Bollywood Siberia, Perfilman Kota Terdingin Rusia

Perfilman Yakutia tetap memiliki kesempatan untuk menyusul dan menyalip perfilman Bollywood. Foto: Vladislav Moisseev

Perfilman Yakutia tetap memiliki kesempatan untuk menyusul dan menyalip perfilman Bollywood. Foto: Vladislav Moisseev

Kota Yakutsk, ibukota Subjek Federal Republik Sakha—yang biasa disebut Yakutia, merupakan salah satu kota terdingin di Rusia. Pada musim dingin, suhu udara di kota ini bisa turun hingga –65°С, sementara di musim panas suhu udara dapat mencapai 40°С.

Selain terkenal karena suhunya yang ekstrem, selama lebih dari 20 tahun kota yang dikelilingi oleh tanah beku (permafrost) di belahan ujung utara dunia ini selalu memutar film-film lokal berbahasa Yakut (bahasa daerah) setiap tahunnya. Pemutaran film lokal di layar lebar tersebut selalu dipenuhi penonton meraih kesuksesan luar biasa. Para sinematografer kerap berkelakar menjuluki kota Yakutsk sebagai “Bollywood Rusia”.

Film Resmi Yakutsk

Di Republik Sakha, terdapat sebuah studio pembuatan film milik negara yang bernama Sakhafilm yang didirikan 22 tahun lalu, setelah jatuhnya Uni Soviet. Ada pula beberapa sutradara amatir yang hidup di kota tersebut, salah satunya Nikita Arzhakov yang telah bekerja di Sakhafilm sejak studio itu pertama kali didirikan.

Tahun depan, Arzhakov akan membuat film yang sangat penting dalam hidupnya. “Film ini dibuat berdasarkan roman penulis Yakutia Vasiliy Dalan yang berjudul “Tygyn Darkhan”, yang bercerita tentang kaisar pertama Yakut sebelum kedatangan bangsa Rusia,” terang Arzhakov.

Foto: Vladislav Moiseyev

Anggaran film tersebut mencapai lima hingga sepuluh juta dolar AS, yang menjadikan film ini sebagai film termahal kedua dalam sejarah perfilman Yakutia. Film termahal yang pernah dibuat di sana ialah film “Tayna Chingis Khaana” (Rahasia Genghis Khan) karya Menteri Budaya dan Kerohanian Yakutiya Andrey Borisov. Film buatan tahun 2009 lalu itu menghabiskan dana sebesar sepuluh juta dolar AS. Namun, film tersebut merupakan pengecualian. Studio swasta lokal biasanya membuat film dengan anggaran yang terbilang sangat minim. Secara garis besar, anggaran film ini sama dengan biaya pengambilan gambar satu hari film blockbuster Hollywood.

Kreativitas Sutradara Lokal

Jackie Chan sedang menyiram ladang ketimun, Bruce Lee memerah sapi, sedangkan Sub-Zero dari Mortal Combat sedang berada di gudang jerami. Para pencinta film dari daerah jauh Yakutia tengah berakting menjadi salah satu tokoh film idolanya dan bersaing untuk mendapatkan gelar juara. Semua itu adalah gambaran dari film Rusia yang berjudul “Geroy. Bitva za kubok” (Pahlawan. Pertarungan untuk piala). Sutradara amatir Vasya Bulatov bercerita ia dan seorang temannya merogoh kocek 100 ribu rubel (sekitar tiga ribu dolar AS) untuk pembuatan film tersebut. Film ini sudah diputar di ketiga bioskop kota Yakutsk dan telah tersedia dalam bentuk DVD.

Foto: Vladislav Moiseyev

Sutradara muda ini tumbuh bersama film-film Jackie Chan dan Jean Claude Van Damme. Saat masih sekolah, ia sering berkelahi. Suatu hari, ia mengambil kamera dan mengabadikan perkelahian orang lain dalam bentuk film. “Seorang teman saya memiliki kamera. Biasanya kami membuat film berdurasi pendek. Kemudian entah bagaimana kami memutuskan untuk membuat film berdurasi panjang serta memutar film kami di sebuah klub untuk mendapatkan uang. Ternyata peminat datang dari seluruh desa. Kami tercengang, “Yang benar saja, ini ternyata berhasil”. Film tersebut berdurasi 40 menit dan bertema kehidupan para bandit. Pertarungan massal di film tersebut dibintangi oleh seluruh siswa sekolah kami,” kenang Vasya.

Setelah itu, Vasya membuat film “Yakutsk 2053”. Namun film ini tidak terlalu laris di bioskop sebab mereka tidak mampu bersaing dengan Iron Man 3 yang diputar berbarengan dengan film tersebut. Kini Vasya berencana untuk membuat serial sitkom (situasi komedi) yang menyerupai sitkom Friends.

Mockumentary Horor

Perdukunan dan kekayaan mifologi adalah budaya yang hingga saat ini masih menjadi dasar pandangan orang Yakut. Tak heran, salah satu genre film terpopuler di sana adalah film horor. “Naakhara”, “Kharana Khos”, dan “Paranormalniy Yakutsk” adalah film-film dengan anggaran yang sangat minim. Film-film horor yang hanya bermodalkan 20 ribu rubel (570 dolar AS) dan laris-manis ditonton masyarakat tersebut tersebut pun diputar di bioskop.

Sutradara film Paranormal “Yakutsk Kostya Timofeyev” bercerita bahwa orang Yakut percaya ketika Yesus masuk ke dalam air pada Hari Pembaptisan, para setan (syuplyukyuny) keluar dari air dan masuk ke dunia nyata. “Mereka percaya jika kita keluar di tengah malam sambil berselimut lalu duduk di dekat prorub (sebuah lubang yang dibuat di tengah hamparan es dengan air dingin di bawahnya), syuplyukyuny akan memukul kepala kita. Jika kita tahan akan rasa sakit tersebut (dari rasa pukulan), maka mereka akan memberitahu masa depan kita. Namun jika tidak, mereka akan mengambil roh kita.”

Foto: Vladislav Moiseyev

Film karya Kostya tersebut merupakan sebuah mockumentary dari film “The Blair Witch Project”. Mockumentary adalah film fiksi yang dibuat mirip dengan film dokumenter, biasanya tanpa diiringi musik agar memberi kesan nyata. Film tersebut dibuat dengan biaya 60 ribu rubel (dua ribu dolar AS) saja, namun berhasil meraih pendapatan sebesar dua juta rubel (57 ribu dolar AS). Setelah membuat film itu, Kostya pun berhenti membuat film. “Hasrat membuat film adalah penyakit jiwa. Itu seperti bercinta, ketika semua sudah tersalurkan kita mendapatkan ketenangan selama dua hari, namun setelah itu, muncul kembali berbagai pikiran di dalam kepala, ide-ide tentang alur film,” kata Kostya.

Penghargaan Belum Maksimal

Meski Yakutia terkenal dengan berlian, emas dan minyak bumi, ada beberapa orang yang berhasil meraup keuntungan dari dunia perfilman. Georgiy Nikolaev yang bekerja di bioskop teater Lena dan menggeluti bidang repertoar bercerita, “Ketika muncul film buatan lokal di Yakutia, kami mempelajari terlebih dahulu film tersebut. Jika kami yakin terhadap proyek tersebut, maka kami mengeluarkan uang kami sendiri untuk membuat iklan dan promosi untuk film itu. Film-film pertama kami pilih dengan hati-hati, satu kali pemutaran dan setelah itu orang pun datang berbondong-bondong,” cerita Nikolaev.

Perfilman Yakutia sempat berhasil menjadi model bisnis bioksop-bioskop setempat. Para distributor film mengambil film-film karya sutradara amatir lokal dengan hasrat menggebu. Namun hal tersebut berubah seiring waktu. Nikolaev mengatakan kondisi perfilman saat ini menghadapi tantangan yang lebih sulit. Selera dan kualitas penonton terus meningkat, namun para penggiat dunia perfilman lokal masih belum didewakan dan belum mendapat penghargaan tinggi dari masyarakat. Meski demikian, perfilman Yakutia tetap memiliki kesempatan untuk menyusul dan menyalip perfilman Bollywood.

Pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Rusia di Russkiy Reporter.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.