Suka-Duka Berpuasa di Moskow

Sejak dulu, di Moskow terdapat banyak penduduk beragama Islam dan mereka selalu menjunjung kedamaian dan kerukunan umat beragama.

Sejak dulu, di Moskow terdapat banyak penduduk beragama Islam dan mereka selalu menjunjung kedamaian dan kerukunan umat beragama.

ITAR-TASS
Ada lebih dari dua juta umat Islam yang tinggal di Moskow. Sama seperti seluruh umat Islam di seluruh dunia, muslim di Rusia saat ini sedang menjalankan ibadah puasa sejak Sabtu (28/6) lalu. Kali ini RBTH akan menceritakan bagaimana para muslim di Moskow menjalankan ibadah puasa mereka.

Mufti (pemimpin umat Islam) Ildar Alyautdinov yang tinggal di Moskow menyatakan bulan Ramadan kali ini jatuh pada periode waktu terang terpanjang dan waktu gelap terpendek dalam satu tahun. “Tetapi kami mendapatkan bantuan dari Allah. Suhu udara di Moskow yang rendah membuat orang tidak cepat haus dan lapar, bila dibandingkan dengan saudara-saudara muslim yang berada di Asia dan Afrika,” kata Alyautdinov pada RBTH.

RBTH bertemu dengan Alyautdinov di tempat bersejarah kota Moskow, yaitu Memorialnaya Mechet (Masjid Memorial) di Poklonnaya Gora. Tempat tersebut dibangun pada tahun 1990-an untuk menghormati para pejuang muslim yang mengorbankan nyawanya dalam Perang Patriotik Raya yang berlangsung bersamaan dengan Perang Dunia II.

Masjid Memorial di Bukit Poklonnaya, Moskow, punya nilai sejarah. Masjid ini didirikan atas inisiatif Pemerintah Moskow dan administrasi spiritual muslim Eropa dan Rusia (DUMER) untuk menghormati dan mengenang tentara muslim Uni Soviet yang mengorbankan nyawa mereka dalam Perang Dunia II. Sumber: Fauzan Al-Rasyid/RBTH IndonesiaMasjid Memorial di Bukit Poklonnaya, Moskow, punya nilai sejarah. Masjid ini didirikan atas inisiatif Pemerintah Moskow dan administrasi spiritual muslim Eropa dan Rusia (DUMER) untuk menghormati dan mengenang tentara muslim Uni Soviet yang mengorbankan nyawa mereka dalam Perang Dunia II. Sumber: Fauzan Al-Rasyid/RBTH Indonesia

Alyautdinov bercerita, ia bersyukur karena muslim di Rusia diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah suci di bulan Ramadan dengan damai. “Kami juga berdoa untuk saudara seiman kami di Suriah, Irak, Palestina dan negara-negara lain yang saat ini harus menghadapi pertumpahan darah,” kata Alyautdinov.

Tenda Ramadan

Di dekat Masjid Agung Moskow tengah berlangsung kegiatan Shatyor Ramadana, atau Tenda Ramadan. Acara tersebut dilaksanakan untuk ke sembilan kalinya tahun ini. “Semua orang boleh masuk dan mencoba makanan halal tradisional kami di sini. Tidak penting pengunjung memeluk agama apa, yang penting mereka mematuhi etika dan norma Islam, seperti berpakaian sopan dan bertingkah laku santun,” terang pengurus Central Spiritual Muslim Board of Russia Rifat Izmailov.

Dalam satu malam, Shatyor Ramadana dikunjungi tidak kurang dari 600 orang. Selain menjual makanan, setiap hari terdapat pertunjukkan budaya negara-negara Islam eks-Soviet dan daerah muslim di Rusia. Pertunjukan tersebut menjadi daya tarik acara ini. Para pengunjung tidak hanya disuguhi makanan, tetapi juga pencerahan budaya. Mereka menonton film dokumenter, mendengarkan musik nasional dan lagu yang dinyanyikan oleh para artis dari negara tetangga.

“Sampai hari ini, kami sudah menampilkan pertunjukan budaya dari Azerbaijan, Tajikistan, dan republik-republik pecahan Soviet. Penampilan dari Turki selalu ditunggu-tunggu. Selain itu, tahun ini Iran dan Qatar juga mengirim para pemusik, artis dan ahli pembaca Alquran ke acara ini,” terang Izmailov.

Izmailov menjelaskan, mereka meminjam konsep penyelenggaraan Shatyor Ramadana dari Turki. Negara tersebut menyelenggarakan acara serupa di setiap kpta selama bulan Ramadan. Kini, acara di Poklonnaya Gora pun mulai merambah ke kota-kota lain di Rusia.

Lebih Nyaman Salat di Restoran

Sejak dulu, di Moskow terdapat banyak penduduk beragama Islam dan mereka selalu menjunjung kedamaian dan kerukunan umat beragama. Mereka adalah penduduk lokal yang sebagian besar merupakan suku Tatar yang sudah tinggal di Moskow sejak ratusan tahun lalu. Ada pula pekerja imigran dari seluruh negara Asia Tengah dan republik-republik Kaukasus.

Alyautdinov bercerita, di masjid-masjid Moskow terdapat musala khusus untuk orang Arab. “Rata-rata yang datang ke musala tersebut adalah orang Suriah yang saya rasa mereka memiliki ikatan batin khusus dengan warga Rusia,” ujar mufti Alyautdinov.

Para pendatang dari Arab dan negara muslim lain tinggal dalam lingkungan tersendiri dan biasanya lebih memilih beribadah di masjid-masjid Kedutaan Besar dan musala restoran-restoran Arab.

Orang Suriah yang tinggal di Moskow kerap menjalankan ibadah salat di restoran Pasha yang terletak di Severniy. Di wilayah tersebut juga banyak pendatang dari negara belahan Timur yang bermukim.

Saat koresponden RBTH membuka pintu restoran, ia langsung dikerubungi oleh segerombolan anak kecil yang membimbingnya ke ruangan kecil di dalam restoran. Di sana, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Kuddus Mukhamed Rukhuz, biasa dipanggil Alok. Alok adalah pengelola restoran tersebut, yang ternyata merupakan restoran Bangladesh. Dalam perbincangan, Alok bercerita ada sekitar 1.200 orang asal Bangladesh di Moskow dan mereka semua tinggal di ibukota Rusia tersebut secara legal. Kebanyakan dari mereka bekerja di pasar, menjual pakaian, seprai, barang elektronik, audio, dan video.

“Kami sangat religius. Kami memiliki imam dan pembaca Alquran sendiri. Kami wajib berpuasa di bulan Ramadan, terutama pada hari Jumat, sehingga di sini (restoran) jadi sepi pengunjung,” terang Alok.

Setelah bercengkerema dengan Alok, sang koresponden keluar dan membuka pintu sebelah yang terpasang papan nama Pasha di depannya. Ia pun berbincang dengan Husein Akhmadi di sana. “Kami orang Arab, bahkan yang telah tinggal bertahun-tahun di Moskow, tetap memilih untuk sembayang di kalangan sendiri, bisa dibilang dalam lingkaran bangsa kami sendiri,“ kata Akhmadi yang terlahir sebagai orang Suriah namun sudah tinggal di Moskow selama 35 tahun. Ia sekarang bekerja sebagai tukang bangunan. “Menurut perhitungan kami, di Moskow saja ada lebih dari sepuluh ribu orang Suriah. Itu adalah komunitas Arab terbesar di ibukota. Akan tetapi kami tidak memiliki masjid kami sendiri, jadi kami terpaksa menyewa tempat yang berbeda-beda untuk melaksanakan ibadah,” ujar Akhmadi.

Masalah masjid bukan hanya krusial bagi orang Suriah saja. “Ini adalah hal yang sulit. Kami benar-benar kekurangan masjid, pusat pendidikan dan budaya, tempat kami dapat memberi pencerahan orang banyak, menolong mereka memperbaiki cara berpikir dan bertindak,” keluh Alyautdinov. “Sayangnya, banyak pendatang muslim yang datang ke Moskow kehilangan prinsip moralnya. Mereka mulai bersikap kasar dan tidak sopan terhadap penduduk lokal di pasar maupun kendaraan umum. Oleh karena itu, tidak heran para penduduk asli Moskow menentang pembangunan masjid di dekat tempat tinggal kami,” tutur Alyautdinov. Ia menambahkan, muslim di Rusia harus mengubah mental spiritual mereka terlebih dahulu. Namun, tentu hal itu membutuhkan waktu dan kesabaran.

Tak Cukup Masjid, Idul Fitri di Jalanan

Sang mufti mengaku agak khawatir terkait perayaan Idul Fitri tahun ini. “Saya menunggu berakhirnya ibadah puasa dan kedatangan Idul Fitri dengan perasaan was-was, karena ribuan umat muslim akan datang ke masjid-masjid Moskow, jalanan akan dipenuhi oleh kendaraan dan palang-palang. Bagi kami para tokoh agama, perayaan ini akan menjadi hal yang sulit,” ujar Alyautdinov.

Menurut data RIA Novosti, pada 2013 lalu, Idul Fitri dirayakan langsung di jalanan kota Moskow oleh 149 ribu umat Islam, sementara di tahun 2012 mencapai 170 ribu orang.

 

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.