Dukun Rusia, Menyembuhkan Hingga Melihat Masa Depan

Mark Guslyakov, salah satu dari 13 dukun yang hadir dalam festival The Call of 13 Shamans, percaya bahwa kemampuan paranormal ada dalam genetik manusia. Foto: RIA Novosti

Mark Guslyakov, salah satu dari 13 dukun yang hadir dalam festival The Call of 13 Shamans, percaya bahwa kemampuan paranormal ada dalam genetik manusia. Foto: RIA Novosti

Festival The Call of 13 Shamans (Panggilan 13 Dukun) dilangsungkan di Siberia pada akhir Juli lalu. Koresponden RBTH bertamu ke kediaman salah satu dari 13 dukun tersebut di Sokolniki, Moskow dan berbincang mengenai arti perdukunan di Rusia, serta hal-hal yang dilakukan dukun Rusia di zaman modern ini.

Festival tersebut diikuti oleh paranormal praktis dari seluruh dunia, termasuk kepala suku Meksiko, Greenland, Mongolia dan Korea. Salah satu dari 13 dukun yang hadir adalah Mark Guslyakov, warga Moskow yang berprofesi sebagai seorang paranormal, penyembuh alternatif, sekaligus pendiri perkumpulan nonkomersil Dom Shamana (Rumah Dukun).

Dukun Moskow

Mark Guslyakov mengaku banyak orang yang datang padanya untuk meminta bantuan. “Baik orang miskin, kaya, kekurangan, tidak bahagia, sampai pecandu alkohol, pernah datang kepada saya. Tugas saya adalah membantu sesama dan saya berusaha melakukan tugas tersebut sebaik-baiknya,” ujar Guslyakov.

Ruang kerja Guslyakov berupa kamar yang di dalamnya terpajang lukisan dan pernak-pernik magis. Di dinding depan meja tergantung ikon Kristen ortodoks, sementara di sudut ruangan terdapat kostum dukun dari kulit serigala dan rebana, atribut utama dukun Rusia.

Mark lahir di Kazakhstan dan mendapat kemampuan paranormal pertama kali saat berumur lima tahun. “Saya terlahir dengan kemampuan khusus yang tidak dapat dibuang atau dihentikan. Bukan saya yang memilih jalan hidup yang kini saya jalani,” kata Mark. Ia dianugerahi kemampuan mendeteksi penyakit kronis seseorang dari warna kulit dan jari kaki orang tersebut.

Ia menjelaskan bahwa kemampuannya didapatkan secara turun-temurun. “Saya tidak perlu mempelajari hal itu. Semua leluhur saya adalah penyembuh alternatif dan pelaku ritus magis, bahkan nama keluarga saya “Gulyak”, yang artinya penyihir,” kata Mark.

Mark bercerita, sekali dalam sehari tubuhnya mengalami kejang berat selama 15-20 menit dan dalam keadaan tersebut realita penerawangannya berubah-ubah. “Perlu kekuatan yang luar biasa untuk bisa kembali ke dunia nyata. Hingga saat ini, itu masih menjadi misteri yang belum terpecahkan bagi saya,” kata Mark.

Panggilan 13 Dukun

Mark Guslyakov. Foto: arsip RBTH

Mark menjelaskan, ia biasanya menolong orang-orang yang menderita penyakit bawaan lahir yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan medis, padahal penyakit itu berbahaya dan dapat menghancurkan hidup seseorang. Dalam festival Panggilan 13 Dukun yang berlangsung di Tuva, Siberia pada Juli lalu, warga setempat mengantre untuk bertemu para dukun demi meminta pertolongan. Lebih dari setengah pengunjung festival datang karena menghadapi masalah spiritual yang menyebabkan kematian dalam keluarganya.

Festival dukun ini terkenal di kalangan praktisi spiritual di seluruh dunia. Mark adalah salah satu dari 13 dukun terpilih dalam festival tersebut. Penyelenggara acara ini merupakan seorang dukun daerah Tuva, Nikolay Oorzhak. “Kami tidak tahu bahwa pertemuan kami berlangsung saat muncul berbagai konflik bersenjata di dunia,” kata Mark.

Ia menjelaskan misi dari acara ini adalah mencari tahu apa yang akan terjadi di dunia dan menyatukan para dukun di seluruh muka bumi. “Saat ini banyak orang yang melakukan praktik spiritual, namun saling bertengkar dan tidak menghargai tradisi satu sama lain,” terang Mark.

Mark bercerita dalam festival tersebut terjadi keajaiban yang nyata. Para dukun peserta acara sempat bermukim di gunung saat suhu mencapai 40-50 derajat Celsius. Suhu ini termasuk sangat panas, bahkan bagi penduduk sekitar. Dalam kondisi seperti itu, para dukun mendaki gunung untuk melakukan pengasingan diri selama tiga hari. Banyak dari mereka yang tidak membawa air. Lalu, seorang dukun asal Mongolia melakukan ritus miliknya. Ia mengeluarkan wadah-wadah air dan menaruh mereka seraya berkata, “Saya pikir ini cukup untuk semua”. Setelah itu, ia mulai menabuh rebananya dan melantunkan lagu ritual. Tiga menit kemudian, hujan turun membasahi seluruh pakaian dan mengisi wadah air yang ditaruhnya. “Ini jelas adalah ilmu pengetahuan dari zaman kuno, ilmu dukun yang terus dijaga dan diwariskan secara turun temurun,” tutur Mark.

Tak Mudah

Kehidupan dukun di Rusia tidaklah mudah, karena para dukun tidak mendapat banyak dukungan. Padahal, di negara lain dukun dilindungi oleh pemerintah negara mereka. UNESCO bahkan mengesahkan mereka sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Dukun Rusia yang masuk perlindungan UNESCO ialah Presiden Dukun Tuva, Mongush Kenin, Lopsan.

Mark menyampaikan bahwa di Moskow sebenarnya banyak orang yang bisa melakukan penyembuhan alternatif dan memiliki energi aura yang spesial. “Rata-rata orang tersebut berasal dari Siberia,” papar Mark.

Siapakah Dukun itu?

Mark percaya bahwa kemampuan paranormal ada dalam genetik manusia. “Ada hal-hal tertentu yang dapat Anda rasakan langsung tanpa perlu memakai kostum ataupun api magis, tanpa adanya lagu ataupun doa, tapi cukup dirasakan dalam tubuh manusia,” kata sang dukun. Menurut Mark, dulu para dukun dikenali melalui tanda-tanda fisik yang berbeda seperti warna mata dan garis tangan, namun tradisi itu sudah hilang. “Walau begitu, setiap orang sebenarnya dapat merasakan apakah dukun di hadapannya asli atau palsu,” terang Mark.

Mark menyatakan perdukunan adalah kegiatan yang dilakukan manusia menggunakan “talenta alami” mereka. “Perdukunan adalah anugerah artistik dari alam semesta. Bentuk anugerah itu bukan kita yang memutuskan. Bakat seorang dukun adalah perluasan dari batas persepsi manusia biasa, perluasan dari pemahaman esensi kehidupan,” kata Mark. Ia melanjutkan, dukun adalah orang yang memiliki dan mengumpulkan kesadaran akan diri sendiri dan alam semesta. “Dukun berjiwa bebas dan indra keenamnya lah yang mengendalikan hidupnya, bukannya aktivitas dan benda duniawi”.

Seorang dukun percaya bahwa menuliskan buku tentang ritus-ritus dukun adalah percuma, tidak ada satupun praktisi spiritual yang akan melakukannya. “Perdukunan bukanlah tentang menulis buku, melainkan bagaimana menggunakan indranya. Setiap orang mempunyai tujuh indra. Selain panca indra yang diketahui pada umumnya, ada juga indra penglihatan dan perasa spiritual, seperti pengindra masa depan, mahluk halus, dan lain-lain. “Namun di dunia modern saat ini, orang-orang malah menekan kedua indra tersebut, padahal para leluhur kita dulu menggunakan hal itu sebagai pengganti fungsi internet dan telepon. Mereka dapat merasakan satu sama lain, saling memahami walau terpisah jarak, seperti telepati,” kata Mark menyimpulkan.

Kehadiran dukun bagaimanapun tetap dibutuhkan. Mereka ialah orang-orang yang berpikir tegas, logis dan rasional, melihat dunia lain yang paralel dan belum bisa dijelaskan dengan ilmu eksak modern saat ini.

Artikel Terkait

Selusin Takhayul Ala Rusia

Festival Shaman, Tempat Berkumpul Para Dukun Terkuat di Dunia

Tujuh Gestur Orang Rusia dan Maknanya

Lonceng Gereja Rusia, Kembali Berdenting dalam Tradisi Kuno

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.