Tradisi Minum Teh Rusia, Unik dengan Kehadiran Samovar

Samovar merupakan sebuah ketel logam khas Rusia yang pasti hadir dalam upacara minum teh Rusia. Museum Seni Dekoratif Rusia menyelenggarakan pameran berjudul “On Samovars and Other Things” (Ketel Logam dan Benda-benda Lain) pada bulan Juni lalu. RBTH berkesempatan berbincang dengan kurator pameran mengenai upacara minum teh Rusia yang unik dengan kehadiran samovar.

Foto: Press Photo

Saat memulai upacara minum teh ala Rusia, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyalakan kayu bakar dan menunggu air di samovar mendidih. Ketika air mulai mendidih, samovar akan bersiul, mengepul, dan air di dalamnya benar-benar menggelegak. Setelah air cukup panas, samovar dibawa ke meja dan ditempatkan di sisi teko. Seduhan dari teko pertama-tama dituangkan ke dalam cangkir teh kemudian diencerkan dengan air panas dari samovar.

Samovar berdiri di tengah meja, menjulang di atas teko. Berbagai hidangan diletakkan di atas taplak meja bermotif serpihan salju. Kue jahe, baranki (bagel kecil yang renyah), roti manis, dan gula-gula terhidang di meja. Gula disajikan dalam potongan kecil atau bongkahan, yang akan ditempatkan di mulut saat seseorang meminum tehnya. Di samping makanan kecil terdapat cangkir teh yang duduk di atas piring cawan cekung. Pada periode awal sejarah Rusia, orang Rusia lebih suka meminum teh dari cawan tatakan tersebut. Peminum teh akan memegang cawan dengan tiga jari dan kemudian menyeruput teh langsung dari cawan. Minum teh dulu merupakan kegiatan yang sangat bising dan cukup menarik.

Menurut Olga Yurkina, kurator pameran “On Samovars and Other Things”, tidak ada tradisi minum teh yang sama seperti cara minum teh di Rusia. Yurkina menjelaskan, upacara minum teh Rusia berbeda dari upacara minum teh Jepang dan Tiongkok. Di sana, tujuan utama minum teh adalah menikmati teh itu sendiri, sehingga di meja mereka hanya tersedia teh. Di Inggris tradisi minum teh juga hanya menyediakan teh dan krim. Sementara di Rusia, teh menjadi alasan untuk berbincang panjang-lebar. Oleh karena itu harus ada kue, gula-gula, dan beragam makanan lezat di atas meja untuk dinikmati sambil minum teh. “Di Rusia, upacara minum teh bukan hanya sekedar menikmati teh, tapi juga sajian istimewa yang menyertainya. Sambil minum teh, kita duduk membicarakan berbagai topik dengan panjang-lebar,” tutur Yurkina.

Teh Hijau dan Hitam

Ada legenda yang menceritakan kaum Cossack melakukan perjalanan melalui Tiongkok pada abad ke-16 dan membawa pulang hal yang mereka pelajari tentang teh. Namun, dokumentasi pertama teh di Rusia berasal dari zaman tsar pertama dari Dinasti Romanov, Mikhail Romanov, yang tercatat pada abad ke-17.

Kisah kehadiran teh yang sesungguhnya di Rusia dimulai pada masa pemerintahan Peter yang Agung. Pada periode itu Kaisar Tiongkok menandatangani perjanjian perdagangan barang antara Rusia dan Tiongkok. Pada tahun 1720-an, Tiongkok sudah mulai memasok teh ke Rusia dalam skala industri.

Sejak saat itu, konsumsi teh menjadi sebuah kebutuhan rutin di Rusia, khususnya konsumsi teh Tiongkok. Teh yang dibawa ke Rusia dari Tiongkok datang melalui Siberia dan Pegunungan Ural. Perjalanan tersebut biasanya membutuhkan enam bulan. Hal ini berbeda dengan Eropa yang mengimpor teh dari India menggunakan kapal dagang Inggris. Selama pelayaran di laut, teh menjadi lembap dan harus dikeringkan lagi saat sampai di Eropa. Proses pengeringan tersebut tentu memengaruhi rasa dan kualitas teh. Akibatnya, Eropa dan Rusia memiliki dua rasa teh yang berbeda.

Menurut Yurkina, ada anggapan orang Tiongkok selalu meminum teh hijau, sementara orang Rusia kebanyakan meminum teh hitam. Namun, ia menjelaskan hal itu adalah sebuah kebetulan.”Pada awal perdagangan teh, Rusia lebih banyak mengimpor teh hitam. Jika 300 tahun yang lalu Rusia telah mengimpor teh hijau, mungkin semua orang di Rusia saat ini akan minum teh hijau,” ujar Yurkina.

Rusia, Tempat Kelahiran Samovar

Pada zaman dahulu sebelum ada listrik, memanaskan air harus mengandalkan api dari kayu bakar. Maka itu, orang Rusia menciptakan samovar agar mudah memanaskan air.

Foto: Press Photo

Ada beberapa versi cerita mengenai bagaimana samovar tercipta. Kisah pertama menyebutkan samovar didatangkan oleh Peter I dari Belanda, kemudian perajin Rusia memodifikasi benda tersebut. Cerita lain menyebutkan samovar berasal dari Tiongkok, baru kemudian diciptakan kembali oleh perajin Rusia. Versi ketiga menjelaskan samovar diproduksi pada 1740-an di pabrik-pabrik Demidov di Ural. Saat itu, industri pertambangan dan senjata di Ural telah berkembang. Orang pertama dalam dinasti industrialis Rusia, Nikita Demidov, membawa perajin dari kota Tula ke Ural. Para perajin tersebutlah yang menciptakan sang samovar. Ketel logam khas Tula itu kemudian menjadi terkenal di seluruh Rusia dan para perajin mulai membuka toko mereka sendiri setelah kembali ke tempat asal mereka.

Ada berbagai jenis samovar: ada yang bisa dibawa-bawa untuk satu cangkir air, ada samovar tak bergerak yang bisa menampung sepuluh liter air, ada pula "dapur samovar" yang terdiri dari tiga bagian sehingga makanan dan air bisa dimasak secara terpisah.

Yurkina menjelaskan, harga samovar tidaklah murah. “Pada abad ke-19, rata-rata harga samovar ialah sepuluh rubel dalam emas, itu sama dengan gaji sebulan penuh. Namun, orang Rusia menjaga ketel logam mereka dengan baik. Mereka hanya perlu membeli satu untuk digunakan selama-lamanya. Bahkan samovar juga sering diturunkan sebagai warisan,” kata Yurkina.

Samovar yang dipanaskan dengan kayu bakar masih dijual di Tula hingga saat ini dan masih diminati banyak orang. Merebus teh menggunakan kayu bakar jelas memiliki eksotisme tersendiri dan merupakan penghargaan atas tradisi. Selain itu, menikmati teh terasa lebih lezat jika didahului dengan upacara memanaskan air dan mengatur meja. Aroma samovar itu sendiri pun menciptakan suasana yang tak terlupakan di dalam rumah.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.