Lonceng Gereja Rusia, Kembali Berdenting dalam Tradisi Kuno

Lonceng-lonceng gereja, yang dentingnya biasa terdengar ke seantero desa Rusia, membisu selama era Soviet. Kini, dentingan klasik itu dihidupkan kembali.

Voronezh adalah salah satu kota di Rusia yang memproduksi kemabli lonceng-lonceng gereja sejak runtuhnya Uni Soviet. Foto: Grigory Kubatian

Lonceng gereja selalu memiliki makna khusus di Rusia. Suaranya mengingatkan bangsa Rusia akan peristiwa-peristiwa penting, dari pesta rakyat hingga kebakaran.

Ketika kaum Bolshevik mulai menghancurkan lonceng-lonceng gereja setelah Revolusi 1917, mereka tidak hanya melakukan tindakan perusakan, tetapi juga perbuatan yang bertujuan suram dan profetik. Sejak itu, Rusia kehilangan suara lonceng gereja untuk waktu yang lama. Selama masa Uni Soviet, lonceng-lonceng Rusia tidak bersuara. Mereka dibelah, diturunkan, dikirim ke luar negeri, atau dipindahkan ke gereja-gereja kecil di pelosok terpencil.

Kini produksi lonceng di Rusia sedang berusaha dihidupkan kembali. Salah satu kota tempat karya seni kuno ini kembali diproduksi ialah Voronezh.

Pada 1989, wirausahawan lokal bernama Valery Anisimov membuka tempat pengecoran di luar kota. Sejak saat itu, ia telah mencetak lebih dari 20.000 lonceng. Tempat pengecoran Anisimov (55) diberi nama Vera (yang berarti ‘keyakinan’), sama seperti nama istrinya dan sebagai penghormatan terhadap agama Kristen.

Anisimov mendirikan pabriknya di Shilovo, sebuah desa dekat Voronezh. Ia memiliki beberapa bengkel, sebuah kantor administrasi, perapian untuk melumerkan perunggu, cetakan besi, alat konstruksi Caterpillar, dan sebuah jembatan derek (bridge crane) besar yang sudah berkarat, yang perlahan berderak di sepanjang jalurnya.

Pemandangan itu tampak seperti adegan penutup film Hollywood. Anisimov bercerita sebelumnya tempat ini hanya berupa pasir. “Saya yang membangun semua ini,” ujar Anisimov. Di tengah halaman pabrik terdapat sebuah lonceng perunggu besar berbobot lebih dari 16.000 kilogram, setara dengan empat mobil van berisi 15 penumpang.

Para pekerja bergerombol di sekitar kubah perunggu besar, seperti lebah merubungi tetesan madu. Mereka memalu, menggores, dan memoles. “Pada zaman dulu mereka butuh hingga enam bulan untuk menyelesaikan sebuah lonceng hias, agar membuatnya sangat sempurna. Kini kami harus melakukan semua itu dalam satu hari,” kata Anisimov.

Meski Anisimov jengkel pada pelanggan yang memberi waktu sangat singkat untuk menyelesaikan pekerjaan, ia benar-benar merasa bangga. Ia tahu bahwa para pekerjanya bisa menyelesaikan lonceng tersebut dalam satu hari.

Anisimov baru saja membangun sebuah bengkel baru. Ia berencana memperluas bisnisnya, tidak hanya mencetak lonceng, tetapi juga baling-baling untuk kapal laut. Ia memajang sebuah model Lego baling-baling tersebut di kusen jendela. “Kami akan membuat baling-baling dan lonceng terbesar di dunia,” kata Anisimov.

Bagi Anisimov, tahun-tahun pertama bisnisnya adalah masa-masa tersulit. Ia harus memulai dari awal. Anisimov mengawali bisnisnya tanpa pengalaman dan pengetahuan. Ia mempelajari bermacam keahlian yang diperlukan untuk membuat lonceng dari sebuah buku yang diterbitkan di awal abad 20. Sekarang produksi lonceng bisa dianggap berteknologi tinggi.

Model untuk setiap lonceng yang baru dikalkulasi dengan komputer dan ikonnya yang dilukis oleh seniman di atas lilin dipindai dan dimasukkan dalam database, kemudian sebuah mesin laser memahatnya sesuai ukuran yang diinginkan ke permukaan yang telah disiapkan.

Anisimov menyatakan bahwa bisnis lonceng tidak begitu menguntungkan tetapi “baik bagi jiwa.” Untuk dapat terus bekerja, ia harus mempertahankan harga yang rendah. Ia tidak membeli perlengkapan buatan Barat yang mahal karena itu dapat menjadikannya budak bank. Sebagai gantinya, dia membuat perlengkapan serupa dari barang-barang lawas bekas Soviet dan membuat perlengkapan itu berfungsi persis seperti perlengkapan buatan Barat.

“Saya harus melakukan semua ini dengan sepersepuluh jumlah uang yang biasanya diperlukan. Sebagai contoh, untuk mengangkat sebuah lonceng yang superberat ke atas sebuah truk, Anda perlu menyewa sebuah derek Liebherr dari kota dengan biaya 650.000 rubel (21.000 dolar AS) sehari. Atau, Anda bisa menyewa lima sopir traktor yang masing-masing bertarif 1.000 rubel (40 dolar AS).”

“Gereja tidak pernah membayar lonceng-lonceng mereka,” lanjut Anisimov. “Lonceng-lonceng itu dibayar oleh ‘kelas kaya baru Rusia’ dan ‘sponsor’ lain. Sementara itu, para perantaralah yang mengelola uangnya: yayasan-yayasan serta Kementerian Kebudayaan semua bertindak sebagai perwakilan.”

Lonceng-lonceng Rusia lebih berat dibanding lonceng buatan Eropa, dan petugas lonceng Rusia tidak mengayunkan seluruh bagian lonceng, hanya bandulnya saja; karena jika Anda mengayunkan lonceng perunggu raksasa terlalu kuat, menara lonceng bisa runtuh.

Semakin besar loncengnya, semakin rendah nadanya dan semakin jauh suaranya terdengar. Meski demikian, hampir tidak mungkin membuat sebuah lonceng yang cukup berat untuk dapat didengar di tengah keriuhan lalu lintas kota-kota besar Rusia.

Sumber: YouTube

Artikel Terkait

Memancing di Musim Dingin, Hobi Unik Orang Rusia

Minat Orang Rusia Terhadap Praktik Perdukunan Meningkat

Uniknya Tradisi Natal yang Ada di Rusia

Meramal Masa Depan Saat Natal Ortodoks

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.