Gaya Busana Stalin, Sang Pemimpin Soviet

Joseph Stalin di Kongres Petani Soviet, 1933. Foto: RIA Novosti

Joseph Stalin di Kongres Petani Soviet, 1933. Foto: RIA Novosti

Stalin dikenal dengan gaya berpakaian yang bersahaja dan sederhana, tapi pada saat yang sama memancarkan kepercayaan diri atas kekuasaan dan kekuatan imperialnya. Ia kerap mengenakan sehelai tunik semi-militer dengan sepatu bot kulit lembut yang secara tradisional dipakai kaum pria di Kaukasus, atau seragam Generalissimo.

Lenin, sang pemimpin Revolusi Bolshevik, memiliki citra yang mencolok dan penuh paradoks. Citra Lenin merupakan paduan dari badannya yang tidak tinggi, kepala separuh botak, berbicara cadel, berjalan cepat, dan memiliki tingkat emosional yang tinggi. Ia kerap mengenakan topi datarnya yang legendaris. Pada sebagian besar monumen yang menghiasi lapangan pusat setiap kota di berbagai penjuru Rusia, Lenin berpose tengah bergerak dengan topi datar favoritnya bertengger di atas kepala atau digenggam kusut di tangannya.

Citra Stalin berkebalikan dengan Lenin. Setelah kekacauan akibat perang saudara, Soviet membutuhkan stabilitas dan pemimpin yang memancarkan kekuatan, kepercayaan diri, dapat diandalkan, dan memiliki kekuasaan tak tergoyahkan. Fitur etnis Kaukasus Selatan Stalin dan sikapnya yang tidak tergesa-gesa adalah karakter yang tepat dan dibutuhkan Soviet. Dalam memoar Menteri Industri Minyak Soviet pertama pada pemerintahan Stalin Nikolai Baybakov tertulis bagaimana penampilan Stalin sungguh memancarkan wibawa yang luar biasa. “Saya masuk ke ruangan, lalu tertegun. Stalin, sang komandan tertinggi, berdiri memunggungi saya. Saya mendekatinya dengan sangat hati-hati, bahkan saya tidak berani berdehem. Saya menatapnya, memandangi penampilannya. Ia mengenakan tunik abu-abu dan sepatu bot berkulit lembut, sangat sederhana untuk seorang kepala negara…”

Stalin saat menghadiri Konferensi Potsdam, 1945. Foto: RIA Novosti

Prajurit Revolusi, Anak-anak Perang Saudara

Sejak awal revolusi hingga pertengahan Perang Dunia II, busana pilihan Stalin adalah tunik militer yang terbuat dari kain berkualitas tinggi dan celana panjang yang diselipkan ke dalam sepatu bot Kaukasus berkulit lembut. Ketika di luar rumah, ia mengenakan mantel prajurit biasa selama bertahun-tahun, sampai mantel itu menjadi usang.

Stalin, 1930. Foto: RIA Novosti

Artyom Sergeyev, anak seorang teman dekat Stalin mengingat dalam sebuah wawancara dengan Yekaterina Glushik yang ditulis dalam “Percakapan Tentang Stalin” (diterbitkan di koran Zavtra tahun 2006), “Suatu hari Stalin pulang dan melihat mantel baru tergantung di dinding. Ia bertanya, ‘Di mana mantel lama saya?’. Saat mengetahui mantel tersebut sudah tidak ada, ia menjadi sangat marah. ‘Kita bisa membeli mantel baru setiap minggu menggunakan uang rakyat. Tapi saya masih bisa memakai yang lama. Setelah mantel itu usang, baru kau bisa bertanya apakah saya perlu mantel baru,’ kata Stalin. Ia benar-benar marah,” tutur Sergeyev.

Antara anggota Partai Komunis diam-diam untuk mematuhi gaya berbusana yang sama, berupa tunik militer atau kemeja prajurit. “Prajurit revolusi”, demikian fungsionaris partai menyebut diri mereka pada saat itu, memilih pakaian semi-militer bukan hanya karena alasan ideologis. Sebagian besar dari mereka, sebelum pindah ke kantor pemerintah, menghabiskan waktu bertempur di Perang Dunia I, mengambil bagian dalam revolusi, dan kemudian memimpin Tentara Merah dalam perang saudara. Mereka merasa lebih nyaman dalam kemeja prajurit dibanding dalam pakaian sipil.

Mulai 1938, jas untuk para pemimpin negara, termasuk beberapa tunik Stalin, dibuat oleh toko jahit pusat untuk merancang seragam baru bagi jenderal Tentara Merah. Toko tersebut masih ada dengan nama Toko Jahit Eksperimental Pusat 43. Stalin secara pribadi menyetujui semua desain baru seragam militer, hingga ke kancing-kancingnya.

Kelahiran Gaya Imperial

Stalin lebih suka berpakaian sederhana saat berada di Rumah. Artyom Sergeyev mengenang, “Di rumah, ia mengenakan celana kanvas dan jaket linen, yang kadang ia tanggalkan. Meski dalam kemeja katun, ia tetap tampak seperti seorang prajurit. Saya belum pernah melihat Stalin mengenakan setelan sipil. Sementara pada hari libur, ia memakai baju linen dengan jaket terkancing. Kadang ia membuka kancingnya dan memperlihatkan kemeja putih di bawah jaket tersebut,” cerita Sergeyev.

Konferensi Yalta yang dihadiri oleh para pemimpin negara sekutu (4-11 Februari 1945). Foto: ITAR-TASS

Dalam hal hiasan kepala, Stalin lebih suka topi pet dengan mahkota kecil dan genap. Setiap topinya merupakan buatan tangan, dan ia baru mengenakan top baru setelah topi yang sebelumnya usang. Jika, Stalin menemukan sesuatu yang salah pada topi barunya, ia akan tetap memakai yang lama.

Setelah Stalin diberi gelar Marsekal Uni Soviet dan Generalissimo, seragam rancangan desainer yang mewah melawan selera minimalis sang pemimpin Soviet. Seragam versi asli berwarna biru laut, berhias bordir dengan benang emas. Seragam tersebut pada dasarnya terinspirasi oleh seragam perwira Rusia dari awal abad ke-19, namun ditolak pada presentasi pertama dan dikirim ke museum, tempat seragam itu masih tersimpan hingga kini. Kemudian, tunik abu-abu terang yang sederhana dibuat dengan kerah lebar, karena Stalin merasa kerung kerah yang diusulkan semula tidak nyaman. Empat kantong klasik dan ornamen tanda pangkat marsekal tersemat di bahu. Celananya memiliki garis-garis celana panjang dan keseluruhan seragam tampak cukup mengesankan. Sejak itu, lahirlah kesukaan Stalian akan gaya imperial. Ia merasa gaya tersebut kalem dan mencolok, namun pada saat yang sama terlihat sederhana dan agung.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.