Kisah Sfinks di Sankt Peterburg: Dari Sejarah hingga Mitos Kuno

Patung sphinx di Jembatan Mesir di atas Sungai Fontanka. Foto: Lori/Legion Media

Patung sphinx di Jembatan Mesir di atas Sungai Fontanka. Foto: Lori/Legion Media

Sfinks ternyata tak hanya ada di Mesir. Di Rusia pun terdapat patung sfinks yang cukup populer, tepatnya di Sankt Peterburg. Patung singa berkepala manusia ini sudah ada di Piter (sebutan akrab Sankt Peterburg) sejak zaman dulu, menyajikan keindahan sederhana yang penuh makna. Patung itu bahkan menjadi ikon kota Rusia yang berbatasan dengan Finlandia tersebut.

Sfinks di Tepi Universitetskaya

Patung sfinks yang terletak di dekat Jembatan Blagoveshchensky ini berwajah firaun Amenhotep III, raja Mesir yang telah wafat sejak 3.500 tahun yang lalu. Sfinks inilah yang disebut Sfinks Sankt Peterburg. Mereka merupakan sfinks tertua di kota it, sekaligus sfinks sederhana yang paling artistik di kota tersebut.

Pada zaman dahulu, patung-patung sfinks ini menjaga makam Raja Amenhotep III yang terletak di Thebes. Namun, mereka perlahan tenggelam di pasir. Patung ini baru ditemukan kembali setelah arkeolog Yunani Atanasis melakukan penggalian pada awal abad ke-19.

Setelah ditemukan, Inggris memutuskan untuk memindahkan patung sfinks ini ke Alexandria. Egyptolog Prancis Champollion hendak membeli patung tersebut, tapi penawarannya dikalahkan oleh Andrei Nikolaevich Muraviev dari Rusia. Muraviev merupakan perwira sekaligus diplomat Rusia yang menulis buku spiritual "Pemuda Religius" tentang orang-orang yang berziarah ke tempat-tempat suci. Sfinks tersebut kemudian ditempatkan di sel khusus dan dipindahkan dari Alexandria ke Sankt Peterburg.

Patung sphinx yang terletak di dekat Jembatan Blagoveshchensky, di tepi Universitetskaya. Foto: Lori/Legion MediaPatung sfinks yang terletak di dekat Jembatan Blagoveshchensky, di tepi Universitetskaya. Foto: Lori/Legion Media

Banyak legenda dan cerita mistis yang tersebar di masyarakat mengenai patung singa berkepala manusia ini. Ada mitos, memandang sfinks dapat menyebabkan seseorang menjadi gila. Pada 1938, organisasi pemuda komunis Komsomol dari Lengorstroytrest mendorong anggota tim mereka ke tanggul dan menghujani mereka dengan tembakan seraya mengutuk Stalin. Komisariat Rakyat untuk Urusan Dalam Negeri NKVD kemudian menjelaskan kehebohan tersebut merupakan pengaruh dari sfinks.

Sejak dulu, sfinks juga dikaitkan dengan Sungai Nil. Sfinks yang ada di Sankt Peterburg dipercaya dapat melembutkan karakter Sungai Neva. Orang yang tenggelam di sungai tersebut biasanya muncul di sebelah sfinks. Namun di luar kisah seram itu, tepi Sungai Neva merupakan tempat yang damai dan menyenangkan di segala cuaca dan waktu.

Patung sphinx yang terletak di dekat Jembatan Blagoveshchensky ini berwajah Firaun Amenhotep III. Foto: Lori/Legion MediaPatung sfinks yang terletak di dekat Jembatan Blagoveshchensky ini berwajah Firaun Amenhotep III. Foto: Lori/Legion Media

Anda dapat menemukan sfinks ini dengan mudah saat turun di stasiun metro Vasileostrovskaya. Ketika Anda berdiri menghadap Sungai Neva, gedung Akademi Kesenian terletak tepat di belakang Anda, diikuti taman Rumyantsev. Tak jauh dari sana, berjejer barisan istana dan museum sampai Strelka. Di sisi kanan belakang jembatan Blagoveshchensky terlihat patung Krusenstern, kapal-kapal, serta sungai yang mengarah ke teluk Finlandia.

Sfinks di Jembatan Mesir di Atas Sungai Fontanka

Jembatan Mesir pernah runtuh pada musim dingin 1905. Sejarah mencatat jembatan ini runtuh akibat resonansi yang timbul setelah dilewati oleh pasukan tentara. Namun, alasan tersebut agak dipertanyakan karena resimen yang terdiri dari kavaleri dan kuda tidak berjalan dengan irama yang sama. Jembatan kemudian direkonstruksi, namun ia harus kehilangan dekorasi mewahnya yang dulu. Tidak ada lagi gapura-gapura tinggi dengan tiang dan seekor elang di tengahnya, tidak ada pula ornamen bergaya unik atau hieroglif. Dekorasi yang tersisa hanya berupa empat sphinx besi bermahkota emas yang diciptakan oleh pematung Pavel Sokolov.

Sphinx di Jembatan Mesir di atas Sungai Fontanka. Foto: Lori/Legion MediaSfinks di Jembatan Mesir di atas Sungai Fontanka. Foto: Lori/Legion Media

Patung-patung sfinks ini tak bergaya Mesir, melainkan tipe Yunani klasik, dengan rupa yang feminin dan realistis. Tubuh binatang yang besar kontras dengan ciri khas wajah tanpa ekspresi. Sebelum jembatan runtuh, lampu-lampu dipasang pada mahkota-mahkota sfinks. Kini patung-patung sfinks dengan tenang menjaga jembatan sederhana dengan obelisk dekoratif di tepiannya.

Di tanggul jembatan Malaya Neva Kamennoostrovsky, dekat stasiun metro Chernaya Rechka juga terdapat sfinks yang serupa.

Singa-singa betina di Fontanka ini terlihat sangat eksotis. Mereka diletakan di tepi distrik bersejarah Kolomna dekat Kanal Obvodny, yang secara bertahap berubah menjadi zona industri suram.

Cara paling mudah menemukan sfinks ini adalah berjalan ke Lapangan Sennaya, keluar dari stasiun metro Sadovaya di Moskovsky Prospekt, menyeberang jalan di sebelah kiri sampai Fontanka, lalu menelusuri sepanjang sungai melalui tiga jembatan. Dari Jembatan Mesir, Anda juga dapat dengan mudah menemukan kanisah/sinagoga Moor di Lermontovsky Prospekt, dan di sisi lain Anda dapat melihat Katedral Holy Trinity yang indah dengan kubah-kubah birunya.

Shi-Tsza di Tanggul Petrovsky

Pada tahun 1907, sfinks-sfinks Tiongkok dipasang di jalan yang melandai ke air. Anda dapat menemukan harta karun Tiongkok ini tak jauh dari tanggul Petrovsky. Tempat ini menawarkan pemandangan Summer Garden dan garis tanggul di tepi seberang Neva yang paling cantik.

Shi-Tsza di tanggul Petrovsky. Foto: Lori/Legion MediaShi-Tsza di tanggul Petrovsky. Foto: Lori/Legion Media

Di Tiongkok, patung ini disebut shi-tsza, yang berarti singa. Tapi patung tersebut tidak mirip singa, lebih terlihat seperti chimera berwajah aneh, menunjukkan eksotisme dan keunggulan artistik yang dapat disandingkan dengan peninggalan Mesir kuno. Shi-tsza tersebut juga ditugaskan sebagai penjaga tepi sungai.

Fungsi shi-tsza sama seperti sfinks klasik. Mereka digunakan untuk menjaga istana dan makam kerajaan, serta mewakili kebesaran Tuhan. Jika diperhatikan dengan seksama, wajah shi-tsza, menyerupai anjing Peking Tiongkok. Ini bukan kebetulan, karena anjing-anjing Peking dibawa khusus ke kaki kaisar untuk duduk seperti singa kecil.

Gubernur Jenderal Priyamursky Grodekov menerima hadiah shi-tsza dari seorang Tionghoa di Jilin. Ia kemudian memberikan singa-singa Manchuria ini untuk Sankt Peterburg.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.

Untuk mengikuti kisah dan video menarik lainnya kunjungi halaman Facebook Russia Beyond

Situs ini menggunakan kuki. Klik di sini untuk mempelajari lebih lanjut.

Terima kuki