaka yang luas dan manusia dilarang masuk ke dalamnya,” cerita Vyacheslav Rozhnov kepada RBTH.

Rozhnov menjelaskan tugas pusat rehabilitasi adalah membantu harimau “mendapatkan kembali perilaku memburunya, membentuk hubungan dengan manusia, serta hubungan dengan sesama hewan”. “Tugas kami adalah memberi makan dan mendidik mereka agar mereka bisa kembali ke alam bebas,” kata Rozhnov.

“Perburuan Gelap Ilmiah”

Koordinator Program Filial Amur WWF Rusia untuk Pelestarian Fauna Satwa Pavel Fomenko menyebut pekerjaan pusat rehabilitasi sebagai “tindakan percobaan” terhadap harimau dan merupakan “perburuan gelap ilmiah”.

“Contoh sederhana, harimau dikurung dalam suaka yang berukuran tidak besar. Mereka disuguhkan makanan berupa rusa hidup agar mereka belajar berburu dan mendapatkan makanannya sendiri. Namun begitu, rusa tersebut dibawa menggunakan mobil pada waktu tertentu, harimau mendengar bunyi mesin mobil, sehingga sejak kecil mereka sudah membentuk reaksi tersendiri terhadap mobil. Mobil berarti makanan. Jadi, hal pertama yang mereka lakukan ketika harimau tersebut dilepas di alam bebas adalah mengikuti jejak kendaraan,” kata Fomenko.

Fomenko menyimpulkan para harimau yang dilepas tersebut berusaha mencari makan dan menakut-nakuti dari jalanan,  sebab salah satu dari harimau tersebut pernah tertangkap menyerang mobil.

Direktur Amurskiy Tigr Sergey Aramilev mengatakan bahwa kesalahan utama terdapat pada tugas dasar rehabilitasi tersebut, yang seharusnya untuk mendidik harimau agar mampu berburu di alam liar.

“Harimau berumur sekitar dua tahun kelak akan menjadi dewasa dan mandiri. Oleh sebab itu, tugas rehabilitasi yang sebenarnya adalah agar para harimau takut terhadap setiap kemunculan dan tindakan manusia serta manusia itu sendiri secara keseluruhan,” ujar Aramilev kepada RBTH.

Kebun Binatang atau Pusat Rehabilitasi

Rozhnov mengatakan para harimau yang jatuh ke tangan manusia lebih baik direhabilitasi di pusat penangkaran dan dipersiapkan agar dapat dilepas ke alam liar. Namun para pakar dari wilayah Dalniy Vostok menilai para harimau perlu diperlakukan berdasarkan umurnya.

“Semakin lama harimau tinggal di alam liar, semakin kecil kemungkinan ia terbiasa dengan manusia,” kata Aramilev. Oleh karena itu, Aramilev dan Fomenko dari WWF menilai bahwa harimau yang berusia hingga setengah tahun lebih efektif diserahkan ke kebun binatang dan penangkaran supaya populasi harimau yang tinggal di kebun binatang bertambah, dibanding menghabiskan jutaan rubel untuk pusat rehabilitasi yang memberi hasil tak pasti.

Kedua pakar harimau tersebut sepakat bahwa masalah rehabilitasi harimau dapat diperbaiki dengan pengembangan metodik dari pemerintah. “Harimau yang masuk ke pusat rehabilitasi pada kisaran umur dua hingga tiga tahun masih dapat dibuat menjadi layaknya harimau liar. Sayangnya, peluang harimau, yang direhabilitasi berdasarkan program buatan Institut Severtsev untuk bertahan hidup di alam bebas itu tidak ada,” tutur Fomenko.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.