Wajah Asia Tengah, Tanpa Rusia

Pusat kota Astana, Kazakhstan. Foto: Alamy/Legion Media

Pusat kota Astana, Kazakhstan. Foto: Alamy/Legion Media

Semakin hari negara-negara Asia Tengah semakin berubah menjadi negara-negara mono-etnis. Pengecualian hanya dapat dilihat di sejumlah daerah perbatasan yang dihuni oleh kelompok-kelompok etnis dari negara-negara yang bertetangga.

Pada zaman Soviet, Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan dianggap multietnis. Hal ini terutama dikarenakan hadirnya orang Rusia, yang sebenarnya mengacu pada perwakilan bangsa Slavia lain terutama orang Ukraina dan Belarusia.

Dewasa ini, situasi berubah secara dramatis. Orang Rusia di wilayah tersebut menjadi minoritas. Puncak eksodus penduduk berbahasa Rusia dari wilayah itu terjadi pada 1990-an, setelah runtuhnya Uni Soviet disusul kerusakan situasi sosial-ekonomi. Saat itu, muncul friksi antaretnis di berbagai wilayah. Akibatnya, pada tahun-tahun awal pasca-Soviet, jumlah penduduk berbahasa Rusia di Negara Asia Tengah berkurang dari hampir sepuluh juta penduduk menjadi tiga juta jiwa saja. Namun, proses migrasi ini belum berakhir.

Kazakhstan

Kazakhstan memimpin dalam hal jumlah orang Rusia yang ingin meninggalkan negara itu, ini di luar fakta bahwa Kazakhstan adalah mitra strategis Rusia dan anggota inti Uni Ekonomi Eurasia di masa depan. Alasan utama yang mendorong rakyat Rusia keluar dari Kazakhstan adalah kurangnya kesempatan bagi anak-anak (50 persen), kebijakan bahasa yang tidak disukai masyarakat (40 persen), kurangnya prospek untuk upah yang layak (37 persen), serta kurangnya keyakinan akan masa depan yang cerah (33 persen).

Kepala Pusat Informasi dan Penelitian (IRC) Fyodor Miroglov mengatakan tantangan terbesar orang Rusia di Asia Tengah ialah diskriminasi etnis. Di Kazakhstan, diskriminasi ini diungkapkan dalam kebijakan ketenagakerjaan. Lebih dari 90 persen eksekutif negara itu adalah wakil dari kelompok etnis yang dominan. Selain itu, ada upaya untuk membatasi atau meminimalkan penggunaan bahasa Rusia di kehidupan sehari-hari. Pada saat yang sama, secara paradoks, hal ini tidak mungkin karena jelas bahasa Kazakh tidak dapat sepenuhnya menggantikan bahasa Rusia dalam ilmu pengetahuan, hukum, dan beberapa bidang lain.

Kirgizstan

Jumlahorang Rusia di Kirgizstan saat ini adalah sekitar tujuh persen dari total penduduk. Sementara di era Soviet angka tersebut mencapai 25 persen. Orang Rusia awalnya mulai menetap di tempat yang kini disebut Kirgizstan sekitar 1850-1860, setelah tanah Kyrgyz dimasukan ke wilayah Kekaisaran Rusia oleh tentara Rusia. Ketika itu, pertempuran pertama pecah antara penduduk lokal dan penjajah Rusia yang telah menerima tanah yang subur dari sang Tsar. Pertempuran tersebut masih berlangsung hingga kini. Pertempuran terakhir terjadi empat tahun lalu, setelah revolusi terbaru pada 7 April 2010. Ketika itu, desa-desa Rusia seperti Mayevka dan Aleksandrovka diserang terkait perampasan tanah. Konflik tersebut sudah dinetralkan, namun penduduk Rusia yang tinggal di sana tidak memiliki jaminan bahwa hal itu tak akan terjadi lagi.

Mayoritas orang Rusia di Kirgizstan tinggal di utara negara tersebut, di kota Bishkek dan Provinsi Chuy, dekat Danau Issyk-Kul. Ibukota Kirgizstan masih merupakan kota yang didominasi penggunaan bahasa Rusia, meski bagian terbesar orang Rusia yang tersisa di negeri ini adalah kaum lanjut usia. Orang Rusia biasanya bekerja terutama di sektor industri dan energi. Dengan runtuhnya Uni Soviet dan penutupan usaha, warga berbahasa Rusia mulai meninggalkan Kirgizstan, bersama dengan seluruh perusahaan. Eksodus utama terjadi pada awal 1990-an, dan terus berlangsung hingga sekarang.

Kehidupan politik Kirgizstan memiliki sifat kesukuan. Populasi berbahasa Rusia telah menemukan dirinya di luar klan ini, di luar organisasi-organisasi struktural. Namun demikian, saat ini Kirgizstan masih merupakan negara yang paling toleran di Asia Tengah, jika kita mengevaluasi situasi dari kelompok etnis yang dominan dalam kaitannya dengan diaspora Rusia.

Uzbekistan

Sebuah situasi sulit berkembang di Uzbekistan, meski situasi ini bukan yang paling sulit dalam konteks pasca-Soviet. Citra orang Uzbekistan pasca-Soviet hampir selalu dikaitkan dengan matahari, pilaf (sejenis hidangan nasi), dan keluarga besar Uzbek yang sebagian membesarkan anak-anak berambut pirang. Citra tersebut muncul selama Perang Dunia II, ketika Uzbekistan "melindungi" tidak hanya pabrik yang pindah dari Moskow dan Leningrad, tetapi juga ratusan orang Rusia dari wilayah barat Rusia. Kini jumlah orang Rusia dan penutur bahasa Rusia di Uzbekistan mencapai tiga persen dari populasi. Bahasa Rusia di Uzbekistan memiliki status sebagai bahasa komunikasi antaretnis. Di republik ini, ada sekitar seribu sekolah dengan bahasa Rusia sebagai bahasa pengantar dan semua lembaga pendidikan tinggi memiliki kelompok berbahasa Rusia. Selain itu, banyak instansi yang bekerja sama dengan Rusia untuk melakukan pekerjaan administratif mereka dalam bahasa Rusia.

Tajikistan

Tajikistan adalah satu-satunya negara CIS (Persemakmuran Negara-negara Merdeka) yang memperbolehkan warganya memiliki kewarganegaraan ganda dengan Rusia. Sebelum 1990, negara ini memiliki hampir 450 ribu orang Slavia, dan Chkalovsk adalah kota Rusia sepenuhnya. Pada 1945, di kota tersebut berlangsung operasi gabungan tambang dan kimia pertama Vostokredmet untuk ekstraksi uranium mentah, yang merupakan awal dari sektor bahan baku industri nuklir di Uni Soviet. Saat ini tidak lebih dari 30 ribu orang Rusia bertahan di Tajikistan.

Alasan utama orang Rusia meninggalkan negeri ini adalah Perang Saudara. Setelah tercapainya perdamaian pada 1997, proses pemulihan tidak pernah dimulai. Perekonomian negara ini telah hancur, mundur kembali beberapa dekade. Saat ini, standar hidup di Tajikistan masih sangat rendah, dan hal ini membuat warganya memutuskan untuk melakukan eksodus. Kini, yang tersisa di Tajikistan hanyalah orang-orang lanjut usia yang tak memiliki tempat atau siapa pun untuk dituju.

Terlepas dari kenyataan bahwa di Tajikistan bahasa Rusia diakui sebagai bahasa komunikasi antar-etnis, ruang lingkup aplikasinya sangat sempit. Dushanbe dan Khujand masing-masing memiliki beberapa sekolah Rusia, dan Universitas Slavia Rusia-Tajik melatih spesialis dalam bahasa Rusia. Ada sebuah teater Rusia, namun karena dananya sedikit, praktis tidak beroperasi. Ada program harian berita TV dalam bahasa Rusia, Ahbor (Berita) dan program informasi mingguan.

Turkmenistan

Selama 22 tahun merdeka, setidaknya satu dari dua orang Rusia (penutur Rusia) di Turkmenistan dipaksa untuk meninggalkan negara itu. Puncak dari proses ini terjadi pada 2003, ketika Turkmenistan dan Rusia menandatangani perjanjian gas untuk jangka waktu 25 tahun. Sebagai tanggapan, Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan konsesi ke Turkmenbashi (Presiden Saparmurat Niyazov) dan menandatangani protokol untuk mengakhiri kewarganegaraan ganda. Setelah tercapainya “kesepakatan paket”, Niyazov mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa orang yang memiliki kewarganegaraan ganda harus melepaskan salah satunya.

Presiden baru Gurbanguly Berdimuhamedow yang berkuasa pada 2007 memutuskan untuk mengubah paspor sekaligus memecahkan masalah kewarganegaraan ganda. Setelah intervensi dari Moskow, warga negara ganda diizinkan untuk memegang paspor kedua. Namun, sangat sedikit orang semacam itu yang tersisa di Turkmenistan saat ini. Mungkin itu sebabnya sekarang ada hanya satu sekolah Rusia di negara ini yang sebagian besar muridnya adalah anak-anak pejabat Turkmen dan orang-orang kaya. Mereka ini ingin anak-anak mereka melanjutkan pendidikan mereka ke Rusia atau Belarus.

Penggunaan bahasa Rusia di Turkmenistan telah ditekan ke level minimum. Bahasa ini hanya dapat didengar di jalanan Ashgabat. Orang Turkmen, biasanya, di rumah dan di bidang pelayanan publik, hanya menggunakan bahasa nasional, yakni Turkmen.

Artikel Terkait

Bahasa Rusia Sebagai Lingua Franca

Bahasa Rusia di Negara-negara Bekas Uni Soviet

Penggunaan Bahasa Rusia di Ukraina

Meerkat dan Rakun, Hewan Peliharaan Favorit Warga Rusia

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.