Perjuangan Rayakan Halloween di Rusia

Di Rusia, Halloween juga dirayakan oleh orang Rusia dengan semangat yang sama, atau lebih tepatnya oleh generasi muda berusia 20-an yang gemar berpesta. Foto: Ramil Sitdikov/RIA Novosti

Di Rusia, Halloween juga dirayakan oleh orang Rusia dengan semangat yang sama, atau lebih tepatnya oleh generasi muda berusia 20-an yang gemar berpesta. Foto: Ramil Sitdikov/RIA Novosti

Pada malam Halloween, anak-anak biasanya berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta permen, melakukan tradisi Trick or Treat. Namun, ternyata hal tersebut tidak berlaku di Rusia. Jennifer Eremeeva memiliki perbedaan pandangan mengenai Halloween dengan suaminya yang merupakan seorang Rusia. Mereka tak bisa sepakat dalam hal labu, serta apakah anak-anak boleh mengetuk pintu rumah orang-orang tak dikenal untuk meminta permen.

Orang Rusia sepertinya sangat suka hari libur. Beberapa hari raya, seperti Tahun Baru, sangat populer, bahkan hingga dirayakan dua kali. Mereka juga kerap mengadopsi perayaan asing. Hari Valentine mengawali periode tiga minggu yang intensif dalam menghargai lawan jenis, yang mencakup Hari Laki-laki dan Hari Perempuan Internasional. Sungai Moskow menghijau pada Hari St. Patrick, dan jalan-jalan raya dibanjiri dengan Beaujolais Nouveau (anggur merah) pada bulan November.

Halloween pun dirayakan oleh orang Rusia dengan semangat yang sama, atau lebih tepatnya oleh generasi muda berusia 20-an yang gemar berpesta. Halloween di Rusia merupakan ajang bagi para anak muda untuk mengenakan kostum seksi, menenggak berember-ember minuman oranye dan hitam, berpesta semalam suntuk.

Namun, orang Rusia tidak turun ke jalan-jalan dengan anak-anak mereka yang mengenakan kostum dan spontan mengetuk pintu-pintu tetangga dengan harapan mendapat permen dan koin untuk kotak-kotak oranye UNICEF.

Di sisi lain, para orang asing yang tinggal di Rusia cukup pantang menyerah. Mereka bahkan mungkin akan merayakan Halloween di Korea Utara, jika perlu. Jadi, ada daerah-daerah Trick or Treat yang terisolasi di Moskow di komunitas berpagar asing dan di deretan komplek perumahan Kedutaan AS.

Saya memiliki hubungan baik semua komunitas tersebut, untuk memastikan putri saya Velvet akan memiliki kesempatan untuk merayakan Halloween secara layak. Saya memastikan setiap belanja musim panas mencakup kostum yang sesuai dan pasokan berlimpah tootsie rolls dan cokelat Hershey’s mungil. Saya memang sangat menyukai Halloween!

Suami saya, sebaliknya, tak pernah menyambut Halloween dengan hangat, dan maksud saya nyaris secara harfiah, karena dia menganggap berkeliaran di sekitar Rosinka berbalut pakaian yang tidak memadai sebagai anggota Asrama Gryffindor di malam hari di penghujung Oktober sebagai usaha ‘cari mati’. Saya rasa ia hendak menelepon seoarng pejabat Ombudsman Anak-anak Rusia pada tahun pertama saya melontarkan konsep Halloween.

Pada musim gugur ketika Velvet berusia tiga tahun, saya membelikan kostum lebah yang menggemaskan dan menemukan labu besar utuh di Moskow—bukan tugas yang mudah karena labu dianggap hanya sebagai sayuran dan bukan lambang ritual pagan yang paling terkenal di dunia. Labu dijual dalam potongan-potongan besar, yang membuat frustrasi penggemar Jack o’lantern. Saya menutupi lantai dapur dengan kertas koran, memotong tutup di sekitar tangkai labu, mencungkil bagian atasnya dan mengajak Velvet untuk membantu saya menyendoki biji-biji labu yang berlendir dan daging buahnya. Tak lama kami sudah berlumuran labu. Saat itu sungguh merupakan momen ibu dan anak yang menyenangkan, sampai….

Ada daerah-daerah Trick or Treat yang terisolasi di Moskow di komunitas berpagar asing dan di deretan komplek perumahan Kedutaan AS. Foto: Alamy/Legion Media.

“Ada apa ini?” tanya suami saya.

“Aku akan melakukan Trick or Treat!” Velvet memekik dengan gembira seraya menghambur ke arah suami saya. “Aku punya kostum dan aku akan mendapat satu kantong besar permen!”

Trick atau apa?” tanya suami saya, menarik dirinya dari pelukan berlendir Velvet.

“Kami akan pergi Trick or Treat di Kedutaan AS,” jelas saya. “Mereka merayakan Halloween pada hari Sabtu dan Tina mengundang kami untuk bergabung.”

“Apa itu Trick or Treat?” tanya suami saya dengan sabar.

“Seperti ini, Papa,” kata Velvet. “Aku mendatangi pintumu dan aku mengetuk—tok, tok, tok,” dia menggedor kulkas, “dan kau membuka pintu… ayo, Papa, buka pintunya!” Suami saya memperagakan gerakan membuka pintu.

“Dan aku berkata ‘Trick or Treat!’ dengan lantang sekali—benar ‘kan Mama?”

“Dengan sangat lantang,” kata saya menyetujui, “senyaring yang kamu bisa.”

“Dan kemudian Papa harus memberiku permen,” Velvet mengakhiri dengan penuh kemenangan, “aku akan mencoba kostumku!”

Suami saya tampak terpukau.

“Kalian akan mengetuk pintu orang—pintu-pintu orang asing…” dia terbata-bata.

“Mereka bukan orang asing bagiku,” kata saya menantang, menyendoki potongan terakhir daging labu yang keras kepala.

 “Dan kemudian kau akan membiarkan anak kita yang berusia tiga tahun menerima makanan dari orang-orang yang bahkan kita tidak kenal?” tanya suami saya, terperanjat.

Velvet muncul kembali dengan kostum lebahnya.

“Dia akan keluar dengan pakaian itu?!” suami saya berseru.

“Tapi baju itu menggemaskan!” protes saya, “Tahukah kau betapa sulitnya menemukan sesuatu yang tidak dibuat di Disneyland?”

“Suhunya minus lima derajat di luar!” kata suami saya.

“Lalu kenapa? Dia akan memakai stoking!” kata saya sambil mengertakkan gigi, seraya memotong mata Jack o’lantern.

“Aku enggak mau pakai stoking!” Velvet mulai menangis, “Aku enggak mau!”

Saya dan suami saya saling berpandangan dengan lelah. Pernikahan lintas budaya adalah pekerjaan sulit.

“Lalu, apa hubungannya labu dengan semua ini?” tanyanya.

Ya, begitulah kira-kira Halloween di Rusia.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.